
Keesokan harinya.
Anin yang masih setia dengan alam mimpinya, Niko dengan perlahan mengangkat kepalanya dengan pelan, karena tak ingin jika Anin terbangun.
Sebelum meninggalkan kamar, Niko mencium lembut pucuk kepalanya, dan Niko akhirnya berjalan keluar serta menutup pintu dengan pelan.
"Nik, Anin sudah bangun," ucap Bu Susi, saat beliau akan naik ke atas untuk melihat Anin, namun malah berpapasan dengan anaknya.
"Belum Bu, kasian dia. Jangan di bangunin,"
"Apa Anin sedang sakit?" tanya Ibunya penuh selidik.
"Tidak! cuma akhir-akhir ini, Anin sering pimpi buruk, dan yang lebih menegangkan ia bermimpi Niko, yang akan pergi meninggalkannya."
Deg.
Seakan detak jantung berhenti bernafas saat Bu Susi mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh Niko.
"Bu, Ibu kenapa," Niko yang merasa bingung akan perubahan sikap Ibunya dengan begitu cepat.
"Eh, e-enggak papa kok, ya sudah lekas lah bangunkan Anin, karena hari ini acara kalian untuk melakukan fitting bukan," yah tadi Bu Susi memang berniat untuk memberitahukan kalau hari ini ada fitting, tetapi Niko mencegahnya dengan alasan jika Anin, belum bangun. Jadilah ia membicarakan dengan Niko.
"Astagfirullah, iya Bu. Niko hampir saja melupakannya," dengan menepuk jidatnya Niko lantas berlari menaiki tangga lagi untuk membangunkan calon istrinya.
Ibunya yang di lewati hanya bisa menggeleng, lalu berjalan lagi menuju dapur.
"Sayang, bangun." Masih tak bergerak.
Uuuh.
Anin menggeliat, setelah Niko memencet hidung bangir miliknya. Dan itu membuat Niko semakin gemas.
"Sayang, hari ini kita akan melakukan fitting. Jangan sampai kamu melupakannya." ucap Niko, yang masih setia di sampingnya sampai ia benar-benar bangun. Namun masih belum bangun juga meski Niko menepuk halus pundaknya.
Beberapa detik Anin mulai membuka mata dengan perlahan, untuk mengumpulkan nyawa terlebih dulu.
Hoam..
__ADS_1
"Sayang lekas lah bangun dan segeralah mandi, jangan bilang kamu akan melupakan untuk hari ini," tanpa basa-basi Niko langsung menyuruh untuk segera beranjak dan bersiap-siap.
"Astaghfirullah, maaf Kak, lupa," sambil tersenyum Anin pun meminta maaf karena lupa akan hari ini.
...----------------...
Aku benar-benar melupakan akan acara dimana akan melakukan fitting, karena pikiranku kacau dan di porak-poranda akan tentang mimpi, dan tentang dimana di hari bahagia aku hanya seorang diri tanpa ada yang mendampingiku. Sakit, kecewa, terluka, semua menjadi satu menumpuk di hati.
Aku sangat bersyukur keluarga dari Kak Niko mau menerima semua kekuranganku, tanpa memandang, aku yang tak di anggap oleh keluargaku, aku yang bukan dari golongan berada, dan aku yang hanya gadis bodoh yang tak pernah tau tentang dunia bisnis. Aku bahagia berada di tengah-tengah keluarga yang teramat menyayangi aku, memberikan ku cinta dan kasih sayang yang begitu banyak. Memberi semangat serta dukungan, agar tak pernah menyerah akan alam yang nyata ini. Namun apakah aku pantas menjadi bagian dari keluarga Kak Niko, dan apakah aku pantas mendampingi Kak Niko. Yang begitu sangat sempurna.
...----------------...
Pukul sembilan pagi, semua telah selesai untuk sarapan pagi, dan Anin juga sudah bersiap untuk menuju butik.
Tampil apa adanya, dan kesederhanaan itu lah, membuat Bu Susi serta suaminya, yakin jika pilihan Niko tak akan salah.
Di jalan, Anin hanya diam dan terlihat murung. Karena dirinya sungguh tak pantas untuk di jadikan istri oleh keluarga kaya, apalagi keadaan yang membuat dirinya semakin tak layak.
