Dandelion Motel

Dandelion Motel
Kerinduan


__ADS_3

...WARNING 21+...


...Buat adik-adik yang masih di bawah umur tolong bijak ya!...


...Maaf juga buat yang kurang nyaman bisa langsung di'skip, oke!...


Sekitar 30 menit kemudian Leon kembali dengan 2 kantong plastik di tangannya.


"Sayang..., apa kau sudah tidur? Makan malamnya sudah datang!"


Leon menaruh makanan itu di atas meja dan menghampiri istrinya yang rupanya sudah terlelap.


"Ayo bangun dulu! Kau harus makan!" Leon mengusap-usap lengan istrinya agar bangun.


Perlahan Rosaline terjaga.


"Ayo makan!"


"Aku ngantuk! Suapi aku!" Rosaline merajuk.


"Aih, istri siapa ini? Manja sekali! Ckckck..."


"Aku tidak mau makan kalau tidak disuapi!"


"Baiklah! Baiklah, nyonya! Aku akan menyuapimu!" Leon mencubit gemas hidung istrinya.


"Aaaakkk!" Rosaline berteriak kesal tapi kemudian ia tersenyum.


Mereka lantas makan sesendok berdua.


Setelah menyuapi istrinya, kemudian Leon akan makan. Begitu terus secara bergantian.


.


.


.


Keesokan paginya.


Leon baru selesai mandi saat melihat Rosaline masih terlelap tidur.


"Sayang... ayo bangun!" Leon mencoba membangunkan Rosaline dengan mengusap lembut pipinya.


Perlahan Rosaline terbangun, ia tersenyum saat pemandangan pagi pertama yang dilihatnya adalah wajah suaminya.


Ditariknya tangan pria itu hingga ikut berbaring di sampingnya. Dipeluknya ia dengan mesra dan manja.


"Hmmm... kau baru mandi, ya? Aku suka baumu, sangat suka!" bisik Rosaline dengan mata terpejam.


"Ayo cepat bangun dan siap-siap! Kita ada pemotretan hari ini." Leon mengusap-usap punggung istrinya.


"Sebentar, aku masih ngantuk! Aku malas mandi." Rosaline tak mau melepaskan pelukannya.


Leon tiba-tiba teringat curhatan Daniel kakaknya soal Karina istrinya yang tak mau seranjang dengannya saat hamil dan bersyukur, Rosaline malah jadi semanja ini.


Jujur, ketika Rosaline manja itu adalah favoritnya.


"Mau ku mandikan?" tanya Leon membuat mata Rosaline membelalak seketika.


"Kau serius?" tanyanya.


"Hmmm" Leon mengangguk.


.


.

__ADS_1


.


Leon menurunkan Rosaline dari gendongannya di kamar mandi mereka yang berkonsep alam terbuka, di mana padanan shower dan pepohonan menciptakan suasana asri nan harmoni yang mampu merelaksasikan tubuh juga hati.


"Kau belum membuka bajuku?" protes Rosaline.


"Lepas bajumu sendiri, karena aku akan melepas bajuku." Leon menyeringai licik.


Rosaline tergelak sembari menggelengkan kepala mendengar itu.


"Bukankah kau sudah mandi tadi? Ah... jadi seperti ini, tuan Leon? Apa sekarang sudah waktunya? Atau suasana tempat ini yang mengubah mood mu dan kau tak bisa menahan diri lagi?" Rosaline tersenyum menggoda.


Leon mendekat. Ia menaruh kedua tangannya di atas bahu Rosaline dan memandangnya lekat-lekat.


"Mungkin kau alasannya. Mungkin karena aku sudah sangat merindukanmu." bisiknya.


"Aish, kau memang siluman serigala yang licik!"


Sepasang suami istri itu lantas berlomba melepaskan semua pakaiannya seolah bertaruh siapa yang berani telanjang lebih dahulu.


Dan Rosaline pemenangnya.


Tentu saja!


Ia hanya perlu meluncurkan gaun malam dan pakaian dalamnya ketika Leon harus repot-repot membuka kancing kemeja, melepas sabuk dan celananya.


Kini tubuh keduanya benar-benar polos tanpa busana.


Suara kicau burung dan gemerincik air menambah syahdu suasana.


Leon menyalakan shower dan keduanya tergelak karena kaget akan sensasi air hangat yang menerjang pori-pori kulit mereka secara tiba-tiba.


"Apa kau masih mengantuk?" Leon memeluk Rosaline dari belakang dan menggesek daun telinganya dengan bibir.


Wanita itu mendesah.


"Ya...aku...mengantuk..." jawabnya dengan suara nafas yang tertahan.


"Kau sadar telah membangunkan macan betina yang tertidur, tuan Leon?"


"Lalu, apa kau akan memakanku?" Leon membalikan tubuh Rosaline hingga menghadap ke arahnya.


"Aku akan melahapmu hidup-hidup dari ujung kepala hingga ujung kaki! Kau tidak takut?" kini giliran Rosaline yang menyeringai licik.


