
Mereka masih berada di taman.
Di rasa Anin, sudah tak seperti tadi dan ia merasa bahwa dirinya sudah tenang. Namun masih enggan untuk berbicara.
Lagi-lagi pria dewasa itu yang harus membuka pembicaraan lagi.
"Bagaimana kabar kamu, lama kita tak berjumpa,"
"Kabar baik, apa kamu sudah menikah karena kita sudah cukup lama tak bertemu."
"Sudah."
"Lantas kenapa kamu meninggalkan istri kamu buat nemenin gue di sini."
"Dasar bocah, maksudnya sudah kalau dapat calon istrinya."
"Ih ngeselin ya dasar muka kulkas."
"Makanya jangan menyimpulkan sesuatu yang hanya di lihat dari sudut mata, ia kali kalau saya punya istri keluyuran sendiri."
Oh tuhannya kenapa kalau berada di dekatnya terlihat sempurna wajah tampannya. Aih apaan sih gue ingat ada Niko Anin, gerutunya dalam hati.
"Ternyata kamu masih jadi jones."
"Bukan jones, tapi emang belum nemu jodohnya.
" Terus apa bedanya." Anin tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Aduh"
"Kenapa!"
"Kena senyuman kamu jadi akhirnya kepentok."
Hahaha..."Kamu bisa saja, eh ngomong-ngomong sejak kapan kamu bisa ngegombal,"
"Sejak aku bertemu dengan bocah tengil, dan sejak itu pula aku merasa mempunyai kesempatan untuk selalu menghibur dia."
"Kamu suka sama dia,"
"Jawaban bodoh macam apa yang kamu berikan."
"Kenapa kamu jadi mengatai ku."
"Semenjak aku bertemu dengan dia, hati ini sungguh bahagia, dan saat aku melihat dia menangis hati ini seakan ikut perih, perih yang ia rasakan mampu membuat aku ngin mengobati luka itu."
"Seandainya kamu di cintai dengan seseorang yang umurnya lebih dari kamu, menurutmu bagaimana,"
__ADS_1
"Apakah kamu tak berani menyatakan cinta pada gadis itu di karenakan umur kamu lebih tua,"
"Tidak!"
"Lantas."
"Hanya saja takut di tolak."
"Menyerah bukan Akhir dari segalanya bukan."
"Iya aku tau."
"Cinta tak mengenal usia, perasaan nyaman jika di dekatnya dan rasa membutuhkan itu lah yang membuat saling mencintai. Perbedaan usia bukan lah penghalang."
"Cinta akan terhalang karena kasta bukan usia, karena setiap orang pasti akan memilih itu."
"Tapi tidak dengan aku,"
"Sebagian."
"Jika memang ingin memperjuangkan cinta, maka kejar lah,"
"Apa aku bisa."
"Apa yang membuat kamu tak bisa dan tak yakin."
"Lantas."
"Cukup mencintai dari jauh, melihatnya bahagia aku pun ikut bahagia, jika dia menangis aku sangat sedih,"
"Malam ini pertemuan ku dengan bocah itu, selama dua tahun lamanya, saat aku memutuskan meninggalkan kota ini. Dan saat aku sudah kembali aku berdoa pada Tuhan agar bisa bertemu, nyatanya doaku di dengar tapi sayang, saat aku tanpa sengaja bertemu dengannya, bocah itu menangis dan entah apa yang sedang terjadi padanya, ku hampiri dia dan ku tawarkan bahuku sebisa aku mencoba menghiburnya."
Dengan hati yang bergetar Anin mencoba menetralkan dari hantaman batu yang mengenainya, kata demi kata ia simak dengan seksama dan akhirnya ia sadar bahwa yang di maksud lelaki itu adalah dirinya.
"Jawab jujur! apa itu diriku." Dengan mata yang berkaca-kaca Anin, meminta penjelasan akan semua ini.
Namun lelaki itu hanya diam dan membisu, dengan tatapan yang kosong ia terus memandangi wajah perempuan yang berada di hadapannya.
"Jika kamu hanya diam saja, berarti benar bahwa kamu mempunyai perasaan lebih padaku."