"Sayang apa kamu sedang tidak enak badan?" tanya Niko pada Anin, karena ia berpikir sikapnya dari hari ke hari semakin dingin dan aneh.
"Tidak!"
"Maaf." hanya itu yang keluar dari bibirnya.
"Apa kamu melakukan kesalahan hingga meminta maaf," tukas Niko.
"Aku begitu memalukan bukan,"
"Maksud kamu apa!"
"Tidak Ada maksud Apa-apa, hanya saja aku begitu memalukan. Karena aku hanya lah orang yang tak berpunya namun mengharapkan lelaki yang berpunya, apa itu tak terlihat memalukan."
"Sudah lah, jangan membahas masalah yang tak penting,"
"Tapi aku terlalu hina untuk mendapat cinta Kakak!"
"Maka berlaku lah sebaik mungkin agar tak terlihat hina,"
__ADS_1
"Apa Kakak tak malu menjalani rumah tangga dengan ku, aku hanyalah benalu, hingga akhirnya keberadaan ku tak di anggap dan terabaikan, lagipula pekerjaanku tak jelas. Apa Kakak mau mempunyai istri yang tak jelas juga!"
"Ingat! Aku tak pernah sekalipun malu mempunyai istri seperti kamu, jika kamu merasa tak pantas maka aku akan memantaskan dirimu untuk Kakak! Jika kehadiran kamu tak di anggap dan tak di pedulikan. Maka aku yang menganggap kamu sebagai teman hidupku, dan aku memperdulikan mu, di saat kamu sakit dan terluka." Perkataan Niko mampu membungkam mulut Anin.
"Sampai kapan pun aku selalu mencintai kamu, bukan kah Kakak pernah bilang, meski nyawaku sekalipun terpisah dari raga, aku tetap mencintai kamu dengan segenap jiwa, dan setulus hatiku."
Anin yang mendengar tentang ungkapan perasaan Niko, menjadi merasa bersalah. Dan bibirnya pun tak mampu untuk berkata lagi, terasa kaku untuk berucap. Desiran ombak yang menghantam dinding hatinya, akhirnya membuat ia luluh.
"Lebih baik kita segera beranjak, karena hari pun semakin siang,"
"Eum." Anin hanya menjawab seadanya, dan langkah kakinya mengikuti langkah lelaki yang berada di depannya, di mana mereka duduk di sebuah taman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan di lain tempat.
Intan yang kini berada di Halte, menunggu bus yang nantinya akan membawanya ke kota tujuan.
Seperti Intan, sedang apa dia di sini, dan mau kemana sampai-sampai membawa tas besar , batin Alex yang tak sengaja melihat Intan sedang menunggu kendaraan, saat Alex melintasi jalan.
Karena rasa penasaran, Alex pun memundurkan mobilnya tepat di depan Intan.
Intan yang celingukan, karena ada sebuah mobil yang berhenti di depannya, membuat Intan was-was.
"Intan ini aku Alex," setelah membuka kaca mobil, Alex pun menyebutkan namanya agar Intan tak ketakutan.
"Kamu siapa?" tanya Intan karena penampilan Alex yang berubah, membuat Intan tak mengenalnya.
"Aku Alex, apa kau lupa," ucapnya pada Intan.
"Ja-jadi elu Alex yang, yang dulu itu," belum hilang rasa takutnya kini dirinya sudah di hadapkan oleh sosok Alex, yang berubah drastis. Karena rambutnya yang gondrong serta wajah yang brewok di penuhi bulu di setiap inci. membuat rasa keterkejutan yang luar biasa, dan Intan juga tak menyangka atas perubahan pada di seorang lelaki yang karismatik, menjadi seseorang yang mirip berandalan.
"Iya ini saya, lekas lah masuk agar memudahkan kita untuk mengobrol,"
"Tapi gue hari ini mau ke kota M. Untuk me..." ucapannya terhenti, rupanya Alex yang tak sabar untuk menunggu segera mendorong Intan agar cepat masuk ke dalam mobil.
"Duduk lah yang manis dan jangan banyak omong!"
__ADS_1
Lalu dengan cepat Alex menyalakan mesin mobil, dan kendaraan yang ia tumpangi meleset memecah jalanan yang begitu ramai.