
"Gue kan laki, jadi mau umur berapapun gak masalah kan." Sela Edi, karena dirinya memang harus protes, agar tidak di pojok kan akibat olokan dari Anin.
"Memang nya Abang mau nikah umur berapa? Orang calon saja enggak ada," tukas Anin.
"Eh." Edi menggaruk kepalanya karena benar-benar kehabisan kata, untuk menjawab olokan dari adiknya.
"Nah kan, uda kelihatan dari muka abang." Ujar Dia dengan senyuman mengejek.
"Ah, tau lah." Edi pergi meninggalkan mereka, karena sudah kalah telak, jika berdebat dengan adiknya.
Satu hari sudah Anin telah berpindah status menjadi seorang istri, istri dari laki-laki yang bernama Alex.
Keluarga berharap kedua pengantin baru itu berbahagia selalu, dan tentu nya menjadi keluarga, sakinah mawadah dan warohmah. Harapan mereka semua.
SORE HARI..
Keluarga dari Anin sudah pulang, dengan di antar supir, dan menyuruh sang sopir mengantarkannya hingga sampai rumah dengan selamat. Pesan Alex pada supirnya tersebut.
Sedangkan orang tua Alex masih di rumahnya , dan akan menginap untuk beberapa hari ke depan, untuk menemani Anin.
Dan kini rumah yang besar telah sunyi karena semua orang sudah tak lagi ada di sana, begitupun dengan Bu Lita, sejak pukul delapan malam beliau rupanya sudah beristirahat di kamar, itu makanya sedari sore tak terlihat.
Di balkon, sepasang dua insan, tengah menatap rembulan yang menyinari sang malam.
"Nin makasih ya, kamu sudah mau menerima ku sebagai kekasih halal mu." Dengan raut wajah yang berseri Alex berkata.
"Harusnya aku yang makasih sama Mas, karena sudah menerima aku dengan segala kekurangan ku." Mata yang berkaca-kaca, bukan karena sedih tapi, karena bahagia telah menemukan sosok yang benar-benar mau merima segala kekurangannya.
"Karena aku memang benar-benar tulus sama kamu, oh ya. Apa tadi itu panggilan sayang kamu kepadaku." Alex ingin memastikan jika kupingnya masih normal. Jadi, dirinya mempertanyakannya lagi.
__ADS_1
"Yang mana?" Anin balik bertanya pada suaminya.
"Yang tadi,"
"Yang mana,"
"Aku tadi sempat mendengar kamu memanggil ku dengan sebutan Mas," Alex senang, namun sedikit ragu juga. Karena Anin tak merasa.
Apa hanya telingaku yang eror ya, dalam hatinya iya bertanya-tanya.
"Mungkin kamu salah denger," ucap Anin, padahal dirinya terkikik geli karena Alex berusaha menyakinkan kalau telinga masih berfungsi.
"Ah sudah lah, sepertinya memang benar kalau aku salah dengar." Ucap Alex dengan wajah yang tak bersemangat, mengingat itu hanya terdengar di telinganya yang mungkin saja sedang tidak baik-baik saja.
"Nin jangan pernah meninggalkan aku ya, apapun yang terjadi," Alex memohon pada Anin untuk tak akan meninggal kan nya, meski dengan keadaan yang terpuruk sekalipun.
"Aku akan selalu ada untuk Mas, makasih ya Mas. Untuk semuanya yang sudah Mas berikan kepadaku."
"Apa kamu sengaja mengerjai ku sayang," Alex berkata sembari mengalungkan lengannya di leher Anin.
"Maaf."
"Ck..ck.. Dasar kamu itu ya, ya udah yuk masuk, ingat kan tadi Ibu pesannya apa,"
"Apa memang." Anin menautkan sebelah alisnya karena merasa jika orang tuanya, mau pun Ibunya tak berkata apa-apa.
"Sejak kapan kamu jadi pelupa sayang," Alex tak habis pikir pada istrinya, bisa-bisa sekarang berubah manjadi sosok pelupa.
