
Malam kelam menjadi saksi atas nasib yang membawanya ke jurang yang lebih dalam.
Hening hanya ada suara jangkrik yang saling bersahutan. Di bawa selimut Anin, menahan gejolak yang tak bisa di ungkapkan nya.
Pukul 23:00. Dirinya tak bisa memejamkan mata, setelah apa yang terjadi sebelum ia memutuskan pulang.
Tok..tok..tok..
Berjalan keluar untuk menemui Intan, jika dirinya pulang dan dengan keadaan baik-baik saja.
"Siapa sih malam-malam ketuk pintu." gumam Intan, karena kebetulan Intan yang belum beranjak tidur, yah selama Anin pergi tanpa kabar dirinya tak bisa merasakan tidur dengan nyenyak, karena pikirannya mengarah ke Anin terus menerus.
Ceklek.
"Anin! Hiks..hiks..Elu kemana saja Nin, gue sangat merindukan elu."
Saat Intan membuka pintu, dirinya begitu terkejut. Ternyata orang yang ia sayangi, orang yang di anggap saudara, dan orang yang di kuatir kan akhirnya pulang. Dan dengan rasa haru, Intan memeluk sahabatnya dan menangis bahagia.
Tetapi Anin hanya mematung dan tak menimpali ucapan Intan.
Lalu Intan menuntun untuk masuk ke dalam, dan dalam hatinya intan berkata. Jika temannya tidak baik-baik saja. Lalu Intan keluar dan berinisiatif untuk membuatkan teh untuk Anin.
Beberapa menit kemudian.
"Minum lah." seru Intan.
Anin tak menjawab tapi dirinya menerima cangkir yang berisikan teh hangat, pemberian Intan.
"Nin," panggil Intan.
"Eum."
"Bisa di jelas kan elu beberapa hari ini ngilang kemana?" Intan menunggu kejujuran Anin, apakah Anin mengatakan atau lebih memilih diam dan menyembunyikan semua, tentang kepergiannya dengan misterius.
"Gue hanya pergi untuk kembali, jadi jangan banyak bertanya! Jadi, biarkan gue tidur di sini malam ini."
Maaf Ntan, bukan maksud gue tak mau berkata jujur tapi, gue hanya perlu waktu untuk menjelaskannya, kerena ini tak mudah bagi gue, untuk berbagi kesah sama elu, matanya terpejam tapi tidak dengan jiwanya.
Lantas Intan membiarkan temannya beristirahat dan memberikannya waktu untuk dirinya berkata jujur padanya.
Pagi telah tiba, suara kokok ayam saling bersahutan, hari yang cerah, tapi tidak secerah kehidupannya. Dedaunan di sambut oleh sang embun, nyatanya hari-harinya di sambut oleh lika-liku kehidupan yang siap setiap saat menghadangnya.
Pukul 07:00 pagi.
Alex bergegas keluar rumah pagi-pagi sekali, untuk segera menemui Alex. Karena dirinya mendapat kabar dari Intan, jika Anin telah kembali.
"Assalamualaikum." Di depan pintu, Alex mengucap salam.
"Waalaikumsalam, iya sebentar." Sahut seseorang di dalam.
Ceklek.
__ADS_1
"Alex, mengapa pagi-pagi sekali datangnya," ujar Intan.
"Maaf, mungkin karena saya terlalu bahagia."
"Roman, roman nya ada yang lagi itu tuh."
"Kamu jangan kepo." Ucap Alex.
Seakan tau apa yang di cari Alex, lewat kepalanya yang celingukan sedang mencari sesuatu.
"Masih ngebo itu anak, elu saja yang kepagian." Sungut Intan.
"Ya sudah kalau gitu, saya nunggu di sini ya," Alex meminta izin untuk menunggu Anin, sampai ia bangun.
Sedetik, dua detik, tiga detik. Alex masih setia menunggu.
Dan tak berapa lama.
"Ekhem." Suara deheman dari arah pintu, membuat nya buru-buru memutar tubuh nya untuk melihat.
"Anin! Gimana keadaan mu."
"Seperti yang kamu lihat." Dengan wajah datarnya Ani berucap.
Dan lagi-lagi Alex di sambut dengan wajah dinginnya. Dan Alex mencoba menelisik apa yang sedang terjadi pada wanitanya. Tapi, hanya muka dingin sedingin es balok yang di perlihatkan.
