Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 27 . OK DEAL


__ADS_3

"Yang ketiga adalah saya mau kamu menemani ke rumah orang tua saya besok!"


"Huh, apa anda sedang bercanda tuan! bagaimana bisa seperti ini jadinya."


Sungguh di luar dugaan ku, ku kira hanya menemaninya jalan dan dan cukup hanya memberi tahu kalau dia sudah punya pacar.


"Apa bisa saya menegosiasi," imbuhnya lagi.


"Apa yang mau di tawar, kamu juga sudah menanda tangani hitam di atas putih bukan! berarti tandanya kamu menyetujuinya."


Ah, ia kenapa aku lupa ya, dasar cowok kagak ada senyum-senyumnya, makanya kagak laku orang tampang songong begitu. Batin ku seraya menahan kesal karena merasa di permainkan.


"Kenapa diam, masih mau negosiasi." Dengan suara angkuhnya seolah-olah ia adalah seng penguasa di negri ini.


"Oh ya, persiapkan dirimu besok. Dan saya akan menjemput kamu sekitar jam empat." ujarnya lagi.


"Ada yang ingin di bahas lagi, soalnya ojek saya sudah menunggu, kalau tidak saya ijin pamit."


"Tidak, dan kita deal ini uang mukanya sisanya akan saya berikan jika tugas kamu selesai."


"Ok deal."


Tanpa permisi aku langsung mengangkat bokongku dari kursi yang ku duduki, lalu melengos meninggal kan lelaki sok kaya sok cakep dan sok segala-galanya, dan tak lupa aku mengambil DP, yang di berikan nya hari ini.


"Dasar edan, pengen aku tinju itu muka"


Sambil berjalan aku terus saja ngedumel, karena harus di pertemukan oleh mahluk astral seperti dia.


"Ngapain sih Mbak ngedumel mulu, kagak capek apa itu bibir." Seketika aku mendongakkan kepala dan menatap ojek pengkolan langganan itu.


"Berisik."


"Udah jangan nanya kesel aku ambek wong kae."


"Loh ngopo to?"


"Gak popo Bang, ya wes ayo jalan."


🍀🍀🍀


Sekitar 30 menit, Anin sudah sampai di tempat kosnya, dan dia berniat menghampiri Intan, di kamarnya tanpa ia masuk kedalam kamarnya terlebih dahulu.


Tok..tok..tok..


"Intan! Buka pintunya, buruan dong," teriak Anin, di luar pintu yang sedang menunggu sang empu membukakan pintu.


"Ntan, lu lagi pup ya, makanya telinga lu gak denger."

__ADS_1


Suara dari luar membuat Intan mengumpat habis-habisan, dalam hatinya berkata! Apa ia tak bisa dengan pelan jika bertamu, main teriak gedor pintu udah mirip kek penagih hutang.


Ceklek..


Tanpa suara dengan muka yang kesal sekaligus Intan membukakan pintu untuknya, dan sang teman yang bar-bar itu menyelonong masuk kedalam tanpa di suruh nya.


"Ngapain sih lu itu, perasaan gue gak ada utang ke elu, tapi bertamu dah mirip penagih hutang." Sungutnya.


"Ya maaf, kenapa lagi sama itu muka cemberut gitu?" tanya Intan pada Anin.


"Tau gak kamu."


"Gak tau."


"Eh buset gue belum selesai ngomong markonah!"


Hehehe..


"Yah malah ketawa ini anak, kagak jelas banget sih lu."


Namun yang di katai hanya menggaruk kepalanya serta di iringi sedikit senyuman yang menjijikkan.


"Apaan memangnya, kepo deh gue,"


"Barusan kan gue ketemuan sama Alex,"


"Terus gimana hasilnya,"


"Tunggu, tunggu sontoloyo yang bagaimana nih?"


"Masa ngomong gak ada senyum-senyumnya udah gitu keliatan angkuh dan sombong pula, makanya sampai-sampai orang tuanya mau ngejodohin itu orang karena wajahnya sudah mirip macan tau gak, jadinya terlalu garang makanya cewek-cewek pada kabur karena takut di terkam."


Saat Anin menceritakan semua kejadian sewaktu di Kafe tadi, Intan lantas tertawa hingga terbahak-bahak karena mendengar curhatan sang sahabatnya.


"Sumpah Nin, lucu aduh duh, perut gue sampe sakit nahan ketawa."


