Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 46 . LOLOS DARI JEBAKAN


__ADS_3

Sesampainya di tempat kos milik Anin.


Setelah Alex membuka pintu yang terkunci, dirinya kembali ke mobil untuk mengangkat tubuh Anin yang berada dalam mobil, karena Anin yang masih belum sadar. Dan di bawalah ke kamarnya untuk di baringkan.


"Nin, apa ada harapan untuk aku bisa mempersuntingmu" gumam Alex.


Karena dirinya tak langsung pulang, namun menunggu pengaruh obat tidur itu hilang, dengan begitu ia merasa tenang untuk meninggalkan sosok wanita yang dicintainya sadar.


"Apa aku salah menaruh hati pada kamu Nin, dan sampai kapan pun aku akan selalu menunggu kamu, hingga ada celah untuk aku mendapatkan cintamu" gumamnya lagi.


Sepertinya aku harus mencari tau siapa yang sudah menjebak Anin. Dalam batinnya Alex terus saja memikirkan tentang Anin yang di jebak, dan dirinya akan mencari tau.


Pukul sebelas malam, Anin tak kunjung bangun, dengan terpaksa Alex menginap dan tidur di samping Anin, yang terdapat kursi di sebelah tempat tidurnya.


.


.


.


.


.


.


.


Tak terasa pagi telah datang dan suara kokok ayam telah bersautan.


Saat Anin, mengerjapkan matanya dan mengumpulkan nyawanya sebelum benar-benar bangun dari tidurnya.


Tunggu, perasaan gue semalam kan lagi kerja, ngapa sekarang jadi di kamar ya, batin Anin, sambil mengerutkan dahinya ia mencoba mengingat apa yang sedang terjadi pads dirinya.


"Alex, kenapa dia berada di kamar" Anin terus saja bergumam karena ia merasa ada yang tak beres.


Di lihatnya seluruh badan, takut kalau-kalau ia di lecehkan oleh seseorang yang berada di sampingnya, namun semua utuh dan baju pun yang di kenakan tetaplah yang semalam.


Syukurlah, batin Anin dengan menghela nafas lega.


Tak berapa lama kemudian, Alex terbangun dari tidurnya.


"Maaf saya ketiduran, apa yang kamu rasakan setelah bangun?" tanya Alex pada Anin.


"Sedikit agak pusing sih, tapi sekarang udah enakan," jawab Anin.


"Eum, bukanya gue semalem kerja ya, lantas mengapa sekarang gue tiba-tiba sudah berada di sini, terus elu juga kok bisa di kamar gue, elu gak ngelecein gue kan,"


Rentetan pertanyaan membuat Alex pusing untuk menjelaskannya, dan ucapakan yang terakhir, merasa Alex tak terima dengan tudingan jika dirinya melecehkan seorang gadis kecil di sampingnya.


"Apa tampang saya seperti seseorang yang bernafsu," sungut Alex.


"Ya-ya bisa jadi kan, sewaktu gue tidur lu apa-apain," ucap Anin.

__ADS_1


"Apa ada perasaan yang aneh pada dirimu atau anggota tubuhmu," ujar Alex.


"Tidak!"


"Lantas mengapa kamu menuduhku, jika tau seperti ini harusnya semalam saya tidak menolong kamu," ucap Alex.


"Tunggu!" teriak nya pada Alex, karena setelah berkata kepadanya Alex berdiri dari duduknya di mana tempat untuk memejamkan matanya semalam.


Deg..


Apa ini, mengapa jantungku berdetak tak seperti tadi, saat Anin memegang tanganku, apa aku ada penyakit jantung, ucapnya dalam hati.


"Kenapa lagi, bukannya kamu telah menuduhku yang bukan-bukan maka sekarang saya harus pergi," ucap Alex.


"Makasih,"


"Tak masalah,"


"Tunggu!"


Saat Alex melangkah tiba-tiba Anin menghentikannya lagi.


"Ada apa lagi?" tanya Alex yang hendak melangkah namun langkahnya terhenti karena di panggil oleh bocah bermulut cabe.


"Boleh gue Minta tolong," ucap Anin.


"Apa!" jawab Alex dingin.


"Bawel," sentak Alex pada Anin.


"Gue laper, boleh minta tolong belikan makanan," ucap Anin.


"Kamu nyuruh apa minta tolong," jawabnya.


