
Keesokan paginya, Alex masih dengan wajah yang lesu karena semalam dirinya hanya tidur dengan berteman kan sepi.
Semoga Anin sudah lupa dengan kejadian kemarin. Dalam hati Alex berdoa semoga sang istri lupa tentang masalah kemarin.
Dengan segera ia langsung menuju kamar mandi untuk berwudhu, dan setelah itu ia akan melakukan shalat subuh.
Tak berselang lama, Alex sudah selesai dengan ibadahnya, dan dirinya berniat untuk membuat sarapan spesial untuk sang istri, dan berharap jika tidak akan marah lagi kepadanya.
Kini Alex sudah siap dengan celemek serta dengan alat masak, untuk segera bertempur.
Pukul 6:00 pagi, Alex sudah menyelesaikan acara masak memasaknya..
Sedangkan Anin, yang berada di dalam kamar merasa perutnya yang teramat lapar, hingga akhirnya ia bangun. Dan bergegas ke kamar mandi sebelum ia sarapan.
Tumben ya perutku lapar sekali, Batin nya. Dan setelah itu dirinya menuruni tangga untuk membuat sarapan, karena ia benar-benar sudah teramat lapar.
Bau harum menyeruak kedalam rongga hidung dan membuat sang pemilik hidung buru-buru menghampiri meja makan dan membuka tudung saji.
"Hemm, sepertinya enak." lirihnya.
Lalu ia mengambil piring tanpa bertanya siapa yang memasak, karena makanan itu belum berada di mulutnya.
"Sepertinya aku kenal rasa makanan ini." Gumam nya seraya memastikan jika masakan tersebut adalah masakan sang suami.
Iyah, gurami sambal matah. Menu favoritnya, dan tidak lupa kerupuk udang sebagai pelengkap.
Alex baru saja keluar dari dalam kamar mandi, dan melihat istrinya memakan makanan yang di masaknya, membuat Alex sedikit melebarkan senyuman. Karena merasa jika sang istri sudah mulai lupa akan masalah kemarin.
"Sayang, tumben jam segini udah bangun?" tanya Alex.
"Iya, lagi lapar dan kebetulan ada ikan gurami," ujar Anin.
"Iya, Mas sengaja masakin buat kamu spesial buat permintaan maaf untuk yang kemarin." Alex duduk di sebelah Anin, dan jemarinya menggenggam erat tangannya.
"Tapi kamu janji ya, nanti beliin," ucap Anin.
"Tentu sayang, Mas janji nanti bakal di beliin. Ya sudah makan yang kenyang biar anak kita juga ikut sehat." Alex jongkok mendekati perut yang masih terlihat rata, dielusnya dan diciuminya.
"Sayang, ingat pesan Dokter jangan lupa vitaminnya di minum ya."
"Eum."
__ADS_1
Karena mulut Anin masih di penuhi nasi, jadi ia menjawab ala kadarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Usia kandungan Anin sudah menginjak empat bulan. Dan rencana Bu Lita akan mengadakan sukuran.
"Lex, Ibu mau adain sukuran gimana menurut kamu?" Bu Lita mencoba membicarakan hal ini pada putranya, Alex.
"Terserah Ibu saja,"
"Bukan begitu, sayang." Kini Alex beralih berbicara dengan sang istri.
"Kami tidak mengerti Bu, yang lebih tau itu Ibu, jadi semua kami pasrahkan pada Ibu." Anin juga setuju dengan usul tersebut.
"Ya sudah kalau begitu, Ibu akan mengurus semuanya."
"Nin, Apa tidak sebaiknya kamu memberi tahu tentang berita ini pada Ibumu," ucap Bu Lita, dengan mata yang memandang wajah sang mantu dengan tatapan sendu.
Sejenak Anin terdiam, dirinya terlalu bingung, karena mereka meski sudah akur dan saling memaafkan tetap saja. Tidak bisa sedekat itu, antara Ibu dan anak.
"Sayang."
Alex mencoba memberikan ketenangan pada Anin, dan mengelus lembut tangannya. Berharap Anin tak lagi bersikap dingin pada sang Ibu. Meski dirinya pernah di sakiti bukan berarti dirinya masih menyimpan dendam. Walaupun Alex tahu jika Anin masih merasakan akan rasa sakit itu.
