
Tak terasa hari pun semakin gelap, karena sekarang sudah di pukul tujuh malam. Dan entah sudah berapa jam Niko dan Anin, berada di taman! karena mereka berdua tak melihat waktu sama sekali. Dan rencananya Niko akan membawa Anin kerumahnya untuk sementara waktu, karena ia pun tak bisa berlama-lama di desa M. Karena Anin pun harus bekerja lagi demi bisa mengisi perut serta kebutuhan lain! termasuk mengumpulkan uang untuk di gunakan nya membuka usaha kecil-kecilan yang ia impikan selama ini.
Di kediaman Rumah Niko.
"Assalamualaikum, Bu, Ibu!" teriak Niko pada Ibunya.
"Waalaikumsalam, Niko, Anin, ayo masuk dulu." Ucap sang Ibunda Niko pada mereka berdua.
"Anin, kamu makin cantik saja lama gak ketemu," pujinya terhadap perempuan yang berada di depannya itu.
"Iya kah Bu, bisa saja bercandanya." sambil menyalami tangan Ibunya Niko, serta menciumnya dengan takzim Anin menimpali pujian yang di berikan padanya.
"Oh, iya bagaimana keadaan Ibu, sehat kan?" tanya Anin pada Bu Susi, selaku Ibunda dari Niko.
"Alhamdulillah sehat Nak, Anin, mandi dulu gie terus makan." titah nya kepada Anin.
"Ada yang lupa nih sama Anaknya, dari tadi gak di tanyain. terus di sini yang anak Ibu itu siapa sih, Niko apa Anin."
Sontak mereka berdua tertawa terbahak-bahak, karena melihat kelakuan lucu dari Niko, yang merasa tersisih dan ia pun sedari tadi hanya menjadi pendengar setia bagi orang-orang yang di cintai nya.
"Lah ngapain Ibu tanya kamu! emang kamu merasa tamu juga?" sambil menggelengkan kepala Bu Susi berkata.
Dan Niko pun langsung cemberut karena di buat kesal oleh Ibunya.
"Giliran sudah ada calon mantu saja anaknya di lupain, dasar durhaka pada Anak." Sambil memalingkan wajahnya dan di ikuti oleh tangannya yang bersindakap seolah-olah Niko sedang teraniaya ya.
"Apa kamu bilang!"
"Ampun Bu ampun," Niko yang mendapat jeweran dari sang Ibu, terus saja meronta meminta untuk melepaskan tangannya dari telinganya.
__ADS_1
"Rasain kamu! pakai ngatain orang tua durhaka segala, kamu itu yang durhaka sama Ibu, gak pernah bantuin Ibu di pabrik,"
"Aduh Bu, sakit lepasin napa, kalau copot gimana kuping cuma dua kalau gak punya kan gak lucu."
"Biar tau rasa kamu, ampun gak kamu."
Anin tertawa bahagia melihat tingkah antara Ibu dan anak yang selalu kompak. Dan Anin pun merasa beruntung karena masih ada yang mencintainya serta menyayanginya seperti keluarga Niko, saat ini.
"Iya ampun lepasin dong Bu, sakit tau."
Dan jeweran yang di berikan pada Niko, kini di lepaskan oleh Ibunya.
"Ya sudah ajaklah Anin, masuk keatas dan segera ia suruh mandi, setelah itu kalian berdua makan ya."
Lantas mereka berdua menuruti apa yang di perintah oleh Ibu Susi, karena tempat kamar tidur Niko yang terletak di atas jadilah mereka menaiki tangga.
"Niko! tolong ini berikan pada Anin, semoga saja cukup untuk di pakainya." Ibunya Niko masuk kedalam kamarnya serta membawa baju untuk di gunakan oleh Anin.
Tak berapa lama Anin, keluar dari kamar mandi, dan dia hanya menggunakan handuk yang dililitkan di tubuhnya. Siapa sangka ternyata Niko masih berada di dalam kamar dan kini ia sedang membaringkan badannya di atas kasur, sambil tangan yang tertumpu di atas kepalanya.
