
Keesokan harinya.
William memeluk Leon dan Dante secara bergantian, lalu saat tiba giliran Rosaline, ia nyaris tak mau melepaskannya.
Bocah tampan itu menangis, ia akan sangat merindukan si bibi dan si paman galak yang tak pernah ragu untuk membelanya itu.
Tangis Rosaline juga ikut pecah.
"Terima kasih bibi...Aku akan merindukan kalian..."
Menyaksikan mereka, semua orang jadi menitikan air mata.
Leon menggeleng haru melihat mereka berdua sudah seperti ibu dan anak yang tidak mau dipisahkan.
Setelah William cukup tenang, Rosaline melepas pelukannya. Ia mencium keningnya dan menggandeng William menuju Daniel dan Karina yang sudah menunggu di samping mobilnya.
Mereka mengucapkan terima kasih sekali lagi pada Leon, Rosaline dan Dante.
Dari balik kaca mobil, William melambaikan tangan. Sampai akhirnya mobil itu menghilang di ujung jalan.
"Kita pasti akan bertemu lagi dengan mereka. Kak Daniel bilang mereka akan sering berkunjung." Leon menghibur Rosaline.
Rosaline mengangguk, ia tersenyum dan mengusap air matanya.
.
.
.
Rosaline menatap kaget pada sebuah gambar berpigura yang tergantung di ruang tamu.
Itu gambaran William!
Ia baru menyadari keberadaannya. Sejak kapan gambar itu tergantung di sana?
Nara mengambil gambarnya bersama Leon, Rosaline dan Dante.
"Ia akan jadi pelukis atau setidaknya ilustrator hebat!" puji Rosaline, terpesona.
"Dante, kau tahu soal ini?"
"Ya, aku yang menggantungnya di sana!"
"Aku akan sangat merindukannya..." desah Rosaline.
"Aku juga akan merindukannya. Dia sudah jadi temanku, aku jadi tidak punya teman ngobrol dan nonton tv lagi sekarang." kata Dante sambil merebahkan diri di sofa.
"Aku akan menemanimu nonton." ucap Rosaline duduk di sampingnya.
"Tidak, tidak! Kakak selalu berisik dan banyak bertanya saat menonton! Aku lebih baik nonton sendiri!" ucap Dante.
Leon yang juga ikut duduk tertawa menyaksikan wajah istrinya yang kesal karena telah ditolak mentah-mentah.
"Yakk, Dante! Teganya kau!" Rosaline mengejar Dante yang lari naik tangga.
"William lebih menyenangkan dari pada kakak!"
"Kau ingat siapa yang merawatmu dari kecil? Memangnya siapa yang selalu menjaga dan memperhatikanmu kalau bukan aku, hah?"
"Tetap saja, aku lebih menyukai William!"
"Yakk, bocah sialan!"
Leon menggeleng melihat kelakuan istri dan adik iparnya.
Ia menghampir Rosaline, menunduk sambil mengelus perutnya.
__ADS_1
"Lihat kelakuan ibumu, sangat kekanakan! Kau harus lebih menyukai ayah dari pada ibu, ya!" bisiknya.
"Dasar srigala licik! Kau berusaha mempengaruhi anakku, hah?"
"Tidak! Kau harus lebih menyukai ibu." tak mau kalah sambil menghempaskan tangan Leon dari perutnya dan menggantikannya dengan tangannya.
Leon terkekeh dan mencubit gemas hidung Rosaline.
"Aaakkk, dasar bangs*t!!!"
"Yakk, bangs*t kau bilang? Kau harus dihukum, dasar penyihir!" Leon tiba-tiba menggendong Rosaline dan menculiknya ke dalam kamar.
Tenta saja kali ini mereka tak lupa mengunci pintunya.
.
.
.
Leon mendudukan Rosaline di atas ranjang dengan senyuman licik.
"Bagaimana ini? Kau sekarang tidak bisa kabur, nona penyihir! Aku sudah menutup semua pintu gerbang dan mengurungmu di istanaku!"
"Ah, bagaimana ini? Aku jadi takut! Apa kau akan memakanku hidup-hidup, tuan siluman serigala yang tampan?" Rosaline pura-pura ketakutan.
Ia mengalungkan tangannya di leher Leon yang menunduk menatapnya.
"Tergantung padamu!" Leon berbisik.
"Apa yang harus ku lakukan?" tanya Rosaline sok polos.
"Jika kau baik padaku, mungkin aku akan mengampunimu!" Leon berbisik lagi.
"Sungguh? Kau sungguh akan mengampuniku? Tapi....sejujurnya aku tak suka diampuni." Rosaline menyeringai licik.
Dan perlahan, bibirnya mulai menari di atas leher istrinya.
Rosaline menggeliat dan mendesah merasakan sapuan bibir Leon yang hangat dan basah.
"Hukum aku....!"
Rosaline menangkap wajah suaminya, mengangkatnya dari lehernya dan mencumbu bibir manisnya.