"Mungkin sejak saat ini, karena otak ku isinya kamu doang." Anin berkata tanpa ekspresi, mungkin dirinya sudah mulai di kuasai rasa kantuk, jadi sedikit tak merespon.
__ADS_1
"Menyebalkan." Bukannya Alex tersanjung malah mendengus, karena nyatanya Anin sudah mulai tak menyambung. Dengan gemas Alex dan tanpa aba-aba, dirinya langsung menggendong Anin.
"Alex, apa yang kamu lakukan," seru Anin pada Alex, karena dirinya sedikit terkejut akibat Alex yang menggendongnya secara tiba-tiba.
Dengan, langkah yang cepat, Anin langsung di letakkan di atas ranjang.
"Untuk malam ini, aku tak akan memakan mu, tapi besok-besok. Kamu harus menggantinya tiga kali lipat." Rasa ingin, terkalahkan oleh rasa kasihan, karena Alex tidak tega. Jika harus memaksakan kehendaknya, sedangkan Anin terlihat capek! Hingga akhirnya menyuruhnya untuk segera tidur.
"Kamu denger tidak." Sungguh apes, nasib Alex, niat ingin mengajaknya mengobrol sebentar tapi Anin sudah terlanjur memejamkan mata.
Alex membelai lembut pucuk kepalanya, perjalanan cintanya untuk mendapatkan Anin tak mudah, dan begitu sulit, tujuh tahun bukan lah waktu yang singkat, tapi semua kini telah terbayar dengan kebahagiaan yang amat di nantikan.
Makasih sayang, kamu udah mau nerima aku, dan berusaha membuka hati kamu untukku, dan aku janji, bahwa aku akan membahagiakan mu, semampuku.
Ya Allah, terimakasih untuk takdir yang engkau pilihkan, dan engkau berikan pada hamba, terimakasih engkau telah menjabah doa-doa ku. Aku sadar aku hanyalah manusia banyak dosa, maka dosa yang ku perbuat kini ku jadikan halal untuk di sentuh.
Akhirnya Alex pun terpejam, dengan posisi memeluk erat dari belakang, dan menelamkan wajahnya di ceruk leher sang istri.
Jika kedua insan itu tertidur dengan pulas nya, dan pergi ke dunia mimpi, serta menanti esok pagi yang menantinya. Jauh dari rumahnya, seseorang meracau tak jelas, saat dirinya mendengar kabar bahwa lelaki yang pernah di jodohkan dengannya, namun menolak mentah-mentah tentang perjodohan tersebut. Membuatnya hilang kendali, dan terus menerus meneguk minuman beralkohol tersebut.
"Aku tak akan membiarkan kamu bahagia, karena kamu sudah merebut lelaki ku untuk yang kedua kalinya."
"Dulu kamu merebut Niko dariku, tapi sekarang, sekarang Alex juga kamu rebut, apa sih istimewanya gadis kampung itu? hingga semua memujinya." Wanita tersebut seperti orang gila yang berbicara sendiri.
Marah, kesal, dan kecewa, membuatnya telah menyusun rencana untuk menghancurkan rumah tangga mereka, yang ia benci. Terutama si wanita, karena menurutnya karena dirinya lah, ia di tolak oleh dua laki-laki sekaligus saat itu, dulu.
Rasa ingin memiliki membuatnya, ingin segera terwujud meski harus merusak kebahagiaan orang. Dirinya tak peduli di sebut oleh pelakor, karena menurutnya harusnya ia yang saat ini menjadi istrinya bukan gadis kampung itu, yang harus memiliki cinta dari laki-laki yang menurutnya tak sederajat dengan suaminya saat ini.
Lihat lah, apa yang akan aku rencanakan untuk mu gadis kampungan.
__ADS_1
Harusnya ia hadir, dalam acar prosesi ijab qobul, pagi tadi. Tapi karena dirinya tak ingin melihat lelaki yang teramat di cintai nya, ternyata sudah bersanding, maka dirinya memutuskan untuk tak pergi karena kecewa, kecewa dengan semua ini. Jadi untuk apa menyaksikan jika hanya menyakiti hatinya.