
Edi yang terus berusaha untuk menyakinkan Ibunya, namun sayangnya Bu Indah sama sekali tak menghiraukannya, namun Edi tak patah semangat untuk bisa mempersatukan antara Ibunya dan Anin. Karena Edi menyakini bahwa ada secarik harapan untuk bisa membawa Ibunya di jalan kedamaian, seperti apa yang di harapkan.
.
.
.
.
Sedang di sisi lain.
Anin sudah menghubungi sahabatnya Intan, untuk ikut serta membantunya dalam acara pernikahan yang akan di gelar. Dan besok rencananya Intan akan datang, dan kembali sampai puncak acara selesai. Untuk menemani Anin.
Dan untuk walinya, terpaksa keluarga Niko, memakai jasa orang, karena keluarga Niko yakin jika Edi tak akan mau menjadi wali untuk Anin, setelah beberapa tahun lalau mereka memutuskan hubungan darah antara Anin dan Keluarganya yang lain.
"Sayang, ngapain di sini?" tanya Niko saat melihat Anin yang berada di gazebo hanya duduk termenung entah apa yang tengah ia pikir kan, sampai-sampai tak tahu jika Niko datang.
Semenjak mereka resmi berpacaran tak ada lagi kata gue elo, dan sekarang hanya ada kata-kata manis yang ucapkan oleh mereka berdua.
"Dudukan saja Kak, ada apa kesini," ucap Anin.
Namun Niko tak mudah di bohongi, jadi ia tau kalau ada sesuatu yang membuat Anin, menjadi pendiam selama beberapa hari ini.
Bukan kah harusnya aku bahagia karena akan melepaskan statusku yang lajang menjadi wanita bersuami. Namun entah mengapa hatiku risau pikiranku pun melayang bagai debu yang di terjal angin. Itulah yang berada di pikiran Anin.
"Apa tak boleh aku mencarimu, meski kamu pergi sejauh mungkin yakinlah bawa aku bisa menemukan keberadaan mu,"
"Eum, iyah kah,"
"Iya,"
"Apa itu sebagian dari puisi,"
"Eum, bisa di bilang seperti itu."
"Apa ada yang lain,"
__ADS_1
"Ada, tapi ini sepesial untuk malam bahagia kita, di saat kita hanya berdua di kamar, dan hanya ada kasur menjadi saksi bisu kisah cinta kita,"
Anin pun langsung merinding dengan bisikan halus di telinganya.
"Dasar bodoh, membuat ku merinding saja," gumam Anin, tetapi Niko justru tersenyum saat mendengar umpatan yang keluar dari mulut kekasihnya itu.
"Ini belum seberapa sayang, tunggu lah aku akan menghabiskan makanan pembuka dan penutup saat malam itu pun tiba,"
"Kenapa otak Kakak jadi mesum, tapi boleh juga nyali Kakak, dan aku pun menunggunya." Kini berganti Anin yang membisikkan kata-kata yang membuat badan Niko panas dingin.
"Hanya sedikit sayang, mesum pun hanya dengan mu," sambil tersenyum Niko berkata, dan itu membuat Anin begitu bahagia karena ini semua adalah kado terindah baginya dari sang pencipta, karena sudah memberinya lelaki yang begitu mencintai dan menyayanginya sepenuh hati.
Jika sebelumnya Niko memeluk Anin dari belakang dan mengeratkan pelukannya, tapi kini ia mengubah posisinya menjadi duduk di sebelahnya.
"Apa Intan jadi kesini hari ini," Niko bertanya untuk yang kedua kalinya,"
"Eum, besok dia kesini " ucap Anin.
"Ya sudah lekas lah istirahat, karena ini sudah malam, dan lagi anginnya cukup kencang takutnya kamu masuk angin,"
"Apa Kakak sengaja meledekku,"
"Maaf jika kamu merasa ucapanku sedikit membuat mu tersinggung," Dengan mengacak rambut milik Anin, Niko berkata.
"Ah sudahlah, lebih baik aku masuk. Oh iya apa Ibu sudah tidur," Anin baru ingat jika dirinya sore ini belum bertemu dengan Bu Susi.
