Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 65 . Mencoba Tegar Atas Takdir Ini


__ADS_3

Dan ini adalah hari ke tujuh di mana Niko benar-benar pergi meninggal kan aku seorang diri, impian yang sempat aku bangun kini sirna dan hilang dengan hitungan detik, sakit dan teramat sakit dan aku pun tak bisa membohongi diriku sendiri, jika aku benar-benar merasa tersiksa dengan keadaan sekarang. Namun apa lah daya mau aku berteriak sekuat apapun hingga suara habis tuhan tak akan mengembalikan Niko dalam pelukanku, karena sejatinya tuhan lah pemilik nyawa dari raga itu.


Di ruangan sendiri termenung menatap langit-langit atap, sinaran yang terdapat di antara lampu membuat Anin seakan mendapat kekuatan, jika ia harus bisa jauh lebih kuat dalam menghadapi ujian.


'Tegar' Satu ucapan yang terlontar di bibir merahnya. Dan senyuman yang di paksakan.


"Apa aku bisa setegar tiang, tapi.. Pada akhirnya rapuh juga, hahahaha" Anin tertawa lalu berbicara sendiri, mungkin bagi orang yang melihatnya pastinya orang-orang menyangka kalau dirinya sudah tak waras.


Ceklek. Terdengar seseorang membuka pintu, dengan sekilas Anin melirik ke arah sepasang kaki berjalan.


"Hye, Nin, apa yang kamu rasakan sekarang," Dokter muda itu pun lantas berjalan ke arah Anin dan bertanya apakah yang kini di rasakan nya. Apa kah dokter muda itu sedang memberi sedikit perhatian, Ah tentu tidak! Dia hanya bertanya apa keadaannya jauh lebih baik sekarang, nah seperti itu lah kira-kira.


"Menurut Dokter."


"Ku harap jauh lebih baik sih."


"Berarti tak perlu saya memberikan jawaban lagi kan."


Dokter muda itu pun tersenyum kecut, bagai mana tidak! Di saat semua orang ingin di tanyai, tetapi berbalik dengan Anin, seolah dirinya tak mau ada yang bertanya akan hal itu lagi.


"Apa kau ingin sesuatu," suara Dokter itu terlihat kikuk, dan Anin pun tak tahu maksud akan kedatangannya, dan kalau pun untuk pemeriksaan bukannya tadi pagi sudah.


"Saya ingin pulang apa boleh, karena saya terlalu bosan, lagi pula harus berapa duit lagi nanti yang akan saya bayarkan." Sesaat Dokter muda itu pun terdiam dan terlihat di name tag Dokter itu bernama Dokter Fadlan.


"Jika kamu sudah merasa lebih baik kenapa tidak."


"Ok, baik lah Dokter Fadlan."


Sedangkan di dalam mereka mengobrol seperti seseorang yang sudah saling mengenal, di luar. Diluar nampaknya seorang laki-laki tengah menahan gemuruh di dadanya. Tanpa mereka sadari bahwa Alex melihat obrolan yang membuatnya sedikit sakit hati.


Bukan kah Anin bukan siapa-siapa ku, tapi mengapa aku begitu tersiksa melihatnya mengobrol dengan lelaki lain meski itu adalah Dokter yang memeriksanya. Batin Alex, dan posisinya sekarang berada di balik jendela dan tak jadi masuk ke kamar, di pegang erat-erat paper bag yang berisikan makanan yang ia sempat bawa dari restonya, tapi sayang belum sempat memberikan namun dirinya sudah di suguhkan dengan pemandangan yang ia benci.


"Cih, sungguh menyebalkan." Umpat Alex, karena ia yakin kedatangannya ke kamar bukan lah semata-mata untuk memeriksanya namun ada maksud lain.

__ADS_1


"Ya sudah saya keluar dulu ya, maaf jika mengganggu." Ucap Dokter fadlan pada Anin, sebelum keluar ruangan ia berpamitan terlebih dulu.


"Eum." Hanya tiga huruf yang di berikan oleh Anin.


Padahal dalam hati Dokter fadlan ingin sekali di tanyai, ia yang ke ruangannya. Untuk apa, dan mau apa, dan apa keperluan apa.


