Dandelion Motel

Dandelion Motel
Pria di Balik Jeruji Besi


__ADS_3

Leon memasukan bubur buatan Rosaline dan bibi Ema ke mulutnya dengan was-was, lalu mengunyahnya perlahan.


Ia belum menemukan rasa yang aneh. Lidahnya masih mencoba berkompromi dengan merasakan di mana letak keganjilan masakan mereka. Namun tidak ada.


Voila!


Bubur sayur buatan istri dan ART-nya ternyata enak.


Bahkan sangat enak.


"Wah! Rasanya enak! Sangat enak!" Leon menyendok lagi bubur di mangkuknya dan memakannya dengan sangat lahap.


Rosaline dan ART-nya saling pandang dengan senyuman lebar.


"Tidak usah bereaksi berlebihan, sayang...! Sudah terbukti, kan? Masakanku memang selalu enak!" Rosaline berbangga diri dan Leon mengangguk seraya tersenyum.


Andai istrinya tahu jika setiap masakannya sebelum ini terasa seperti sebuah pembantaian.


"Kau mau lagi?" tanya Rosaline.


"Tentu saja! Aku akan menghabiskannya sampai tak tersisa." ucap Leon menyodorkan mangkuknya yang sudah kosong.


.


.


.


"Kau mau ke mana?" Rosaline memeluk manja Leon yang sedang menyisir rambutnya di depan cermin.


"Aku harus mengurus sesuatu di kantor!" jawabnya sambil mengusap rambut Rosaline dengan sayang.


"Aku bilang istirahat saja hari ini!" Rosaline merajuk.


"Sudah beberapa hari aku tidak masuk kantor, pekerjaanku akan semakin menumpuk kalau terus ditunda. Apa kau mau setelah hari ini aku pulang sampai larut?" Leon mencoba meyakinkan.


Padahal sebenarnya tujuan utamanya keluar adalah mengunjungi Jason di penjara.


"Aku ikut, ya! Aku bosan. Dante sepertinya kuliah, William juga tidak ada, aku jadi kesepian di rumah. Boleh, ya? Ya? Ayolah!"


"Tidak boleh! Kau harus istirahat! Iya kan, anak ayah sayang? Ibumu harus beristirahat dan berhenti berkeliaran!" Leon menunduk dan berbicara dengan perut Rosaline.


"Aaiiiiisssh, dasar sia...."


"Yakk..!" Leon melotot dan Rosaline langsung menutup mulutnya.


"Baiklah, aku tidak akan ikut. Tapi kau jangan pulang terlalu malam. Oh ya, aku ingin pizza! Bawakan aku pizza!"


"Eh, pizza?" tiba-tiba Leon teringat mimpi buruknya.


"Kenapa wajahmu begitu? Kau tidak mau membelikanku pizza?"


"Eh iya, iya! Aku pasti akan membelikannya."


"Oh iya, listrik di rumah kita sedikit bermasalah. Sepertinya kita harus manggil seseorang untuk memperbaikinya."


Leon mendadak pucat, ia kembali teringat dengan mimpinya.


"Eh...i..iya.." jawabnya terbata.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Tidak! Tidak apa-apa! Hmm, Rosaline...."


"Ya?"


"Apa sebaiknya kita pindah rumah saja ke apartement yang lebih dekat dengan kantorku? Lingkungan perumahan di sini terasa menakutkan kalau malam, juga jarak rumah kita dengan rumah yang lain lumayan jauh. Bagaimana kalau tidak ada siapapun di rumah saat perutmu mulas? Bibi Ema hanya bekerja sampai sore hari, dia tidak bisa menginap di rumah kita.Kalau kita pindah, kau bisa meminta tolong ke tetangga."


Rosaline terdiam, ia berpikir.


"Tunggu! Kenapa aku harus minta tolong ke tetangga? 2 bulan sebelum aku melahirkan kau tidak boleh ke mana-mana! Kalau perlu aku akan mengikat kaki dan memborgol tanganmu!" kata Rosaline polos namun serius. Membuat Leon tergelak.


"Iya...iya...terserah kau saja, nyonya!" Leon mengecup dan memeluk istrinya dengan gemas.


.


.


.


Sebuah pintu terali besi terbuka dan wajah yang semalam muncul di mimpinya seketika menjelaga dengan sangat nyata.


Jason nama pria itu!


Leon mendadak gemetar, bukan karena takut. Ia hanya teringat bagaimana pria itu mendorong Rosaline dan membunuh anak mereka.


"Leon?" Jason mengumbar senyuman licik khasnya.


Ia melipat siku dan duduk santai menatap ke arah Leon.