"Harusnya begitu sayang, seburuk apapun Ibumu, dia tetap lah orang tua yang pernah melahirkan kamu. Dan beliau juga sudah bertaruh nyawa untuk kamu." Wejangan demi wejangan di berikan oleh Bu Lita pada Anin. Dan itu membuat Anin sangat bersyukur karena mendapat mertua sebaik beliau. Tanpa melihat kasta serta perbedaan.
"Iya Bu, dan makasih untuk semuanya, terutama Ibu telah memberi kasih sayang yang luar biasa padaku."
Air mata itu luruh juga, bukan air mata kesedihan melainkan air mata kebahagian.
"Ya sudah kalau begitu, Ibu mau pamit. Kasian Pak Udin udah nungguin." Bu Lita memang pagi-pagi sudah datang untuk membahas acara empat bulanan yang akan di selenggarakan. Karena ini juga adalah cucu pertamanya jadi bagi seorang nenek pasti akan merasa bahagia, tentunya.
"Iya Bu, kalau gitu Ibu hati-hati ya di jalan. Jika sudah sampai di rumah hubungi Alex."
Bu Lita sudah hilang dari pandangan mereka, dan kini rumah sebesar ini sepi sudah, hanya Ada Anin dan Alex, apalagi Alex akan kembali bekerja, tentunya hanya ada Anin seorang diri yang berada di rumah.
Jenuh tentu.
kesepian, jelas.
Semenjak Alex mengetahui kalau Anin hamil, dan saat itu juga Alex tak memberi ijin lagi untuk bekerja dan mengelola restoran.
__ADS_1
Karena Alex takut, jika Anin akan kelelahan karena kehamilannya yang masih muda.
"Sayang, Mas berangkat lagi ya, dan sekalian lihat restoran kita?" ucap Alex
"Tapi nanti kalau pulang tolong bawain aku makanan ya," timpal Anin.
"Mau di bawain apa sayang? memangnya apa yang kamu inginkan,"
"Aku mau somay bandung sama batagor," ujar Anin.
"Baik lah, setelah pulang kerja nanti Mas akan membelikan itu semua untuk kamu," Alex menyanggupi dan itu membuat Anin berbunga-bunga.
"Kalau begitu segeralah berangkat." Seru Anin, lalu mendorong sang suami menuju pintu keluar, agar suaminya cepat berangkat, dan pulang dengan membawa makanan yang pesan barusan.
Setelah kepergian Alex, Anin memutuskan untuk naik ke atas, karena dirinya sudah tidak sabar untuk merebahkan badannya di kasur empuknya.
SEDANG DI TEMPAT LAIN.
Setelah Alex selesai memantau usahanya, kini giliran membelikan apa yang di pesan Anin, yaitu somay bandung serta batagor.
Lalu Alex menyusuri jalanan dan tak lupa memasang mata dengan seksama, berharap dirinya agar secepatnya menemukan penjual tersebut.
Sekitar hampir tiga puluh menit, akhirnya Alex menemukan batagor pesanan sang istri.
"Mas seporsi batagor berapa ya?" tanya Alex kepada penjual tersebut.
"Lima ribu Mas," jawab penjual tersebut.
Tahun 2015 semua bahan masih murah, jadi dengan uang lima ribu bisa membuat perut kenyang.
"Ya sudah beli dua porsi ya, Mas," ujar Alex.
"Baik Mas." respon penjual batagor tersebut.
Tak membutuhkan lama, dua porsi batagor sudah selesai di buat, dan kini Alex tinggal membayarnya.
"Mas, ini uangnya. Kembaliannya ambil saja." Alex memberikan selembar uang dua puluh ribu pada penjualnya, dan kembalian untuk di berikan penjualnya juga. Memang setiap Alex membeli dan uang yang di berikan nya masih tersisa maka Alex pun akan memberikannya.
Sekarang tinggal somay bandung yang belum di beli. Gumam Alex di hatinya.
Lalu Alex masuk ke dalam mobil untuk mencari satu lagi pesanan.
__ADS_1
Bujuk di cinta, ulam pun tiba. Tak jauh dari tempat dirinya membeli batagor, sepintas ia melihat rombong yang bertuliskan somay bandung.