Anin terlalu pandai menyimpan segala masalah yang saat ini di hadapinya, sehingga semua orang mengira bahwa dirinya baik-baik saja.
"Boleh saya bertanya," sebelumnya Alex meminta izin terlebih dahulu.
"Eum."
"Lima hari ini kamu kemana, apa kamu tau kalau saya sedang kuatir. Saat mengetahui jika kamu satu malam tak pulang dan tak ada kabar."
"Apa itu penting."
"Sangat penting dan sangat berarti untuk saya," dengan segala rasa yang ia punya, Alex mengungkapkan akan hatinya yang hampa saat cinta dalam diamnya hilang secara tiba-tiba.
"Apa itu sebuah ungkapan yang mewakili perasaan kamu."
"Ikut lah dengan ku."
"Mengapa kau suka memaksa Alex."
"Saya tak ingin berdebat di sini, jadi. Ikut lah dan sesekali menurut lah." Ucapan tegas yang terlontar dari mulut seorang Alex, dan itu mampu membuat Anin, menurut dan tak membantah.
Di taman.
"Kita sudah di sini, apa yang ingin kamu katakan lagi." Dengan wajah tanpa di hiasi senyuman, Anin berkata.
"Menikahlah dengan ku,"
__ADS_1
"Apa aku pantas mendapatkan cinta dari lelaki sebaik kamu, nyatanya aku bukan lah wanita yang baik dan sempurna." Dalam percakapan mereka kini tak ada kata elu gue, bahasa yang biasa di gunakan oleh Anin.
Alex diam. Masih bingung kata-kata apa untuk meyakinkan seorang Anindiyah.
"Apa seseorang yang mencintai dengan tulus, harus di lihat tingkat kesempurnaannya terlebih dahulu."
"Aku tak tahu, tapi sedikit ia."
"Bahkan sekalipun kamu tak sempurna saya akan tetap mencintai kamu."
"Omong kosong."
Saat Anin melangkah tetapi tangannya di cekal oleh Alex. Lalu di tariknya dan di bawa ke pelukannya.
"Percayalah, bahwa saya benar-benar mencintai kamu."
Di dalam dekapan Alex, Anin mengeluarkan air matanya, dan terisak. Dirinya benar-benar frustasi dan hancur sehancur hancurnya, seakan bagaikan hujan datang tiba-tiba di teriknya mentari, dan kedinginan di bawah guyuran hujan.
Hiks..hiks..hiks..
"Menangis lah,"
"Pergilah carilah wanita yang baik, dan tentunya bukan aku." Anin ingin melepaskan pelukannya namun Alex dengan kuat menahannya.
"Hatiku sudah terpatri namamu, jadi! Jangan menyuruhku untuk pergi."
Hiks..hiks..
"Lepas, tolong lepaskan aku, jangan jerat dengan cinta yang tak bisa ku jalani,"
"Mengapa tak bisa, jelaskan padaku, apa ada yang kamu sembunyikan dariku, atau kamu menyimpan sebuah rahasia."
"Aku kotor. A-ku tak bisa,"
"Apa maksudmu!"
"Tolong jangan paksa aku untuk mengatakannya, tolong hargai aku."
"Apa kamu juga tak bisa menghargai cinta tulus saya Nin, barang sedikit saja."
"Cinta mu terlalu mahal dan berharga, untuk kamu berikan padaku." masih di dalam dekapan Alex, dan Anin merasakan ketenangan dan kehangatan.
Maaf lex, bukan aku tak mencintai kamu, tapi cintamu terlalu berharga, aku bukan lah yang terbaik untuk menemani mu, aku sudah kotor aku tak pantas. Aku pun tak bisa berbohong jika aku mulai nyaman saat berada di dekat mu, saat di dekapan mu. Rasa damai itu datang.
Nin, sampai kapan pun saya selalu mencintai kamu, dan tak pernah melepaskan kamu. Barang sedetik saja, tak akan ku biarkan kamu pergi dari ku.
Kini mereka berdua bergelut dengan pikirannya masing-masing, dan berperang dengan keadaan. Cinta! sebegitu sulit Alex menginginkan cinta dari Anin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terkadang kita merasa tak pantas, mendapat cinta dari laki-laki yang sempurna. Tetapi di sisi lain semua orang pasti menginginkannya.
__ADS_1