Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 21 . YANG HARAM MENJADi HALAL


__ADS_3

"Bagaimana dengan hati kamu saat ini,"


"Cukup lumayan lega Kak."


"Ingat Nin, biarpun orang tuamu sudah menghilangkan satu nama yaitu kamu! jangan lah kamu merasa sudah tak ada yang memperhatikan kamu, karena masih ada Kakak yang sayang sama kamu."


"Kak, apa karena pekerjaan ku yang kotor ini hingga tuhan menghukumku dengan cara seperti ini, boleh kah aku menyalakan tuhan akan kehadiranku di dunia ini, dan kenapa pula tuhan memberiku nyawa jika akhirnya seperti ini, boleh aku marah padanya."


"Kamu tak salah! dan tuhan pun tak salah! hanya keadaan hingga berujung seperti ini. Kamu melakukan pekerjaan itu dengan terpaksa bukan, dan itu semua bukan atas kemauan kamu. Keadaan yang membuat kamu terjerumus dengan pekerjaan itu."


"Nyatanya tuhan tak pernah memberi sedikit kebahagiaan kepadaku,"


"Ingat Nin, jangan pernah lagi menyalahkan tuhan atas semua yang menimpa kamu. Mungkin saja saat ini tuhan tengah mempersiapkan hadiah sepesial untuk kamu kan! Kakak yakin kalau kamu mampu bukan begitu, dan Kakak yakin kebahagiaan akan datang penjemputmu jadi kamu harus percaya itu."


"Berapa lama lagi! sejak meninggalnya Bapak di usiaku yang masih balita, di situlah awal kehancuran di mulai. Dan aku yang menggantikan Bapak sebagai tulang punggung, dan semenjak Bapak meninggalkan dunia ini, semenjak itulah penderitaan selalu saja menghampiriku, setiap hari aku harus menelan pil pahit yang ku dapatkan dari seseorang yang seharusnya melindungiku memberikan apa yang anak butuhkan serta melimpahkan kasih sayang, namun apa yang aku dapat, hanyalah ketidak adilan! dan rasa kebencian yang hari-harinya ku dapatkan."


"Sekarang Kakak tanya? siapa yang bisa melawan takdir ini?"


Saat Anin, di tanya oleh Niko, lantas Anin pun mendongakkan kepalanya ke arah Niko, dengan mata yang sembab akibat menangis.


"Tak ada satupun yang bisa melawan kehendaknya, karena itu semua sudah takdir ilahi yang tuhan rencanakan untuk kita,"


"Lantas apa kamu bisa masih menyalahkannya! karena dibalik ujian serta takdir yang sudah di garis kan untuk kita, dia pun sudah merencanakan sesuatu untuk kita. karena tidak selamanya kita berada di posisi ini jika kita berusaha melawan takdir dengan cara ikhlas."


"Dan sekarang kita pulang, karena hari pun mulai gelap," ujarnya lagi.


Apa dia tak tau kalau aku sudah di usir dan sudah tak punya tempat tinggal, gerutunya dalam hati.


"Hye, jangan mengumpat ku!"


"Bagaimana dia bisa tau" gumam ku.

__ADS_1


"Nah benarkan jadi kamu sedari tadi diam, karena mengumpat ku."


"Ya lagian ngajakin pulang, emang sekarang ini aku ada tempat tinggal. Emang gak denger ya kalau aku sudah terusir dari rumah, iya kali mau nginep di hotel, uang saja kagak Gablek."


"Sudah belum ngomelnya, kalau belum lanjutin entar ku kasih pisang sama kroto biar tambah wow bunyinya."


Aku pun langsung mendelik kan mataku lebar-lebar kepadanya, bisa-bisanya di samain sama burung dasar resek.


"Di kira burung kali ya mau di kasih pisang sama Kroto." Jawaban ketus kuberikan sambil memonyongkan bibirku.


"Awas! nanti itu bibir ketabrak mobil kalau terus dipanjangin."


"Ih resek amat jadi manusia!" teriakku padanya, orang masih bersedih masih saja di ledekin.


"Kita pulang ke rumah Kakak, di sana ada Ibu sama Bapak, yang mau nerima kamu, bukan seperti mereka yang tega sudah tak mau menerima kamu."


