Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 44 . TERLILIT HUTANG


__ADS_3

Hari-hari yang di jalaninya seorang diri membuat Anin, tak pernah lagi memikirkan tentang keluarga nya, dan berharap dia tak akan bertemu dengan orang-orang yang tak menganggap dirinya ada. Karena percuma jika pun di ingat, hanyalah secuil luka yang masih membekas. Dan mencoba untuk melupakan segalanya dan menata hidup dari sekarang.


🍀🍀🍀


Sedangkan di kediaman Bu Indah.


Seharian penuh beliau terus uring-uringan, karena hari ini adalah hari jatuh tempo hutang yang harus di bayarnya. Ya semenjak Anin di usir oleh Ibunya, selama itu pula tak ada kemasukan hingga sekarang, sulitnya mencari pekerjaan membuat Bu Indah gelap mata hingga ia terjerat oleh lintah darat. Dan hutang yang semakin menumpuk membuat dirinya pusing karena lilitan hutang yang mendera.


"Bagaimana aku bisa membayar hutang ya, sedang kan aku tak punya sepeserpun uang untuk mencicil semua hutang ku" gumam Bu Indah, sambil mondar-mandir mirip setrika.


Sedangkan Edi yang melihat pusing sendiri di buatnya, hingga terpaksa lah dirinya menegur Ibunya.


"Ibu ini apa-apaan sih, sudah mirip setrika saja," tanya Edi.


"Katanya kamu mau bantu mana! ini hampir waktunya jatuh tempo, kamu sekali tak ada inisiatif buat bantuin Ibu." Dengan wajah yang sudah merah padam, Bu Indah menjawab dengan mimik muka yang begitu kesal.


"Ya kan ini udah usaha," ucap Edi.


"Usaha apa! wong kamu enggak kerja, makanya cari kerja sana jangan bisanya cuma minta doang." Bu Indah murka pada Edi, yang tak kunjung membantunya dalam menghadapai perekonomian.


"Makanya Ibu dulu ngapain sih sok pakai ngusir itu bocah," ucap Edi.


"Kamu bisanya protes saja, tanpa bisa di andalkan," jawab Bu Indah.


"Paling gak kita gak bakal bingung kek gini kan, kalau saja Ibu dulu gak ngusir Anin," tugas Edi.


"Udah lah itu kejadian sudah lama juga, yang harus di pikir sekarang! bagaimana caranya supaya itu hutang tercicil,"


"Apa Ibu ada rencana lagi," ucap Edi.


"Sebetulnya ada sih, kalau kamu mau ya kita jalankan," jawabnya pada Edi.


"Emang rencana Ibu apa?" tanya Edi, pada Ibunya.


"Datang lah ke kos nya, dan untuk alasan itu kamu terserah kamu,"

__ADS_1


"Tapi kalau harus mengemis lagi aku gak mau Bu, aku kan lelaki bisa hancur nanti reputasi," keluh Edi pada Ibunya.


"Maka cobalah siapa tau akan berhasil, Jangan-jangan sewaktu Ibu menyuruh kamu buat kirim pesan dengan alasan Ibu sakit gak kamu sampaikan ya,"


" Kenapa Ibu punya pikiran seperti itu, boro-boro di bales orang akun saja di blokir sama itu anak ingusan." jawab Edi penuh dengan rasa kekesalan.


"Kamu gak lagi bohongan," ucap Bu Indah dengan rasa sidik.


"Ngapain juga bohong Bu," jawab Edi, yang tidak terima bilang bohong oleh Ibunya.


"Bener-bener keterlaluan itu anak! terus di kira dirinya lahir di batu apa, sudah semakin sok saja." Terdengar geretan gigi Bu Indah, jika ia benar-benar kesal oleh Anin.


Seperti seseorang yang menjilat ludah nya lagi, Bu Indah dengan tanpa malu dan tanpa dosa, mengemis untuk dikasihani oleh Anin. Yang mana beberapa tahun lalu Ibunya telah mengusirnya hanya karena dirinya tak mau di nikah kan, namun sekarang siapa yang di butuhkan, siapa pula yang memunguti sampah yang ia buang sendiri.


