
Dan faktanya,
Sebelum menikahi Anna, Sam pernah menikah dengan Mary yakni ibu kandung Leon.
Tapi setelah menikah selama 5 tahun mereka masih belum juga dikaruniai seorang anak.
Orang tua Sam yang sangat ingin segera memiliki cucu akhirnya berhasil membuat mereka bercerai, tapi walaupun begitu mereka masih saling mencintai.
Sam akhirnya dijodohkan dengan Anna, dan benar saja baru 1 bulan mereka menikah Anna sudah memberi kabar baik pada orang tua Sam.
Setahun kemudian Mary mengandung anak Sam meskipun mereka sudah bercerai.
Nasi sudah menjadi bubur, walaupun dalam keadaan mengandung mereka tetap tidak bisa kembali bersama. Orang tua Sam lebih mengakui Anna dan anaknya.
Segala cara mereka lakukan untuk memisahkan Mery dan Sam. Akhirnya Mary yang mengalah, dia lebih memilih pergi meninggalkan Sam dan bersembunyi.
Seolah kemalangan tidak mau pergi darinya, di tengah kehamilannya Mary divonis kanker dan harus memilih antara melakukan pengobatan atau mempertahankan janinnya.
Karena kecintaannya pada anaknya Mary lebih memilih untuk melahirkan Leon. Tak lama setelah itu Mery pergi, meninggalkan lenggang dunia menuju ke nirwana.
Selepas kepergian ibunya, Leon kecil tinggal di panti asuhan sampai Billy menjemputnya untuk pertama kali saat usia 9 tahun.
Hanya sedikit orang yang tahu fakta itu, kebanyakan orang percaya bahwa Leon adalah anak dari wanita penggoda.
Bahkan Leon kecil pun berpikiran demikian, ditambah nenek dan kakeknya yang tidak pernah bisa menerimanya dan selalu menyebutnya anak haram sampai akhir hayat mereka.
.
.
.
Jika kalian bertanya apa yang paling Mary takuti setelah perceraiannya dengan Sam, jawabannya adalah menjalani hidup.
Mary yang merupakan yatim piatu sangat takut menjalani hidup sendirian, dan tanpa Sam dia hanya sebatang kara.
Ia selalu penasaran bagaimana rasanya mati, sebab hidup tak membuatnya merasakan apapun.
Jika ia masih hidup sampai saat itu bukan karena ia seorang pengecut atau peragu. Ia hanya beruntung sebab ia sudah beberapa kali mencoba bunuh diri, entah dengan obat tidur atau berbotol-botol minuman keras.
Baiklah, ia memang sedikit pengecut. Ia tidak suka kematian tragis. Ia ingin pergi bak seorang putri, di atas ranjang yang hangat dengan wajah yang cantik tanpa luka.
Sayangnya kematian memang menggelikan. Ia penipu ulung yang tak mau datang ketika dirayu. Dan ia tamu tak diundang yang merampas Mary dalam ketiadaan saat ia ingin selalu ada bagi anaknya.
Mary tak pernah merasa hidup hingga saat itu, saat bayi kecil itu menendang perutnya.
Dari sebiji kacang hijau, tumbuh menjadi sebesar apel, lantas perlahan menjelma menjadi raga dan ruh.
Betapa hidup begitu ganjil. Apa karena Tuhan itu ganjil hingga ia menyukai hal yang ganjil?
Sejak saat itu dia selalu berdoa agar berumur panjang untuk bisa melihat anaknya tumbuh dan melimpahinya dengan banyak cinta, namum siapa yang bisa mencoba mencium aroma kematian? Siapa yang mampu berteman dekat dengannya dan mengerti jalan pikirannya?
Tidak ada.
__ADS_1
Hanya Tuhan!
.
.
Leon terduduk lemas di tepi ranjang, sekujur tubuhnya gemetar. Untuk pertama kali dia merindukan dan menangisi ibu kandungnya.
Ibu Anna memberikan sesuatu yang sedari tadi dia pegang, sebuah pigura kecil. Photo pernikahan Mery dan Sam, orang tua kandungnya.
Tangisnya semakin pecah. Setelah sekian lama dan untuk pertama kalinya dia bisa melihat wajah ibunya, dia merengkuh pigura itu dengan erat.
