Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 85. Pengumuman Calon Istri


__ADS_3

"Tentu saja, apa kamu baru menyadari jika kekasihmu ini setiap hari memang wangi, hem." Ujar Alex dengan tangan satunya yang mengacak rambut Anin.


"Tapi kamu jauh lebih harum daripada parfum bermerek." Ujar Alex lagi.


"Sudahlah pagi-pagi jangan gombal." Ucap Anin yang merasa beruntung karena memiliki kekasih seperti Alex.


"Selesai, dan segera lah sarapan, dan setelah ini kita akan berangkat kerja." Titah Alex untuk segera beranjak ke meja makan.


"Gendong." Dengan suara yang memelas membuat Alex gemas.


"Kenapa kamu berubah menjadi manja," ucap Alex yang merasa heran dengan sikap Anin. Pasalnya yang biasa jutek dingin kini berubah menjadi kucing manis.


"Apa tidak boleh," dengan sedikit memonyongkan bibirnya Anin berkata.


"Justru aku suka jika kamu mau bermanja-manja kepadaku." Alex tersenyum bahagia karena sepanjang sejarah ini kali pertama melihat Anin dengan sifat bak anak kecil.


Aku bahagia Nin, sungguh bahagia. Akhirnya perjuangan ku membuahkan hasil meski harus menunggu beberapa tahun. Dan aku sedikit pun tak pernah menyesal dengan masa lalu mu, yang terlihat buruk di mata orang, tapi aku yakin itu semua bukan lah keinginan kamu.


Alex sudah menurunkan Anin di kursi yang berada di meja makan, dan dengan telaten iya mengambilkan nasi goreng layaknya sedang menyiapkan makan anaknya.


"Makasih ya sayang," ucap Anin dengan senyuman yang membuat Alex bahagia.


"Sama-sama, makan lah yang kenyang, jika energi mu cukup aku akan memakan mu lagi." Ujar Alex dengan suara yang menggoda.


"Ish, menyebalkan, kenapa kamu sekarang menjadi mesum," ucap Anin dengan rasa heran.


"Itu semua karena mu, karena kamu memberikan sesuatu yang membuatku melayang-layang."


"Dasar mesum." Sungut Anin.


Dan Anin pun menikmati sarapan penuh dengan hikmat.


Pukul 9:00 pagi.


Anin dan alex telah menyelesaikan sarapannya, dan kini mereka sudah siap untuk berangkat kerja.

__ADS_1


"Sayang kamu di resto hati-hati ya, aku akan memantaunya nanti, untuk sementara kamu yang akan mengawasi, karena sebentar lagi kamu yang memegang salah satu usahaku, jadi sepatutnya kamu belajar mulai sekarang, tapi aku yakin kalau sebenernya kamu bisa." Alex memantau usahanya yang lain sedangkan Anin dititipi resto yang sekarang menjadi tempat di mana ia mencari pundi-pundi rupiah.


"Tidak sayang, aku gak mau sok menjadi bos untuk para karyawan kamu, apa mereka bilang kalau aku yang mengatur." Alex tahu apa yang di maksud Anin, Anin tidak mau menjadi seseorang yang berkuasa sedangkan dirinya bukan siapa-siapa Alex.


"Baik lah, nanti setelah kita sampai di sana aku akan mengumumkannya jika kamu adalah calon istriku." Ujar Alex yang menanggapi Anin dengan santai.


"Apa kamu yakin." Anin masih tak menyangka jika hubungan mereka akan di umumkan di depan para karyawan.


"Apa kamu meragukan ku," Alex mengatakan sembari menenteng tas kerja yang akan di bawanya.


"Eum.. Sedikit karena takut." Anin mengatakan dengan wajah yang menunduk.


"Aku serius dan bisa jadi minggu depan kita akan menikah," dengan senyuman yang menawan Alex berkata.


"Sungguh tak lucu Lex." Sungut Anin sambil berjalan ke depan.


SEKITAR SETENGAH JAM.


"Baik lah kalian sudah berkumpul jadi saya harap kalian mendengarkan apa yang akan saya sampaikan."


Saat Alex akan menyampaikan tujuannya yang sudah mengumpulkan para karyawan, dalam hati semua orang bertanya-tanya? Kesalahan apa yang mereka perbuat hingga semua di suruh untuk menghadap.


