Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 52. Hari bahagia. Akhirnya di lamar


__ADS_3

Nampaknya Anin sedang berpikir keras, bukannya Niko meminta Anin untuk menyaksikan hari bahagianya, tapi dirinya tak sekalipun melihat perempuan lain selain dirinya.


"Pak, Buk, makasih ya udah menjadi sosok orang tua buat Niko, dan mau menerima pilihan Niko untuk menjadi teman Niko, di masa sekarang maupun nanti, dan doakan Niko selalu bahagia bersama perempuan yang nantinya akan memberikan keturunan untuk kalian."


Anin semakin bingung akan penuturan Niko, benar-benar tak mengerti apa maksud dari semua ini, tapi Anin yakin ini adalah hari di mana akan ada lamaran, karena dari kata yang di ucapkan seperti seorang yang sedang meminta restu, jadi Anin pun mengambil kesimpulan kalau memang ada acara pertunangan tapi anehnya tak terlihat pihak lain.


Hanya diam dan menunduk tak berani untuk mengangkat kepalanya, karena itu akan membuat Anin semakin rapuh dan hancur.


Setelah selesai berbicara dengan panjang lebar, Anin di buat tercengang akan lontaran kata yang di ungkapkan oleh seorang Niko.


"Anindiyah Qoirunisa, maukah kamu menjadi istriku dan menerima lamaranku," ungkapan tentang perasaan Niko, membuat, Anin begitu terkejut dan menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.


"Apa aku tak salah dengar," ucap Anin yang masih tak percaya.


"Apa aku kurang keras saat mengatakan tentang keinginanku,"


"Bukan begitu, bukanya kamu ada perempuan lain, dan meminta ku untuk duduk manis dan menjadi saksi akan hari bahagia Kakak,"


Peletak.


"Auh," keluh Anin yang mendapat jitakan dari Niko di keningnya.


"Dasar bodoh," ujar Niko.


"Tapi aku benar-benar tak mengerti,"


Hahahaha...


Semua orang tertawa saat aku mengatakan kalau aku memang tak mengerti, dan tak ada satu orang pun yang menjelaskannya padaku.


Seperti tontonan yang sangat lucu dan mampu membuat semua tertawa, sedangkan aku, aku masih belum bisa berpikir. Karena aku terlalu polos dan bodoh, jadi tak bisa melihat situasi saat ini.


"Sudah-sudah jangan tertawa lagi, kasian tuh Anin nya," ujar Bu Susi yang menegur anggota keluarganya.


"Maaf ya sayang, ini semua Kakak lakukan demi kejutan yang sudah kami siapkan untuk hari bahagia kita," ujar Niko yang menjelaskan perihal ucapannya tempo hari.


"Ja--Jadi,Kakak ngerjain aku ya,"


Maaf sekali lagi ya sayang,"


"Kakak jahat."


Anin pun berlari ke arah anak tangga dan menaikinya satu persatu untuk bisa mencapai di atas sana.


Sesampainya di kamar.


Brak..

__ADS_1


Suara keras dari bantingan pintu, membuat Niko sedikit terkejut.


"Anin sayang, buka pintunya dong!" teriaknya dari luar pintu.


"Nin, buka dong. Kalau enggak bakal Kakak dobrak nih," ancam Niko lagi.


Namun suara Niko yang terdengar dari dalam, Anin pun membiarkannya karena rasa kesal karena ulahnya, membuat hatinya teramat perih.


Aih, kenapa gak aku coba dulu untuk membukanya, ternyata benar pintu gak di kunci. Niko yang berpikir untuk membuka pintu kali saja tak di kunci oleh Anin, dan dugaannya benar. Kalau pintunya tak bisa di buka.


Sedangkan di balkon.


"Kesel banget aku sama itu orang, udah pikiran kemana-mana, dan mau mewek juga. Gak taunya emang di sengaja kan nyebelin" gerutu Anin.


Tanpa di sadari Niko mendengarkan curhatan tentang apa yang di lakukan olehnya, dan tanpa di sadari pula, kalau idenya membuat Anin bersedih dan terluka.


Perlahan Niko menghampiri Anin yang sedang sendirian, menatap jalanan yang begitu ramai akan kendaraannya.


