Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 79. Salah Itu Manusiawi.


__ADS_3

Hari-hari yang di jalani Anin, begitu rumit. Hingga berakhir menyedihkan, namun dorongan dari sahabatnya mampu membuatnya berdiri lagi.


Setelah pengakuannya terhadap Alex, bersyukur Alex ternyata benar-benar menerima Anin dengan ikhlas. Tapi kala itu, saat Anin mengatakan Alex sempat marah! Mengapa masalah sebesar itu harus di sembunyikan dan tak mau untuk berbagi.


Jika saja, jika saja waktu itu Anin mau berkata jujur pastinya Alex memberikan apa yang di butuhkan waktu, tanpa mengorbankan kehormatannya. Tapi nyatanya yang hilang tak bisa kembali lagi. Ibarat nasi sudah menjadi bubur, jadi apa harus di sesali?.


Hubungan antara Anin dan Alex semakin dekat, karena mereka sudah menjalin kasih dan berharap akan segera menuju ke pelaminan.


"Sayang, nanti kamu mau berangkat ke kota M, jam berapa?" tanya Alex pada Intan.


"Seenak nya," jawab singkat Anin.


"Lho kok gitu," ucap Alex lagi.


"Kan yang bawa mobil bukan aku, jadi. Bagaimana bisa kamu tanya begitu dengan ku Alex." Jawab Anin.


"Ya udah, kita berangkat agak sorean dikit gak papa ya," usul Alex.


"Terserah kamu saja," lagi-lagi jawaban singkat yang terlontar dari mulut Anin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


SEDANGKAN DI RUMAH BU INDAH.


"Di, apa yang kamu katakan itu benar kalau Anin akan pulang?" tanya Bu Indah lagi untuk memastikan jika apa yang di sampaikan tadi pagi benar adanya.


"Iya Bu, tadi Anin bilang nya gitu," ujar Edi.


Bu Indah terlihat sangat bahagia mendengar bahwa Anin akan pulang, selama ini dirinya belum pernah menemui Anin, maupun melihat wajah Anin seperti apa. setelah duan tahun silam, di mana dirinya pernah di rawat di rumah sakit, dan itu lah pertemuan terakhir nya.


"Jadi kapan sampai nya," Bu Indah nampaknya sudah tidak sabar menunggu seseorang yang selama ini pernah di buang dan di sia-siakannya.


"Mungkin malam baru sampai Bu, apa Ibu senang," Edi ingin tahu jawaban apa yang akan di ucapkan oleh Bu Indah.


"Sungguh, Ibu sungguh bahagia sekali Di,"


Edi lega sekaligus senang, karena Ibunya benar-benar sudah berubah, dan tak membenci Anin lagi.


MALAM PUN DATANG.

__ADS_1


Pukul 21:00.


Bu Indah sedari tadi sudah tak sabar menunggu, dan juga sudah menyiapkan makan malam yang mewah untuk menyambut kepulangan Anin.


TAK BERAPA LAMA..


"Assalamualaikum, ucap Alex dari luar. Dan ternyata Bu Indah sudah menanti di tengah pintu.


" Waalaikumsalam." timpal Bu Indah.


"Masuk dulu nak Alex, Anin." Bu Indah Menyuruh mereka berdua untuk masuk ke dalam.


Terasa kikuk karena lebih dari tujuh tahun mereka tak akur, tapi sekarang! Sekarang mereka berhadapan. Rasa tak nyaman timbul di antara mereka berdua, Anin dan Bu Indah.


"Eum Nin, Ibu minta maaf pernah membuat kamu terluka, dan Ibu memohon maaf atas perilaku yang pernah ibu lakukan terhadap kamu," dengan suara yang gemetar Bu Indah akhirnya bisa meminta maaf secara langsung.


"Sudah lah, itu semua masa lalu. Tak perlu di ungkit lagi, jauh sebelum Ibu meminta maaf saya sudah memaafkan Ibu." Muka yang dingin serta suara yang datar membuat suasana seperti berada di suatu tempat, di mana para terdakwa berada ruang sidang. Seperti itulah saat ini.


"Maaf, Ibu terlalu banyak berbuat salah,"


"Semua itu manusiawi bukan, jadi. Berhenti meminta maaf! Karena sekarang aku tak membutuhkan itu."