"Maaf,"
"Apa kamu tidak tau kalau di sini sudah ada Niko!" dengan suara yang bergetar Anin berkata dan menepuk dadanya jika dalam hatinya sudah terisi satu nama yakni Niko.
"Maka biarlah aku mencintaimu dari kejauhan tanpa bisa memiliki mu."
"Apa kamu sudah gila!"
__ADS_1
"Iya aku sudah gila karena memendam perasaan ini sampai dua tahun lamanya, aku begitu tergila-gila pada sosok bocah yang berada di hadapan ku sekarang."
Lelaki itu memegang kedua bahu Anin, dan mencoba berterus terang akan perasaan yang selama ini di simpannya rapat-rapat.
"Ja-jadi,"
"Iya pertemuan kedua kita yang berada di mana kamu berada, dan saat kamu berani menamparku di situlah aku mulai merasakan getaran cinta, karena ketangguhan mu, karena keberanian mu, dan karena sisi baikmu aku jatuh cinta padamu."
"Apa kamu ingat saat kamu berjalan kaki untuk membeli makanan, namun giliran kamu sudah mendapatkan makanan itu kamu berikan pada Bapak-bapak yang berjualan Aksesoris, padahal kamu pun belum makan dan waktu itu kamu berhemat demi sesuatu." imbuh nya lagi.
Yah memang itu lah kebiasan Anin, meski di balik dosa yang ia lakukan namun ia ingin mencari secarik pahala dengan berbuat demikian, ia pun sering memberikan makanan atau uang kepada orang-orang yang membutuhkan, dan tak di sangka lelaki itu mengetahuinya.
Lalu Anin memandangi wajah laki-laki itu dalam-dalam.
"Maaf aku dulu memang sengaja mencari tahu tentang dirimu."
.
.
.
Entah apa yang di dalam kepala lelaki itu, hingga ia menyukai gadis seperti Anin, kaya tidak! berpendidikan juga tidak, Ia hanyalah gadis desa yang mencoba mencari perentungan di kota ini, dan pekerjaan apapun ia lakukan demi bisa memenuhi kebutuhannya termasuk menemani pria dewasa yang kesepian, lantas bagaiman Ia bisa di cintai oleh dua lelaki, sungguh rumit hidup dan kisah cinta yang di jalani nya sekarang.
"Simpan lah cinta itu untuk kamu berikan pada perempuan baik-baik, karena aku bukan perempuan tepat dan yang pantas mendapatkan cinta dari seseorang yang sempurna, dan hidupku sudah rumit jadi jangan memperkeruh lagi dengan kata-kata itu."
Setelah berucap Anin berdiri dan melangkah meninggal kan lelaki yang berada di kursi panjang itu.
Dua minggu sudah tak ada kabar dari Niko, di tambah masalah Abangnya yang meminta ia pulang dengan alasan ibunya sakit, setelah terusir empat tahun lamanya nyatanya keluarganya meminta ia kembali dengan alasan meminta bantuan pengobatan, sungguh miris.
Belum sampai ia melangkah namun tangan Anin di cekal oleh lelaki itu.
Dan di tarik lah ia kedalam pelukannya.
"Izinkan aku memelukmu sebentar saja," ucap lelaki itu.
Anin yang berada dalam pelukan lelaki itu, ia hanya terdiam tanpa membalas pelukannya.
Andai yang memelukku Niko, betapa bahagianya aku, di saat aku ada masalah pelukan hangat yang ia berikan mampu menenangkan aku tapi kini, Kak Niko kamu kemana, jerit Anin dalam hati.
Tanpa sadar tangan Anin meremas pinggang milik lelaki itu, dengan pikiran yang berkecamuk membuat air matanya jatuh tanpa di pinta.
"Menangis lah keluarkan semua Nin." Ucap si lelaki.
Saat Anin, menangis dalam pelukan pria lain, tiba-tiba saja suara cempreng membuat mereka salah tingkah.
"Anin! ternyata lu di sini, gue kuatir banget dari tadi siang lu gak pulang-pulang." Teriak Intan.
__ADS_1