"Aku tidak akan berbasa-basi! Jika kau mengganggu keluargaku lagi, aku tidak akan tinggal diam! Tidak peduli kau di dalam penjara atau di manapun, aku akan mendatangimu dan membuat perhitungan!" ancam Leon berapi-api, namun Jason malah tertawa.


"Hahaha....keluarga, hah? Keluarga yang mana? Rosaline adalah calon istriku, dia kekasihku! Ayahnya sendiri yang telah memberikannya untukku, dia milikku!"


"Dasar baji***n! Siapa kau berani menilaiku, hah? Apa kau pikir aku tidak bisa membunuhmu dari dalam sini? Aku juga lebih dari sanggup membunuh Dante si bocah sialan itu dan semua orang yang ada di sisi Rosaline. Agar ia tidak memiliki siapapun dan hidup sendirian lalu akhirnya datang padaku!"


Leon mengepalkan tangan, menahan amarahnya dengan gemetar. Ia ingin memecahkan kaca pembatas yang menghalangi mereka dan mencekik pria jaha**m itu.


"Aku tidak peduli bagaimana caramu menyuruh seseorang meneror kami! Tapi jika kau mengganggu istri dan calon anakku lagi, aku akan mengirimmu ke neraka dengan tanganku sendiri!" Leon menggebrak kaca pembatas diantara mereka hingga Jason tersentak.


Ia lantas pergi begitu saja meninggalkan Jason yang masih terkesiap oleh tindakan dan ucapannya.


"Istri? Calon anak? Jadi mereka sudah menikah dan Rosaline hamil? Rosaline kenapa kau mengkhianatiku? Yakk, dasar Leon bedebah!!!" teriak Jason histeris.


.


.


.


Hujan.


Sama seperti di mimpinya, cuaca hari ini hujan. Leon menunggu pizza pesanannya dengan resah.


Sekitar 15 menit kemudian seorang pelayan datang dengan 2 kotak pizza pesanannya.


Jantung Leon terasa berdegup keluar irama saat mobilnya sampai di halaman rumah yang gelap gulita. Di luar hujan merabas deras meski tidak diiringi petir.


Rasanya seperti mengalami dejavu dari alam mimpi. Ia buru-buru turun dari mobil dengan menenteng 2 kotak pizza pesanan istrinya.

__ADS_1


Saat kakinya sampai di muka pintu, suara teriakan menghampiri gendang telinganya.


Mungkinkah?


Leon bergegas masuk dengan gugup.


"Rosaline...Rosaline...sayang! Kau di mana?" teriaknya, menerobos kegelapan rumah yang hanya diterangi nyala lilin.


Ia mendengar suara teriakan dan gaduh lagi, jelas asalnya dari ruang keluarga.


Leon segera memacu langkahnya ke sana, dan ia sampai di depan pintunya yang terbuka lebar.


"Ros....." Leon berhenti memanggil. Ia terdiam melihat Rosaline, Dante, William, Daniel dan karina yang sedang asyik bermain kartu.


Suara jeritan dan kegaduhan itu ternyata bukan sebuah ancaman, melainkan tawa keceriaan mereka.


"Sayang..." Rosaline menyadari kehadiran suaminya.


Disusul semua orang yang menatap menyambut kedatangnya.


Si kecil William bahkan berlari memeluknya.


"Paman, aku merindukanmu...!" teriaknya.


Leon langsung memeluk dan menggendongnya.


"Aah, Paman senang kau datang!" Leon mencium pipinya yang gembul lalu menghampiri Rosaline.


"Ini!" ucapnya sambil menyodorkan 2 kotak pizza disambut tepuk tangan ceria Dante dan William.


"Horeeee...pizza! pizza! Kak Leon tahu saja aku sedang lapar!"


"Apa-apaan kau? Ini punyaku!" ujar Rosaline.


"Kak, kau tidak boleh pelit! Nanti kuburanmu sempit!"


"Kau menyumpahiku mati, hah?"


"Itu yang selalu orang-orang katakan!"


"Tetap saja! Apa kau harus mengatakan itu pada kakakmu?"


"Kalian? Hmm...." Leon memelototi istri dan adik iparnya.


Daniel dan Karina tampak bingung menyaksikan pertengkaran kekanakan keduanya, sementara William cekikikan seperti biasa.


Akhirnya ia bisa melihat drama keluarga Dandelion lagi.


Drama yang akan dirindukannya.


"Yang ini milikku, yang itu terserah!" Rosaline meletakan sekotak pizza ke meja.


Dante membuka kotak pizza itu dan menawarkan kepada William, Daniel dan Karina.


"Jika punya makanan, kakak harus menawarkannya kepada orang di sekeliling kakak juga! Kita tidak hidup sendirian, kita harus berbagi!" nasehat Dante yang ditanggapi Rosaline dengan tatapan malas.


"Aaiiisshh, cerewet!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2