
Di kediaman Bu Lita.
"Itu anak kemana sih dari jam segini belum ada pulang" gerutu nya. Karena Alex yang sudah berpamitan sedari jam tiga, hingga jam segini belum ada kembali.
"Benar-benar keterlaluan apa saya di suruh menunggu sampai rambut saya beruban, Ck..Ck.. Lihat saja nanti kalau pulang" Bu Lita tak henti-hentinya mengumpat karena Alex belum kelihatan batang hidungnya.
Akhirnya Bu Lita mencoba menelpon Alex.
Tuuuut.. Panggilan terhubung.
["Halo iya Bu,"]
["Kamu kemana kok belum ada pulang, terus Ibu suruh nunggu sampai beruban iya,"]
Mendengar Ibunya yang marah-marah telepon pun langsung di matikan.
Tut.. "Itu anak benar-benar keterlaluan ya, orang tua belum selesai bicara main matikan saja"
🍀🍀🍀
Sedang di kos Anin, mereka sudah selesai berdebat karena tiba-tiba Ibunya Alex telepon.
Dengan nafas berat Alex berusaha menenangkan Anin.
"Huf, udah ya jangan di lanjutin lagi, Ibu marah karena kita belum datang."
"Anin, tak menjawab karena ia masih di selimuti rasa dongkol pada hatinya karena namanya di ganti dengan si mulut pedas.
" Apa kamu mau berada di sini melihat saya memakai gincu dan bedak," ucap Anin.
"Kamu jangan macam-macam lebih baik apa adanya dari pada nanti gincunya bukannya di bibir malah berada di pipi."
"Sialan lu ya."
"Keluar gak." Bentuknya lagi.
Alex pun keluar dengan rasa kesal bagaimana bisa, ia yang notabennya terkenal angkuh dingin dan sombong, bisa terkalahkan oleh si mulut pedas itu.
Tak berapa lama Anin pun, sudah siap dan kini ia sudah keluar kamar untuk menghampiri Alex.
Namun nyatanya Alex, bukannya cepat-cepat pergi malah ia memasang wajah bodohnya di hadapan perempuan itu.
Ya setelah melihat penampilan Anin yang sekarang, mata Alex tak berkedip dan hanya melongo menatapnya penuh dengan rasa kagum.
"Cantik" satu kata dalam gumamnya.
"Apa kamu bilang."
"Apa sih."
"Ya sudah ayo berangkat."
Bibirnya tanpa sadar mengatakan kalau Anin, cantik namun kenyataanya ia hanya bisa membatin tanpa bisa berterus terang.
.
.
__ADS_1
.
.
Tak berapa lama sampai lah mereka di rumah milik Alex, sejenak Anin, terkesima dengan apa yang ia lihat saat ini.
Rumah yang bagus dan mewah serta bunga-bunga cantik yang bermekaran di halaman depan menambah keindahan dan merasa nyaman bagi yang bertamu.
"Apa kamu mau di situ terus."
"Di balik cantiknya bunga mawar ini terdapat duri bukan."
"Maka aku tak mau kamu menjadi duri, cukup lah menjadi bunga yang mekar hingga aku bisa memiliki si bunga itu."
"Ah sudahlah lah kok kita jadi bahas mawar ya." Ucap Alex.
"Ya sudah kita masuk." Imbuhnya lagi.
Anin tak menjawab hanya mengangguk ter tersenyum tipis, dan ia mengikuti langkah lelaki yang berada di depannya itu.
"Assalamu'alaikum Bu," tak lupa sebelum masuk Alex mengucap salam.
"Waalaikumsalam, akhirnya kalian datang juga."
"Bu, kenalin Ini yang Namanya Anindiyah."
"Nin, ini Ibuku." Ujar Alex padanya seraya mengenalkan dirinya dengan Ibu nya Alex.
Lalu Anin menyalami serta mencium tangan seorang perempuan yang sudah tak muda lagi namun masih terlihat segar.
"Alex yang merasa kartunya di buka Ibunya hanya bisa mengumpat dan sesekali terlihat kikuk di hadapan Anin.