Yah jika teringat akan perlakuan Ibunya terhadap Anin, aku pun geram melihatnya! bagaimana bisa seorang Ibu tega terhadap anaknya sendiri, sungguh aku tak menyangka semua ini terjadi pada seorang gadis yang bernama Anindiyah. Dan aku berjanji bahwa aku tak akan pernah menyakiti dan melukai hatinya, karena ia sudah tak terhitung mendapat luka yang di berikan oleh keluarganya, dan aku berjanji bahwa aku akan selalu menyayanginya dan sebisa ku menjaganya! karena hanya akulah yang ia jadikan sandaran selama ini, jadi aku akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya.


"Lagian Ibu juga yang menyuruh Kakak membawa bakal calon mantunya."


Kini pun pipi Anin bersemu merah karena belum apa-apa sudah di bilang dengan calon mantu. Dan kali ini dia tak memperlihatkan akan dirinya yang sudah salah tingkah akibat ucapan Niko.


"Alah paling-paling juga Bohong!"


"Eh, ini anak gak percayaan amat ya."


"Emang kagak! lagian mana mungkin secepat itu keluarga Kakak mau menerima aku yang notabennya hanyalah gadis bodoh dan pekerjaan pun."


"Sttt.. Sudah jangan di teruskan, keluarga Kakak gak pernah melihat dari pintar bodohnya seseorang, buat apa pintar jika Attitude tak punya dan tak bisa menghargai sesama manusia, biar orang itu bodoh, namun tidak dengan prilakunya karena orang pintar terkadang cuma mengandalkan prestasinya." Terangnya pada Anin,


🍀🍀

__ADS_1


Yah biarpun tak semua orang pintar seperti itu. Karena author pernah di posisi itu ya pren. Mempunyai saudara kaya semua dengan pangkat yang wow tapi tak pernah mencerminkan kebaikan dan tak pernah menganggap keluarga yang lain, karena kami dari keluarga miskin nan bodoh, jadi di atas hanya penggambaran pada diri thor saja jika ada salah mohon maaf ya🥰🥰 Ok kita lanjut..


🍀🍀


"Dan untuk pekerjaan. Jangan sampai mereka tau sebelum kamu berhenti mencari uang dengan cara seperti itu."


"Lantas kalau aku berhenti, aku mau makan apa Kak, siapa yang mau menerima seseorang tanpa mempunyai ijazah! hanya itu satu-satunya jalan untuk aku bisa bertahan hidup hingga sekarang." Tegas ku pada Niko.


"Apa tak ada lagi pekerjaan selain itu?" tanya Niko pada Anin.


"Orang tau aku buta huruf, dan orang taunya aku gadis bodoh yang tak pernah mengenyam pendidikan. Dan satu hal lagi yang Kakak harus tau, di jaman yang semakin maju apa ada yang menerima semua itu yang ada di diri ku tidak Kak, karena yang ada di pikiran orang seseorang yang tak pernah memegang buku dan pensil pastinya tak tau apa-apa!" sekali lagi aku berkata penuh penekanan.


Terlihat Niko hanya menunduk tanpa bisa membalas ucapan Anin, yang menurutnya sekali tancap langsung menembus jantung.karena apa yang di ucapkan gadis yang berada di hadapannya adalah benar.


"Apa tak ada jalan lain," tanya nya lagi kepada Anin.


"Ada!" sahutnya.


"Apa?" sambil mata yang berbinar Niko tersenyum tipis berharap usulnya bisa melepaskan dari pekerjaan itu.


"Harus ada uang yang banyak."


"maksudnya," Niko pun mengerutkan keningnya karena ia bingung akan ucapan Anin.


"Jadi pengusaha perlu modal bukan, dan tak cukup hanya dengan otak cerdas! aku tak punya cukup banyak uang jadi hanya pekerjaan itu yang bisa ku andalkan demi sesuap nasi."


Niko pun langsung terhenyak akan kata demi kata yang di lontarkan oleh gadis berusia 18tahun itu membuat dirinya langsung mati kuti,dan senyum yang mengembang tadi kini berubah masam.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Karena hidup itu di jalani bukan di sesali. diam rasakan dan nikmati. Di ibaratkan air sungai yang mengalir, maka hidup pun seperti itu kita sebagai manusia hanya bisa mengikuti alurnya..🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2