"Kalau gitu ancam dia supaya mau memberikan uang pada kita, dan kita lihat saja setelah di ancam apakah masih bisa berkutik."


"Dan kamu tau kan peringatan apa yang harus kamu berikan pada bocah tengil itu." Imbuhnya lagi.


Apa yang akan di lakukan keluarganya pada Anin, sehingga ancaman yang akan di berikan nantinya membuat ia pasrah atau malah balik menyerang.


"Ibu yakin kalau rencana ini akan berhasil," ucap Bu Indah.


"Tapi jika rencana yang kita susun kali ini tak membuahkan hasil, maka aku menyerah untuk mengikuti rencana yang Ibu buat," ujar Edi.


"Baik ini yang terakhir, tapi Ibu berani menjamin kalau yang akan berhasil,"


"Baik lah."


Saat mereka berdua tengah asik mengobrol dan sudah merencanakan sesuatu, Tiba-tiba saja suara ketukan pintu menghentikan percakapan antara Ibu dan anak.


Tok..tok..tok..


"Bu, ada yang mengetuk pintu, siapa ya yang bertamu?" tanya Edi.


"Mana Ibu tau," jawab Bu Indah.

__ADS_1


"Ya sudah Ibu mau lihat dulu." Setelah Itu Bu Indah melangkah kan kakinya untuk menuju ke ruang tamu untuk melihat siapa orang yang sedang mengetuk pintu.


Ceklek.. Setelah membuka pintu BU Indah buka main karena di hadapannya terdapat seseorang yang berseragam.


"Maaf Anda siapa? dan ada keperluan apa?" tanya Bu Indah pada lelaki yang berada di hadapannya sekarang.


"Bu siapa yang bertamu!" teriak Edi dari ruang tengah, dan Bu Indah pun mendengar teriakannya.


Setelah tahap perkenalan orang itu berlalu pergi, dengan membawa surat SP. Untuk di berikan oleh Bu Indah.


Bu Indah yang kini duduk termangu membayangkan jika sampai tak bisa membayar maka rumah satu-satunya, yang ia punya hilang sudah akibat kebodohannya sendiri.


"Ed, Ibu gak mau tau pokoknya kamu pulang harus membawa uang ngerti kamu! jika kamu tak mau keluar dari rumah ini." Setelah mengatakannya pada Edi, Bu Indah melengos masuk kedalam kamar, dan di tutup lah pintu dengan keras.


Brak.. Terdengar hingga di luar rumah, hingga tetangga yang melewati rumahnya begitu sangat terkejut, saking kerasnya.


Akan kah Anin yang sudah terbebas dari benalu akan di rumit kan dengan masalah yang sama sekali ia tak mengerti.


🍀🍀🍀


Sedangkan di lain tempat.


Perubahan sikap Niko, kian terlihat dan itu membuat Anin menjadi bertanya-tanya. Apa yang sedang terjadi hingga merasa Niko telah berubah tak seperti awal-awal mereka menjalin kasih.


"Apa ini hanya perasaan ku saja yang terlalu berlebihan" human Anin.


"Kak, apa kamu masih ingat saat-saat kita berdua berjalan menyusuri taman yang indah serta sesekali bercanda, aku kangen masa-masa seperti itu. Bisakah kita mengulang lagi momen bahagia, di mana kita melepaskan tawa dalam kesedihan, melepaskan lelah dengan cara bercanda, karena katamu itu bisa membuat kita melupakan lelah dan kesedihan, saat Tuhan mengajak kita bercanda tentang dunia ini" Anin bergumam sambil memikirkan tentang hubungannya dengan Niko.


Apa mungkin Kak Niko, mempunyai cewek selain aku, dan sengaja menghindar dariku.


Semua seakan menjadi satu memenuhi isi kepala Anin, dan menari-nari di dalamnya.


...****************...


Hye para reader jika suka dengan karya author mohon tinggal kan jejak dengan cara like komen dan Vote, karena tanpa kalian author bukan lah apa-apa 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2