"Kak Niko," seru Anin padanya. Karena tanpa di sadari Niko memeluknya dari belakang.


"Maafin Kakak ya sayang," Niko pun yang merasa bersalah meminta maaf akan kejadian kemaren maupun sekarang.


"Enggak lucu tau Kak, lain kali jangan di ulangi lagi, kalau enggak aku bakal bener-bener marah,"


"Iya Kakak janji gak bakal buat kamu sedih lagi."


"Setia lah dengan Kakak, dan jangan pernah tinggalkan Kakak, sebelum Kakak meninggal kan dunia ini terlebih dahulu." Ucapan Niko, bak petir yang menyambar, tentang apa yang baru saja di utarakan dengan Anin.


"Kakak kenapa bicara seperti itu," ucap Anin dengan wajah yang sendu.


"Kakak bukan malaikat Nin, Kakak hanya manusia biasa yang sewaktu waktu bisa mati, tanpa Kakak pinta."


"Aku tau, tapi bisakah tak merusak momen ini dengan percakapan itu,"


"Baik lah, tapi satu hal yang kamu harus tau bahwa aku selalu mencintai kamu walau nyawa Kakak telah lepas dari raga."


"Aku aku juga sangat mencintai Kakak hingga akhir waktu."


Cup..


"Terimakasih ya nin,"


Aku yang harusnya berterimakasih, karena Kakak selalu ada untukku, dan mau menjalani hidup bersama gadis miskin seperti aku Kak,"


Sstttt..


"Sudah jangan di bahas di saat momen kebahagiaan kita."

__ADS_1


Niko merogoh saku, dan di ambilah kota cincin berwarna merah untuk di persembahkan kepada sang kekasih.


"Apa kamu mau menerima pinangan ku Anindiyah Qoirunisa,"


"Iya aku mau Kak,"


"Terimakasih Nin."


Setelah itu di Niko mengambil cincin dari dalam kotaknya, lalu di pasangkan cincin di jemari milik Anin. Cincin dengan satu permata begitu pas dan cantik di jari manis milik nya.


"Kamu suka," ujar Niko.


"Cantik aku suka Kak, makasih ya,"


"Sama-sama, itu masih belum seberapa, jika kamu sudah menjadi istriku bukan hanya cincin ini yang ku berikan, tapi seluruh jiwa dan hatiku akan ku berikan jika kamu meminta." Terang Niko pada Anin.


Sudah tak ada lagi kesalahpahaman di antara mereka berdua, dan kini hanyalah kebahagiaan yang tengah menyelimuti hati mereka.


Setelah memasangkan cincin, Niko mengajak Anin turun untuk berkumpul bersama keluarga lainnya.


Pancaran kebahagiaan terlihat jelas pada wajah mereka, dan kini mereka turun dari tangga dengan hati yang berbunga.


"Cie..Ada yang lagi seneng nih, ucap Nisa yang tak lain adalah adik Niko.


" Nisa, apa kabar kamu," ujar Anin yang berbicara dengan Nisa.


"Baik Kak, selamat ya atas pertunangan kalian, aku ikut seneng dengernya," ucapan selamat dari Nisa di berikan pada Anin, membuat Anin pun tersipu malu.


"Iya, makasih Nis,"


"Iya sama-sama Kak." jawab Nisa.


"Sayang selamat ya, ucap Bu Susi sambil memeluk Bu susi memberikan ucapan selamat pada mereka berdua.


" Iya Bu, makasih ya selama ini Ibu mau menerima saya dan kekurangan saya."


"Tak perlu kamu berkata seperti itu, karena sekarang kita adalah keluarga." ucap Bu Susi.


Keluarga dari Niko, tengah berbahagia akan acara pertunangan di antara Niko dan Anin.


Dan kini mereka tinggal mengatur hari untuk akad, dan Bu Susu serta suaminya sudah tak sabar untuk segera menikah kan mereka berdua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Warning di larang memberikan bom like,


Jika suka dengan karya rengginang bisa tinggalkan jejak ✌✌🥰🥰🥰 lope pe yu untuk kalian...

__ADS_1


__ADS_2