Dengan hati yang gelisah Dokter muda itu pun keluar, namun saat dirinya melangkah dari pintu. Terlihat Alex yang mematung menatap nanar luasnya taman.


"Hem," Dokter itu pun sengaja berdehem supaya Alex cepat sadar dari dunia lamunan.


"Oh, maaf Dok."


"Tidak masalah, saya hanya menyampaikan jika besok Anin sudah di perbolehkan pulang, tapi ia harus di pantau terus agar kakinya cepat sembuh, kalau begitu saya permisi."


Setelah memberi tahu tentang keadaan Anin, Dokter itu pun melangkah pergi, sedangkan Alex, Alex terdiam sejenak lantas memikirkan tentang Anin. Dalam hatinya ia akan merawatnya sampai sembuh, lagi pula dia tak ada yang merawat jadi apa salahnya dan hitung-hitung ini adalah pengorbanan cintanya pada Anin.


Setelah memikirkan matang-matang akhirnya niat Alex yang akan merawatnya sudah bulat.


Keesokan harinya.


Setelah Anin mendapat kabar sewaktu dirinya di periksa dan sudah di izinkan pulang hari ini, rencananya dirinya akan mengunjungi Niko terlebih dahulu.


"Nin apa kamu senang bisa keluar dari kamar ini." Ucap Intan, karena ia di kabari oleh Niko, jadilah Intan pagi-pagi buta langsung menemui Anin sahabatnya.


"Menurutmu apa aku terlihat senang berada di sini terus menerus, dan lihat lah tanganku sampai seperti ini.


" Kalau masalah itu keluhannya, elu gak tepat ngomong ke gue,"


"Lantas."


"Baiknya elu bilang ke Dokter atau perawat."


"Ck..ck.."

__ADS_1


Sekitar satu jam.


Sebelumnya Anin sudah berpesan pada sahabatnya untuk mengantarnya ke makam.


Dan kini mereka sudah bersiap-siap walau Anin masih memakai kursi roda dirinya tak patah semangat untuk tetap ke rumah Niko sekaligus tempat peristirahatan terakhirnya.


"Ekhem, apa saya mengganggu." Dokter itu pun datang lagi.


"Dokter, apa ada yang ketinggalan," ujar Anin, sedangkan Dokter itupun akhirnya salah tingkah oleh jawaban Anin.


"Tidak, hanya saja saya ingin menyampaikan jika kaki kamu harus sering kontrol supaya tidak merepotkan orang." Dengan wajah sok acuh tak acuh Dokter itu pun mengatakannya.


"Saya tak berniat untuk merepotkan siapapun jadi terimakasih atas nasehatnya." Jawab Anin dengan wajah yang berpaling.


"Nin, ke makamnya nunggu Alex saja ya," tukas Intan.


"Apa Alex akan segera datang," ujar Anin.


"Saat akan kesini mobilnya tiba-tiba mogok." Terang Intan.


"Kalau kalian mau saya akan mengantarkan kalian, kebetulan saya akan pulang." Dokter muda itu pun menawarkan bantuan, dan berharap Anin tak menolaknya.


"Apa kami tidak merepotkan Dokter," sahut Intan.


"Tidak sama sekali." Jawab Dokter fadlan.


"Nin, gimana," Intan mencoba berdiskusi terlebih dulu kepada Anin, karena jika langsung di terima tawaran itu, ia takut kalau Anin menolak, karena Intan paham betul dengan sosok Anin.


"Apa gak sebaiknya menunggu Alex saja, takutnya dia akan marah kalau kita tiba-tiba meninggalkannya." Karena Anin merasa tak enak pada Alex jadi dirinya mencoba memberi usulan pada Intan.


"Kalau begitu gue coba telepon ya," ucap Intan.


"Eum."

__ADS_1


Kak hari ini aku datang menjenguk Kakak, ku harap Kakak akan selalu bahagia, dan aku juga sudah ikhlas dengan perpisahan ini walau begitu menyakitkan, aku mencoba untuk bisa menerima takdir hidupku walau tanpa Ada kakak lagi, dan Kakak harus ingat kalau aku benar-benar mencintai Kakak.


__ADS_2