"Sudah, jadi gegas lah masuk calon istri kecil Kakak," Nampaknya Anin tersipu malu saat Niko berkata jika dirinya calon istrinya.
Akhirnya Anin pun berjalan dan masuk kedalam. Jam sembilan malam, tanpa drama dirinya langsung terlelap dan berlayar di pulau kapuk.
Di mimpi.
"Kak Niko, kenapa Kakak duduk sendiri di taman tanpa mengajak aku," ucap Anin.
"Sayang, tetaplah bahagia tanpa ada aku yang menemani kamu, dan terus lah raih kebahagian mu, ingat! Kakak akan selalu ada untuk kamu, dan selalu menemani kamu di mana pun kamu berada."
Setelah Niko berkata dan melambaikan tangan kepada Anin, bayangan Niko semakin jauh dan semakin tak terlihat, akhirnya Anin terbangun.
__ADS_1
"Tidaak, jangan pergi Kak, jangan tinggal kan aku." Racaunya setelah terbangun dan berteriak.
"Anin, sayang bangun ini Kakak," Niko mencoba menenangkan Anin yang sedang menangis histeris, entah mimpi apa hingga membuat Anin, seperti ini.
"Kakak, hiks..hiks..Kenapa Kakak pergi ninggalin aku, dan gak ngajak aku, Kakak jahat," Anin terus saja histeris tanpa tahu sebabnya apa.
Dan maksudnya apa, jika Niko pergi meninggalkannya tanpa mengajaknya, semua itu tengah bermain-main di kepala Niko, Dalam batin Niko, Anin tak mungkin bermimpi yang biasa.
"Kakak gak kemana-mana sayang, sudah ya itu hanya bunga tidur. Jadi jangan berpikir yang macam-macam." Setelah Niko berhasil menenangkan dan memberi pelukan tujuannya supaya tenang, dan benar saja tak berapa lama Anin pun sudah bisa di tenangkan.
"Sekarang tidur ya, ini baru jam satu," saat Niko akan berdiri, tangannya di cekal oleh Anin.
"Jangan pergi!"
"Tapi Kakak mau tidur sayang," ucap Niko penuh kasih sayang.
"Kakak gak boleh keluar dari kamar ini," ucap Anin, masih dengan muka yang sembab akibat menangis, dan tak memperbolehkan keluar dari kamar.
"Terus mau kamu Kakak, di suruh nemenin kamu tidur," lantas Niko langsung menyimpulkan jika Anin butuh sosok untuk menemaninya saat ini.
Anin pun mengangguk, dan memberikan tempat untuk Niko membaringkan badannya.
Dengan nafas yang tak beraturan Niko mencoba menghilangkan rasa gugupnya, di pikiran Niko tersirat antara rasa kasihan dan senang, senang karena di mintai tolong untuk menemani Anin tidur, dan dirinya merasa kasihan pada Anin, karena setiap malam hampir tak pernah tidur, namun baru kali ini dirinya meminta untuk di temani.
"Baik lah Kakak akan menemani kamu tidur."
Di letakkan tangan Niko sebagai bantalan kepala Anin, dan tangan satunya dengan lembut mengusap keningnya agar segera memejamkan mata.
Sudah beberapa hari ini Niko mendengar Anin berteriak saat tengah malam, dan iya yakin jika calon istrinya sedang mengalami mimpi buruk, namun seperti yang sudah-sudah jika di tanya maka jawabnya.
Jangan pernah tinggalkan aku.
Niko pun bingung karena dirinya tak sekalipun berpikir untuk meninggalnya. Tetapi Anin kerap berbicara seperti Niko yang akan meninggalkan dirinya.
Kini tubuh mereka saling berhadapan, wajah yang tengah menyimpan kesedihan tercetak jelas di raut wajah wanita yang tengah terlelap.
"Kasihan kamu sayang, terlalu berat beban hidupmu, Kakak janji, jika Kakak akan selalu membuat hari-harimu bahagia.
__ADS_1