Semua mata membulat menatap Anin, karena mereka yakin jika temannya telah melakukan kesalahan, hingga semua ikut terkena imbasnya.


Dalam diam nya mereka telah merangkai umpatan dan sumpah serapah untuk Anin. Berpikir jika karena Anin lah yang membuat semua berkumpul.


"Baik sekarang saya akan memberitahu tujuan saya yang mengumpulkan kalian di sini, bahwa untuk sementara waktu yang memegang kendali adalah Anindiyah calon istri saya." Lalu Alex menarik tangan Anin dan di bawanya ke dalam dekapannya agar mereka tahu jika Anin lah yang sekarang harus di hormati, seseorang yang akan menjadi bos mereka, dan sekaligus calon istri dari Alex.


"Baik, apa kalian mengerti," Alex sedikit meninggikan suaranya.


"Mengerti Pak," ucap mereka serempak.


"Ya sudah kalian boleh bubar." Kata Alex pada mereka semua.


"Yuda tunggu."

__ADS_1


"Iya, Pak." Jawab Yuda.


"Tolong Bantu Anin di sini," Alex menyuruh Yuda untuk membantu Anin jika calon istrinya itu mendapat kesulitan.


"Baik Pak, Bapak tenang saja." Ucap Yuda pada Alex.


"Sayang aku pamit dulu ya, baik-baik lah di sini." Setelah berpamitan dengan Anin, Alex pun melangkah keluar.


Sedangkan Anin tak mampu berkata-kata, dirinya tak menyangka jika apa yang di katakan Alex ternyata serius, dan sekarang Alex benar-benar membuktikannya.


"Bu, saya pamit ke dapur dulu ya," Suara Yuda memecah keheningan.


"Baik, dan jangan panggil gue Ibu, dan ngapa juga elu harus pakai bahasa formal." Anin protes saat panggilan itu di sematkan kepadanya.


"Tapi Ibu kan calon istri Pa Alex," ujar Yuda masih dengan suara formalnya. Dan Anin pun merasa risih dengan ini semua.


"Gue masih Anin yang dulu, jadi gue gak mau nerima penolakan, jadi. Panggil gue dengan panggilan seperti biasa dan bahasa elu jangan kaku gue gak suka."


"Ba-baik." Jawab Yuda dengan sedikit tergagap.


"Jika ingin istirahat, bisa ke ruangan calon suami elu." Ujar Yuda pada Anin.


"Nah gitu dong gue suka." Timpal Anin dengan melebarkan senyuman.


"Ya udah gue ke belakang dulu ya," Yuda pun berpamitan untuk bekerja lagi


"Eum."


Jika Anin sedang merasa bahagia, berbeda di lain tempat.


...----------------...


"Bagaimana juga saya harus mendapatkan kucing kecil itu lagi, aroma tubuhnya membuat ku candu. Dan itu semua gara-gara kucing kecil itu! Hingga membuat ku tak bernafsu dengan perempuan lain manapun." Seseorang tengah meneguk minuman sambil meracau.


"Lihat saja, aku akan pastikan jika kamu akan menjadi milikku seutuhnya sayang." Dengan senyuman jahatnya seseorang telah merencanakan sesuatu terhadap Anin. Dan sepertinya seseorang ingin sekali mendapatkan Anin, hingga dirinya sudah menyusun sesuatu demi bisa mendapatkan apa yang di inginkan nya, dan itu mutlak bagi nya. Karena semua orang tahu jika dirinya orang kaya, jadi apapun yang dia mau harus bisa terpenuhi. Termasuk yang ingin mendapatkan wanita yang ia mau.

__ADS_1


Kini lelaki itu telah menghabiskan minuman beralkohol, dan setelah itu dirinya ambruk di king size di mana dirinya menghabiskan hari-harinya bersama wanita yang ia beli beberapa bulan lalu.


Kaki yang masih terpasang oleh sepatu, dirinya tengkurap di kasurnya dan lagi-lagi ia membayangkan saat dirinya bercinta dengan kucing kecilnya, itu julukan yang ia beri pada wanita tersebut.


__ADS_2