Ibu Anna membiarkan Leon melepaskan emosi yang ada dalam hatinya sebelum akhirnya memeluk pria itu dan menenangkannya.
.
.
.
Rosaline yang dari tadi asik mengobrol dengan pak Sam baru menyadari kalau Leon masih belum kembali saat terakhir dia ijin ke kamar kecil.
Dia mencoba menghubungi Leon lewat ponselnya tapi ponsel pria itu ada di dalam saku jasnya yang kini ada di sampingnya.
Leon akhirnya datang bersama ibu Anna, wajah pria itu sedikit pucat dan terlihat seperti sudah menangis.
Rosaline dan pak Sam berdiri dari duduknya dan saling menatap penasaran apa yang telah terjadi padanya.
"Ayah, aku minta maaf." ucapnya tiba-tiba memeluk pak Sam sebelum ayahnya itu sempat bertanya.
Pak Sam sudah tak penasaran lagi seolah sudah mengerti segalanya, dia membalas pelukan Leon dengan lebih erat.
Ayah dan anak itu menangis bersama, ibu Anna dan Rosaline hanya jadi penonton dan kedua wanita itu juga ikut terharu bersama mereka.
.
.
.
Selesai makan malam sebenarnya Leon dan Rosaline hendak pamit pulang tapi ibu Anna meminta mereka untuk tetap tinggal sebentar lagi.
"Kakakmu Daniel sedang dalam perjalanan kemari, sapa lah dia selagi kalian datang ke sini. Dia selalu menanyakan kabarmu, dia juga sangat merindukanmu." ujarnya.
Leon sebenarnya masih canggung untuk bertemu dengan Daniel kakaknya, tapi dia tidak bisa menolak permintaan ibunya itu.
Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Daniel yang sudah tahu kedatangan Leon menyapanya dengan senyuman.
.
.
.
__ADS_1
Sebenarnya kebencian Daniel pada Leon sudah lama berlalu, itu hanya bagian sikap kekanak-kanakannya dan dia menyadari itu.
Dulu dia sempat marah pada Leon karena insiden kebakaran itu. Pasalnya setelah menyelamatkan Leon, ibu Anna mengalami luka bakar yang cukup serius dan itu membuat Daniel syok sehingga dia melampiaskan kemarahannya pada Leon.
Leon yang masih kecil sangat terluka dengan perlakuan kakaknya, selain itu perasaan bersalah yang sangat besar membuatnya menjadi rendah diri dan berusaha menjauh dari keluarganya.
Beranjak remaja dia memutuskan sekolah di luar negeri bahkan setelah pulang ke negara asalnya pun dia memutuskan untuk tinggal terpisah dengan mereka.
.
.
.
"Wah...Leon kau tumbuh dengan sangat baik. Lihatlah bu, bahkan dia sudah lebih tinggi dariku." ujarnya memecah kecanggungan.
Leon hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
"Siapa wanita cantik ini? Apa dia pacarmu?" tanyanya.
"Iya kak, kenalkan dia Rosaline calon istriku." jawabnya masih canggung.
"Hallo, saya Rosaline." Rosaline mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, pria itu membalas uluran tangannya dan tersenyum ramah.
"Aku Daniel kakaknya Leon." balasnya.
"Kakak dengar kau sedang merintis perusahaan mu sendiri. Wah...kau sungguh hebat. Aku sangat iri pada kesuksesanmu. Sepertinya aku harus belajar banyak darinya, bu." ujarnya lagi.
"Iya, kau harus belajar dari adikmu karena kau sangat lamban." jawab ibu Anna.
.
.
.
Hari ini suasana di rumah itu benar-benar pecah. Semua orang mengesampingkan egonya. Tawa, canda, sedih, haru bercampur menjadi satu.
Ibu Anna dan pak Sam merasa lega karena semua kesalahpahaman di keluarga mereka sudah terselesaikan.
Leon bahagia mendapatkan kembali keluarga yang selama ini dia rindukan.
Dan Rosaline senang telah menjadi bagian dari kebahagiaan keluarga itu.
Andai ibunya ada bersamanya saat ini, mungkin kebahagiaannya akan menjadi lengkap.
"Ibu, kau di mana?" batin Rosaline.
.
.
.
__ADS_1
"Berbaik hati lah karena setiap orang yang kita temui sedang bertarung dalam peperangan yang tidak kita ketahui."