"Emang itu tampang kelihatan garang banget ya?" karena Intan belum tau betul wajah pria itu, hanya lewat foto yang ia kirim lewat inbox.


"Persis serigala, kalau tadi ikut bisa di pastiin lu ngompol." Sambil berlalu keluar Anin, menjelaskan.


Intan yang mendengar hanya bisa bergidik ngeri jika membayangkannya.


🍀🍀🍀


Sedang di lain tempat, tepatnya di kediaman orang tua Alex.


"Dari mana kamu Lex?" tanya ibunya Alex yang bernama Lita.

__ADS_1


"Cari angin." Ucapnya singkat.


"Dari pada kamu tiap hari main gak jelas mending cepetan cari bini deh, kalau gak gitu nikah aja sama anak temen Ibu."


Sambil duduk dan menyomot makanan yang berada di atas meja makan, Alex menaruh bokongnya di kursi sambil terus saja memakan makanan tadi, tanpa memperdulikan Ibunya yang dari tadi mengoceh seperti beo.


"Denger ya Bu, ini itu bukannya jaman Siti Nurbaya, 2009 gak ada yang namanya perjodohan." Sambil menelan kue yang ia sambar tadi Alex pun berusaha protes akan sikap Ibunya.


"Makanya kalau gak pengen dijodohin buruan cari Bini, ingat umur kamu sudah 30, mau nunggu apa lagi sih." Bu Lita mencoba memberitahunya lagi dan lagi bahwa Alex bukan lah anak ABG lagi, karena ia pun lelah dengan sikap dingin anaknya, mungkin dari situlah hingga ia sulit untuk mendapatkan kekasih.


"Tenang saja Ibu, nanti bakal saya bawa perempuan, tapi ingat! batalkan perjodohan itu."


Seketika Wajah perempuan yang masih terlihat awet muda itu merekah penuh senyuman, akhirnya anaknya akan membawa wanita yang akan di kenalkan pada dirinya.


"Kamu gak lagi bohong kan Alex, sama Ibu,"


"Serius Bu, makanya Ibu batalin untuk perjodohan itu."


"Baik lah."


"Bu,"


"Apa!"


"Kriteria yang Ibu suka yang bagaiman?" Ya sengaja Alex mengajukan pertanyaan itu kepada sang Ibu, mengingat penampilan Anin, yang sudah seperti preman pasar.


"Ibu, tak pernah menuntut bahwa perempuan itu dari golongan mampu, dan Ibu, tak pernah menuntut orang itu harus bisa ini bisa itu, yang paling penting bagi Ibu, dia baik sopan tentunya bisa menjadi Istri yang baik serta menantu yang baik bagi Ibu, itu semua sudah lebih dari cukup."


"Oh ya, satu lagi. Pastikan dia cantik."


Dengan senyum yang tersirat di bibirnya saakan Bu Lita, tak sabar akan segera menjadi mertua bagi menantunya nanti.


Dan kali ini Alex, hanya bisa terdiam mendengarkan semua kata yang di lontarkan Ibunya, dan saat ini ia hanyut dalam pikiran akibat permainan yang dia ciptakan sendiri, bagaimana tidak! Ibunya buru-buru menyuruhnya untuk segera menikah, sedangkan pacar saja tak punya.


Nasib-nasib jadi jones lu Lex.


Bagaimana ini kalau di suruh Nikah, aih kenapa gue bodoh banget sih, nikah sama siapa coba cewek saja gue gak punya. Gerutunya dalam hati, dan sedari tadi Alex di panggil tak menyahuti karena ia larut dalam lamunan, dan saat ini dia sangat pusing. Dan akhirnya


BUGH.. Ibunya melempar bantal yang berada di atas sofa untuk di lemparkan pada Alex.


"Terus saja ngelamunnya, ketempelan biar tau rasa kamu!" Marah Ibunya, karena sedari tadi yang di panggil hanya diam tanpa menanggapi ucapan sang Ibu.


"Apaan sih Ibu ini, mana mungkin setan mau saya Bu!"


"Bau Alex saja itu hantu udah muntah."


"Nyadar ya kalau kamu tak pernah mandi, sampai-sampai saiton pun mual kalau bau badan kamu."

__ADS_1


"Kenapa bahas nya jadi mandi gak nya sih Bu, tau ah."


Alex yang merasa Ibunya telah membuka kartu Akhirnya ia berdiri meninggal kan sang Ibu, karena malas jika berlama-lama bicara dengan beliau.


__ADS_2