
Jebakan yang di alami Anindiyah, membuatnya harus ekstra hati-hati. Dan tak mau kejadian semalam terulang lagi.
Namun kini yang ada di benaknya, siapa yang tega memberinya obat tidur padanya, sedangkan Anin sama sekali tak punya musuh di dalam lingkungan pekerjaannya.
Lelah dengan berperang batin, akhirnya Anin memutuskan untuk mandi karena badannya terasa lengket.
Setengah jam kemudian Anin telah menyelesaikan rutinitas mandinya, dan saat ia akan mengenakan handbody terlihat gawai nya berkedip.
"Kak Niko" gumamnya.
Akhirnya Anin memencet tombol berwarna hijau.
["Halo Anin, apa kabar,"] suara dari balik telepon terdengar seseorang yang begitu bersemangat.
["Halo juga Kak, kabar ku baik. Kakak sendiri gimana,"] tanya balik Anin.
["Sehat kok, maaf ya sayang udah jarang ngasih kabar ke kamu soalnya sibuk bantuin Ayah,"] ucap Niko pada Anin, lewat sambungan telepon seluler.
["Iya gak papa kok,"] jawab Anin.
["Kakak cuma mau ngabari kalau minggu depan, Kakak di suruh Ibu buat jemput kamu,"] ujarnya pada Anin.
["Memangnya ada acara apa kak?"] tanya Anin pada Niko.
["Gak ada apa-apa kok, Ibu cuma kangen saja sama kamu,"] jawab Niko.
["Oh kirain,"] Anin pun menghela nafas lega karena memang tidak ada masalah yang berat.
["Sayang Kakak matiin dulu ya teleponnya, masih ada kerjaan yang harus di kirim hari ini,"] ucap Niko.
["Baik lah, Kakak hati-hati ya," jawab Anin.
["Iya, kamu juga jaga diri baik-baik di sana."]
["Iya tenang saja, ya sudah aku matiin ya."]
Tuut.
Ponsel pun di matikan oleh Anin, dan ia melanjutkan untuk mengoles handbody lagi di kakinya.
Tok.
Tok.
Tok.
"Iya masuk saja!" teriak nya pada seseorang yang berada di luar.
__ADS_1
Ceklek..
"Lagi ngapain," tanya Intan.
"Elu gak lihat ya," sungut Anin, pada Intan.
"Hehe. Sorry,"
Setelah selesai dengan urusan kulit, kini Anin ikut membaringkan badan di kasur bersama Intan. Dan Intan pun masih penasaran tentang seseorang yang berniat jahat pada sahabatnya itu.
"Elu udah tau belum orang ngasih obat tidur ke elu?" tanya Intan.
"Belum," jawab Anin.
"Ntan, kira-kira siapa ya yang udah jebak gue," ucapnya lagi pada Intan.
"Apa elu merasa punya musuh," jawab Intan.
"Kalau untuk musuh gue rasa gak punya, tapi yang merasa dendam sama gue. Pastinya elu tau siapa," ujar Anin.
"Apa iya ya, si ulet bulu itu," kata Intan.
"Masa sih, terus bagaimana dia tau kalau gue kerja di club," lantas Anin pun memikirkan apa yang di katakan Intan barusan.
"Bisa jadi kan sebelumya ulet bulu itu mencari tahu dulu tentang kamu," ucap Intan.
"Ngomong-ngomong elu punya kopi kagak?" tanya Intan, yang menyudahi membahas soal obat tidur itu.
"Ada sekalian gue nitip ya," jawab Anin.
"Beres."
Setelah mereka saling mengobrol dan membahas siapa dalang dari peristiwa malam itu, lantas mereka berhenti sejenak untuk mencari jawaban. Merasa pusing tentang semua itu, kini Intan memilih menyudahi dan mencari topik lain untuk di bahasnya.
🍀🍀🍀🍀
Sedangkan di lain tempat.
Tanpa sengaja Alex mendengarkan percakapan seseorang yang ia kenal lewat sambungan telepon. Dengan menahan amarah yang ia tahan semenjak tadi, tapi setidaknya Alex harus bersabar dulu apa motif orang itu menjebaknya.