" Ah, Ibu berlebihan kalau memuji." Jika perempuan lainya tengah mendapat pujian dan membuat ia bersemu merah serta malu-malu, namun tidak dengan Anin, meski sering mendapat pujian ia justru bersikap biasa.
"Oh iya nak Anin, bekerja atau masih,"
"Saya sudah bekerja Bu." Dengan cepat ia menyahuti pertanyaan Bu Lita.
Dalam pertanyaan Bu Lita pastilah yang di tanya antara kerja atau masih menyandang mahasiswi.
Semisal membahas tentang lulusan apa sekolah di mana dan pekerjaan apa, ini nih yang ngebuat dia bingung.
Kok bisa bingung.
Ya iyalah, orang Anin ijasah saja tak punya apa lagi di tanya yang lain.
"Nak Anin, kerja di mana kalau Ibu boleh tau." diam memikirkan tentang pekerjaan dan keringat dingin mulai membasahi mukanya, karena takut akan jawaban yang ia berikan.
Duh mampus gue, batin Anin sambil meremas baju yang ia kenakan.
"Anin, kerja di kafe Bu." Alex seakan tau tentang apa yang di rasakan oleh Anin, dengan cepat Alex menjawab asal-asalan, karena tak mungkin juga ia berkata jujur tentang pekerjaannya di dunia malam bukan.
"Iya Bu, saya bekerja di kafe." Ucapnya lirih.
"Orang tuamu.
Kenapa gue jadi di interogasi, ah sial sudah mirip tahanan saja gue puff.
__ADS_1
"Ada Bu, di desa sebrang."
"Oh, begitu ya.
Nampak jelas kerisauan yang Anin, rasakan membuat Alex merasa bersalah.
" Ibu ini bagaimana sih, sudah mirip pencuri saja main interogasi anak orang, tuh liat gak kasian apa." Sahut Alex.
"Ah iya, maaf ya nak Anin, sudah membuat kamu tidak nyaman." Tukas Bu Lita.
"Iya Bu tak Apa." Ucap Anin pelan.
"Ya sudah Ibu tinggal ke dapur ya, kalian mengobrol lah." Pamit Bu Lita sebelum beranjak dari duduknya dan meninggalkan mereka berdua.
"Eh muka dingin! lu sengaja bikin gue cepet koit."
"Maksud kamu apa,"
"Gue di suruh kesini buat di interogasi kan! lu bener-bener ya muka kulkas."
"Saya tidak tau kalau begini jadinya, dan satu lagi kalau ngomong cabe nya tinggalin biar gak pedes."
"Serah gue! dan lu seharusnya tau apa yang terjadi dengan gue ngerti!"
"Setelah urusan ini kelar, anggap kita tidak saling kenal."
Tak ada yang salah dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Bu Lita, namun karena nasib yang tak memihak kepadanya hingga ia tak bisa berkutik jika bertatapan dengan Ibunya Alex.
"Ekhem."
"Iya Bu."
"Ini minuman mumpung masi hangat lekas lah minum." Ujar Ibu Lita.
Drtt..drtt.. Terdengar Gawai milik Anin, bunyi.
"Bentar ya gue lihat Hp."
Ternyata Niko yang menelpon.
["Halo Anin Ini Ibu,"]
["Iya Bu ada apa, kok tumben pakai Hp milik Kak Niko,"]
Penuh dengan rasa cemas Anin menunggu jawaban dari bu Susi, karena memang selama Ini beliau tak pernah menghubungi nya.
Pasti ada yang tak beres, batin Anin.
["Ibu cuma bilang kalau Niko, sedang sakit dia gak mau di bawa periksa, tadi Niko bilang lagi pengen ketemu kamu, bisa kan kamu kesini buat liat keadaannya,"]
Deg.. Sesak seketika memenuhi hatinya, karena saat mendengar separuh hidupnya terbaring sakit.
["Bisa Bu, secepatnya saya pulang."]
["Terimakasih Anin."]
Setelah itu panggilan di akhiri, dan Anin pun berjalan gontai menuju ruang tamu lagi, karena ia tadi sempat keluar.
__ADS_1