Jemarinya bergerak ke bawah. Ia meraba sesuatu dan meremasnya hingga suaminya mendesah.


"Ah.... Rosaline.... Tidak boleh! Tidak boleh seperti ini!" Leon menangkap tangan istrinya dan menuntunnya berbaring di bawah kucuran air.


"Aku yang akan memakanmu kali ini!" bisiknya.


Disentuhnya perut Rosaline yang kini sudah terlihat agak membuncit.


Usia calon bayi mereka sudah melewati trimester pertama dan Leon merasa begitu gugup sekaligus kegirangan membayangkan sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah.


"Hai, anak ayah... Izinkan ayah menyapamu pagi ini."


Ia berbisik di atas pusar istrinya yang lantas dikecup dan disesapnya penuh gairah.


Bibirnya bergerak turun, sengaja membuat Rosaline berdebar tak karuan atas perlakuan tiba-tibanya itu.


Kini mulutnya di bawah perutnya, di depan jalan lahir buah hati mereka nanti.


Leon menyeringai licik. Ia merentangkan paha Rosaline lebar-lebar dan mulai mengecup dan membasahi 'kurva berbahaya' itu hingga istrinya menggelepar dan menggelinjang merasakan setiap gerakan bibirnya.


Pria itu memainkan lidahnya dan menghajar Rosaline tanpa ampun.


Ini adalah 'pembalasan dendam' sekaligus balas budi atas kebaikan hati sang istri selama sekian minggu ke belakang, di mana ia selalu memainkan jemari magisnya dan menebar sihir tanpa mengaharapkan imbalan.

__ADS_1


"Aaahhh....Leon...." suara Rosaline mengangkasa.


Keduanya merasa bebas di sini. Jarak tiap penginapan cukup jauh dan suara mereka akan menghilang ditelan rimbunan pepohonan.


Leon enggan berhenti meski istrinya sudah kepayahan, bibirnya terus menari di sela pahanya hingga... hingga wanita itu dibekap rasa nikmat dengan nafas liar yang memburu.


Rosaline terengah, nafasnya kembang-kempis dan dadanya naik-turun oleh gelombang yang diciptakan Leon.


Ia mengakhiri sesi pemanasan mereka dengan sebuah lengkingan panjang yang membawanya ke nirwana.


"Ku rasa sekarang kau sudah sepenuhnya terjaga dan tak mengantuk lagi, nyonya!" Leon menyeringai.


Rosaline tahu ini saatnya membalas budi.


Ia bangun perlahan dengan bantuan suaminya.


"Kau dalam masalah besar, tuan Leon!" ucapnya.


Didorongnya dada suaminya hingga terlentang di atas lantai yang dingin dan basah.


Rosaline tak ingin basa-basi lagi, si 'monster' favoritnya sudah bangkit. Ah, sudah berapa lama ia hanya menyapanya lewat sentuhan jemari?


Inikah saatnya ia menghadapi 'makhluk' itu dengan gagah berani? Dengan cara yang seharusnya?


Rosaline mencium raga polos suaminya dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum akhirnya ia perlahan hinggap di atas raga sang 'monster'.


Keduanya mendesah merasakan tubuh dan jiwa yang merekat bersama.


Rosaline menyibak rambutnya dan memulai 'penyiksaannya'.


Leon tak sanggup menutup mulutnya. Sudah lama ia tak merasakan ini. Sedasyat apapun sihir jemari Rosaline, ini tetap yang terbaik.


Mereka menggila dengan hati-hati sebab ada si kecil dalam peraduan mereka.


Rosaline memang gila.


Dan ia membuat Leon menggila.


Mereka menari bersama di bawah kucuran air hangat.


Tak lama akhirnya keduanya meledak bersama melambung ke angkasa dan kembali ke bumi dengan bahagia.


Pasangan suami-istri itu terengah.


Leon mencium kening istrinya. Mereka saling pandang dan tersenyum lebar.


Gelak tawa memenuhi atmosfer, menyibak dedaunan, memantul di antara batang-batang pohon.


Setelah istirahat dan mengisi tenaganya kembali, Leon mengajak 'monsternya' untuk memulai 'perburuan' lagi.


Tentu saja Rosaline agak kewalahan, ia tak menyangka Leon akan selapar dan sebuas ini.


Apakah itu ulah sate bekocot kapan hari? Batin Rosaline bertanya-tanya.


Nyaris, nyaris saja ia tak bisa bernafas.


Suara mereka bersahut-sahutan di hening angkasa.


Rosaline terpojok, ia tak bisa mengimbangi suaminya kali ini.


Kehamilan telah menguras energinya, membuat keganasannya meruap entah ke mana.


Ia hanya bisa pasrah menikmati setiap sentuhan Leon, setiap pola permainannya, setiap instrumen yang ia mainkan di bawah sana.


Dibiarkannya pria itu melakukan apapun yang akan menyenangkan mereka.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2