Benar-benar keterlaluan, tapi mengapa dia bisa kenal dengan Anin ya. Gumamnya dalam hati.
Saat Perempuan itu menolah dirinya melihat Alex, dan ia pun langsung gemetar takut kalau Alex sudah mendengarkan apa yang di bahas nya.
"A-lex, sejak kapan kamu berada di situ," sambil tergagap ia mencoba tenang.
"Sudahlah tidak perlu tau kamu, saya sudah berapa lama berada di sini, ingat ini tempat saya," ucap Alex yang sudah melihat semuanya, dan ia merasa muak pada perempuan yang berada di hadapannya sekarang.
__ADS_1
"Apa maksud kamu!"
"Jangan pura-pura bodoh,"
"Sebenarnya kamu kan yang sudah menjebak Anin, dengan menyuruh seseorang, jawab saya?" Alex yang sudah di penuhi emosi, serta muka yang di penuhi amarah, tanpa basa-basi membentak perempuan itu.
"Kalau iya memang kenapa! bukan salah ku jika aku harus berbuat nekat dengan perempuan j*la*g itu."
Tutup mulutmu!" bentak Niko.
"Bukan kah benar apa yang ku katakan," ucapnya seraya membenarkan apa yang di katakan nya.
"Tapi setidaknya dia tak lebih hina dari dirimu,"
Aku wanita baik-baik jadi jangan samakan aku dengannya," yah perempuan itu adalah Erika.
Erika yang begitu ingin sekali bisa membalaskan dendamnya akhirnya menemukan jalan, saat ia mengetahui kalau Anin bekerja di dunia malam. Dan kesempatan baginya untuk menuntaskan sakit hatinya dengan menyuruh orang, memberikan obat tidur pada minuman yang ia sudah siap kan dan di rencanakan, bersama lelaki yang duduk bersama dengan Anin waktu kejadian itu. Namun sayang usahanya untuk menjebak Anin gagal total.
"Memang kamu perempuan baik-baik tapi tidak dengan hati kamu! Busuk bak bangkai."
Setelah Alex meluapkan rasa amarahnya pada Rika, Alex pun memutuskan meninggalkannya dan menyuruhnya pergi dari tempatnya.
"Sekarang pergi dari tempat ini, dan jangan perlihatkan muka kamu di hadapan saya."
"Aku tidak terima jika kamu perlakukan begini, dan ingat aku akan memberi tahu tante Lita siapa perempuan yang kamu bela itu."
Sambil berjalan meninggalkan tempat di mana dirinya berada, dengan hati yang dongkol dan rasa benci bertambah parah kian menyelimutinya.
"Awas kau ya, dasar j*la*g sial" dengan menghentakkan kaki mulutnya terus saya bergumam.
Lihat saja kamu Anin, aku tidak akan menyerah dengan gadis ingusan seperti kamu, umpatnya dalam hati.
Sedangkan Alex, Alex memikirkan tentang ancaman yang di berikan oleh Erika. Dengan susah payah iya menyembunyikan perihal Anin padanya Ibunya, tapi dengan mudahnya Erika akan membongkar identitasnya.
Semoga Erika hanya menggertak saja, dan tak sampai mengatakan semuanya pada Ibu. Keluhnya dalam hati.
"Ada masalah apa sebenarnya di antara mereka berdua, kenapa seakan-akan mereka sudah lama mengenalnya" gumam Alex.
"Baiklah nanti aku akan ke sana dan bertanya soal Erika" gumam Alex lagi.
Satu jam kemudian di rasa pikirannya sudah tenang, ia keluar dari rumah makan tersebut dan berjalan keluar ruangan di mana dirinya berada, dan sekaligus tempat untuk beristirahat.
”Bay, saya keluar sebentar ya, sekalian titip tolong jagain ini tempat," ucap Alex pada Bayu salah seorang karyawan.
"Iya Pak, Pak Alex tenang saja pasti saya jagain kok," jawab Bayu.
"Ya sudah kalau gitu, Assalamualaikum." Pamit Alex.
__ADS_1
"Waalaikumsalam hati-hati Pak."