Leon memegang belakang kepala Rosaline dan membaringkannya perlahan ke atas bantal sambil terus mencumbunya.
Haruskah?
Haruskah ia melakukannya sekarang?
Mereka berhenti berciuman, mengambil jeda untuk bernafas.
Leon memandangi paras rupawan istrinya. Ia tenggelam....tenggelam dalam manik jernihnya yang tajam membius dan berlabur candu.
Dibelainya pipi halus Rosaline dengan lembut.
"Kau....sangat cantik." ucap Leon tanpa sadar dan Rosaline tersenyum.
Ia balas membelai wajah suaminya dan menatapnya lekat-lekat.
"Jadi...hukuman apa yang akan kau berikan padaku, tuan Leon?"
Leon tersenyum. Dikecupnya kening Rosaline dengan lembut.
Lalu ia manempelkan telinganya di atas perut istrinya dengan hati-hati.
Ia tahu, mereka tidak boleh 'bermain' dengan sembarang sebab ada Leon dan Rosaline kecil di dalam sana.
__ADS_1
Jujur saja, Leon masih tidak percaya bahwa dalam beberapa bulan ke depan ia akan menjadi seorang ayah.
Ada kebahagiaan membuncah-buncah yang menyergapnya setiap kali memandangi paras manis Rosaline, tak peduli betapa menyebalkan wanita itu atau betapa aneh kelakuannya.
Ia tak sabar, sungguh tak sabar namun juga gugup dan juga sedikit takut.
Bisakah ia menjadi ayah yang baik? Mengingat buruknya hubungannya dan ayahnya dulu.
Leon mengecup pelan perut istrinya, ia berjanji akan melakukan hal terbaik yang bisa ia lakukan sebagai seorang ayah.
Segala hal terasa sempurna, ia tak mau apapun lagi. Hidupnya sudah lengkap, sangat lengkap.
"Apa yang kau pikirkan, tuan serigala? Apa kau tak jadi menghukumku? Padahal aku sudah sangat ingin dihukum!" Rosaline memberikan senyuman manis menggoda.
Mendengar itu, Leon mendadak terkekeh.
Ia merebah dan merengkuh tubuh istrinya lebih dekat.
"Meski dokter bilang tak masalah untuk melakukannya, tapi aku akan menahan diri! Setidaknya sampai usianya lebih dari 3 bulan. Aku takut menyakiti kalian." ucap Leon manis sekali.
Rosaline jadi terharu sendiri.
"Tapi aku ingin mengganti hukumannya!"
"Menggantinya? Baiklah! Apa? Katakan saja! Aku akan melakukan apapun untukmu, suamiku!" bisik Rosaline tepat di telinga Leon hingga membuatnya tergelak kegelian.
"Ceritakan aku dongeng! Dongeng yang bagus, kau pandai melakukannya!" Leon membalas bisikannya.
Keduanya tergelak bersama, begitu mesra.
Rosaline lantas terdiam, ia berpikir sejenak lalu menyunggingkan ujung bibirnya dengan licik.
"Karena kali ini pendengarku sangat istimewa, sepertinya aku harus membacakan dongeng yang berbeda! Kau siap mendengarnya, tuan Leon?"
Dan Leon mengangguk dengan seringai tipis penuh arti.
"Baiklah...hmm...dahulu kala, ah aku bosan dengan pembukaan dongeng yang seperti itu! Kita ulangi lagi!
Sekitar beberapa bulan yang lalu, di dalam keremangan hutan, hiduplah seorang siluman serigala licik yang tampan. Ia terobsesi pada seorang penyihir cantik yang kesepian. Dengan segala cara ia lakukan untuk menaklukan hati penyihir itu.
Ia memberikan bunga hingga menyatakan cintanya di hadapan semua orang, namun penyihir cantik itu tak tergoyahkan. Hingga suatu ketika siluman serigala itu menemukan taktik lain. Alih-alih menyatakan cintanya, ia menunjukan kesedihannya.
Dan hati lembut sang penyihir pun tersentuh. Ia mulai bersimpati dan mau berteman dengannya. Perlahan ia merasakan kehangatan dan tak lagi kesepian. Sayangnya, alih-alih menunggu cinta itu tumbuh dan menguat, si serigala licik itu malah menjebaknya.
Ia mencampur minuman penyihir itu dengan ramuan tidur secara diam-diam.
Sang penyihir cantik itu jatuh tertidur, ia membawanya ke kamar, melucuti pakaiannya satu-persatu hinggal polos tak tersisa. Lalu ia menyentuhnya....dari dada.....hingga...."
Rosaline berhenti dengan seringai licik penuh arti. Tangannya bergerak menjelajahi tubuh suaminya dari dada, hingga....
.
.
.
Tarik nafas dulu, yukkk.....! wkwkkwkw
LOL
Adegannya masih panjang. Tadinya mau dibikin dalam 1 bab, cuma kepanjangan. Sengaja dibikin nanggung biar gak bengek!
Sampai sini, ada yang masih setiakah sama cerita ini?
.
.
__ADS_1
.