Dan sang Ibu pun tak melarang mereka berdua yang kini tengah berada di kamar, karena yang ia tau bahwa Niko, dan Anin, tak akan berbuat di luar batas, di karenakan mereka pun sering bersama di dalam satu kamar saat Anin sedang bermain sewaktu dulu yang masih menjadi sahabat, tetapi sekarang keadaan berubah.
"Ekhem..Kak Niko!" teriak Anin pada Niko, karena kali ini Anin yang masih menggunakan lilitan handuk, mencoba membangunkan Niko untuk menyuruhnya keluar.
"Iya Nin, kenapa?"
"Bisa gak Kakak keluar bentar, gak mungkin kan aku ganti baju di hadapan Kakak." jelasnya pada Niko.
Dan terdengar suara helaan nafas panjang Niko, membuat Anin memicingkan mata kearahnya.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Gak papa, oh iya ini baju dari Ibu, mudah-mudahan cukup di badan kamu yang cungkring itu."
Helaan Nafas panjang menandakan kalau Niko sedang menahan sesuatu betapa tidak, saat ini ia melihat wanita yang berada di sisi pojok tempat tidurnya yang kini hanya terbalut oleh handuk. Dan pemandangan itu pertama dalam hidupnya hingga jiwa lelakinya saat ini tengah berada di atas bukit.
Akh sial, kenapa pula ini singkong, huh semua ini gara-gara Anin si biang kerok jadi gini kan. Umpatnya dalam hati.
Kak! bisa pergi sekarang gak, udah mau masuk angin ini badan cepat keluar!" gertak Anin, karena sedari tadi Niko bukannya keluar kamar malah melongo gak jelas.
Dasar omes, di kira gue gak tau apa kalau dia lagi mantengin gue, gerutunya dalam hati.
Meski Anin tak mempunyai kulit putih, namun tubuh mulus dengan kulit matang sawo tak membuat keindahan yang berada di tubuhnya berkurang. dan itu membuat otak Niko traveling ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali.
"Eh iya." Kenapa jadi oon gini ya, batin niko pada diri sendiri karena merasa bodoh saat ini.
Bukannya keluar Niko malah menghampiri Anin yang sedari tadi diam di pojokan menunggu keluarnya Niko, bukannya malah keluar tetapi malah mirip mak-mak yang tak di kasih jatah bulanan.
"Eits, Kakak mau ngapain! di suruh keluar malah kesini," ucap Anin dengan dada yang bergemuruh menahan rasa takut dengan kedua tangannya yang di letakkan di bagian Dadanya, karena kaki Niko semakin maju dan semakin dekat dengan tubuhnya.
Cup.. Niko mencium pipi Anin, setelah itu Niko keluar dari kamar yang kini berisikan Anin di dalamnya.
Anin yang baru mendapatkan ciuman saat ini tengah terperangah karena melihat Aksi Niko, dan sungguh tak percaya jika bibir merahnya mendarat di pipinya, padahal sedari tadi Anin sudah ketakutan yang luar biasa.
Aduh kok gue dodol banget sih, niat nyobain itu bibir eh, malah melesetnya ke pipi. Ais kenapa nih otak tiba-tiba omes kagak jelas sih, tau ah, bodoh amat, pekiknya dalam hati, dan entah keberanian dari mana sehingga Niko dengan berani mendaratkan ciuman kepada Anin, yang selama ini tak pernah ia lakukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jalan hidup seseorang berbeda-beda begitu juga dengan Anin. Semoga perjuangannya dalam menjalani hidup bisa segera membuahkan hasil. Ibarat pepatah bilang, barakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian. Karena kita tak tau kedepannya seperti apa jadi yakinlah jika tuhan tak pernah salah dalam memberikan jalan hidup pada para umatnya.
__ADS_1
Untuk para pembaca, Author mengucapkan makasih ya karena udah mau mampir di karya receh ini🥰🥰