"Dua duanya."


Ck..ck.. Terlihat raut kesal Alex menghiasi wajahnya, bisa-bisanya ia di perintah sama bocah bermulut cabe itu.


Lalu tanpa menanyakan makanan apa yang Anin mau, langkah Alex pun meninggalkan kamar yang di tempati nya semalam.


Saat sudah berada di luar ia hendak menutup pintu lagi.


"Lex," panggil Intan.


"Iya," jawab Alex.


"Gimana Anin sudah sadar," ucap Intan.


"Mending kamu masuk biar tau,"


Iya saat Intan akan menengok Anin, dari luar pintu kamarnya terlihat Alex sedang berada di luar, makanya ia berniat untuk bertanya tentang keadaan sahabatnya. Karena semalam sudah tengah malam jika harus menggedor pintu ia merasa tak enak karena terlihat Alex pun sudah terlelap dengan bersandarkan kursi.


"Lantas kamu pulang pagi ini?" tanya Intan.

__ADS_1


"Teman kamu minta makan, jadi saya mau beli makanan," jawab Alex.


"Ya sudah saya duluan ya." Pamitnya pada Intan.


Tak berapa lama Alex masuk kedalam mobil dan menyalakannya, dan saat ini ia akan mencari makanan untuk Anin, karena kalaupun harus ke rumah makan, jam segini pun belum ada yang buka. Karena sekarang masih di jam 6:00 pagi.


Sedangkan di kamar.


"Anin, gimana keadaan kamu?" tanya Intan.


"Baik, gak ada yang sakit juga kok," jawab Anin.


"Intan boleh gue tanya sesuatu ke elu," ucap Anin.


Tanpa menunggu pertanyaan apa yang akan di berikan pada Intan. Intan pun menjelaskan semuanya tentang kejadian semalam yang sudah menimpanya, hingga Akhir ya Alex lah yang membawanya ke kos. Karena Intan tau apa yang akan di tanyakan oleh Anin.


Dan Anin pun merasa bersalah dengan Alex, karena sudah berprasangka buruk padanya.


"Sekarang gue inget, di mana gue di minta untuk menemani pelanggan, dan orang itu memesan minuman nah, dari situ gue ngerasa ngantuk berat setelah meminum minuman yang di pesan oleh pelanggan itu berikan," ujar Anin, yang menjelaskan awalnya hingga ia tertidur karena pengaruh obat tidur yang di campur ke dalam minumannya.


"Nah jadi bener, memang sengaja ada yang mau mencelakai elu." jawab Intan.


🍀🍀🍀🍀🍀


Sedang kan di lain tempat.


"Bodoh kalian, kenapa bisa lolos itu mangsa. Apa jangan-jangan kalian tak mengerjakannya dengan sungguh-sungguh,"


"Maaf Mbak, saya sudah membawanya untuk di bawa ke kamar, tapi tiba-tiba ada pemuda yang menolongnya dan pemuda itu menghajar saya,"


"Apa kamu mengenalnya," ucap perempuan itu.


"Tidak, yang saya tau kalau pemuda itu mengatakan bahwa yang kami bawa adalah temannya,"


"Siapa laki-laki yang menolongnya kalaupun Niko, sepertinya tidak mungkin" gumam perempuan itu.


"Apa kamu tahu ciri-ciri lelaki itu?" tanya perempuan itu lagi.


"Orangnya tinggi putih dan terdapat lesung di pipinya," ucap orang suruhan perempuan tadi.


"Kenapa ciri-cirinya mirip Alex ya, atau ini hanya kebetulan saja" gumam nya lagi.


Setelah itu perempuan yang sengaja menyuruh seseorang untuk menjebaknya itu. Kini merogoh tas dan di ambilnya benda pipih itu, lalu ia membuka galeri untuk memastikan saja.


"Apa ini," ucap perempuan itu.


"Bukan," jawab lelaki itu.


"Kalau yang ini," ucapnya lagi.


"Iya ini orangnya, saya tidak salah lagi Mbak."


Jadi benar lelaki yang menolong j*la*g itu benar Alex, dan apa hubungannya antara Alex dan j*la*g itu. Semua seakan menjadi satu di di dalam pikiran perempuan yang sengaja ingin menjebaknya, dengan mencari orang suruhan.

__ADS_1


__ADS_2