Canggung, itu lah yang di rasakan Alex.


"Nin," tegur Edi, Abang nya Anin yang menyapanya lalu menghampiri mereka.


"Iya Bang," jawab Anin.


"Sudah malam lebih baik kalian makan, Ibu sudah masak enak hari ini, jadi takut nanti lauknya bertambah dingin. Jadi kita makan dan di lanjutkan nanti percakapannya."


Ujar Edi yang mengajak mereka untuk makan malam.


Tak ada yang menyahut tetapi, langkah mereka mengikuti langkah Edi, menuju ke meja makan.


"Nin, makan lah yang banyak, oh iya. Kamu mau lauk apa biar Ibu ambilkan," Bu Indah mengambilkan nasi lalu menawari lauk apa yang di mau Anin.


"Tumis kangkung sama Udang krispi saja Bu." Pinta Anin.


"Makan lah yang banyak." Lantas Bu indah memberikan piring serta lauk pauk di depan Anin.

__ADS_1


"Nak Alex, mau lauk apa," kini giliran Bu Indah mengambilkan Alex, setelah Anin barusan.


"Sama kek punya Anin Bu, tapi di tambahi sambal." Pinta Alex pada Bu Indah.


Saat semuanya menikmati makan malam dengan penuh hikmat, tapi tidak dengan Anin. Piring yang berisikan nasi serta lauk hanya di pandangi tanpa menyentuh sedikit pun. Karena dalam hidupnya ini kali pertama di muliakan oleh Ibu nya. Entah berapa tahun sekarang Anin tak pernah menikmati masakan Ibunya. Jangankan menikmati, makan pun dirinya tak pernah.


Alex yang tak sengaja melihat pemandangan yang membuat hatinya perih, karena ia tahu Anin sedang mengingat kepingan memori itu lagi.


"Nin," panggil Alex.


"Nin," untuk yang kedua kalinya.


"Anin, sayang." Untuk yang ketiga kalinya Alex memanggil dengan cara memegang tangannya, hingga membuat ia langsung tersadar.


"Iya kenapa," tanya Anin dengan wajah yang terlalu banyak dengan kesedihan.


"Kamu gak papa kan," ucap Alex yang sedikit kuatir.


"Memangnya aku kenapa," tanya balik Anin pada Alex.


"Apa makanan yang Ibu masak kurang enak Nin." Sahut Bu Indah, karena beliau melihat jika nasih yang berada di piringnya masih terlihat untuk dan tak tersentuh sedikit pun.


"Maaf, bukan tidak enak, aku hanya...tiba-tiba saja ingat Kak Niko." Ujar Anin, sedikit berbohong untuk menutupi hati yang terluka kala itu, saat dirinya mengingat dirinya sewaktu kecil.


Dan Alex tahu jika di lihat dari pandangannya kalau Anin, sedang berbohong. Karena bukan hanya itu alasannya, meski Anin tetap merindukan dan selalu mengingat sosok Niko, yang pernah singgah di hatinya.


"Bu, Bang aku keluar sebentar, nanti jika aku lapar pasti aku akan makan." Untuk saat ini dirinya butuh tempat untuk mencurahkan segalanya.


Anin, berdiri lalu keluar tak lama kemudian dirinya di susul oleh Alex.


"Bu, Bang, saya nemenin Anin sebentar ya."


Alex pun berdiri setelah pamit pada mereka, dengan segera menyusul Anin yang berlari kecil untuk segera keluar dari dalam rumah.


"Sayang tunggu!"


"Lex." Setelah Alex memanggil dan mendekati Anin, Anin pun langsung memeluk Alex dan mengelamkan wajahnya di ceruk leher Alex.


Terdengar hembusan nafas Anin yang tak beraturan, membuat Alex sedikit merasakan sesuatu.

__ADS_1


"Menangis lah, apa kamu ingat sesuatu hingga membuat kamu seperti ini." Ujar Alex.


"Lebih baik kita mencari tempat yang enak untuk mengobrol, bagaimana?" Imbuh Alex lagi. Dan Anin pun mengiyakan ajakan tersebut, pergi untuk menghilangkan rasa sakit dan gejolak di hatinya, lantas Anin tak menolak dan langsung mengajaknya untuk pergi.


__ADS_2