
Anin dan Niko sedang merayakan hari bahagia karena cinta mereka akhirnya bisa bersatu, dan Anin, Anin merasa begitu bahagia namun sayang kebahagiaan itu hanya dirinya saja yang merasakan. Keluarga yang di harapkan bisa jadi pedoman untuknya, nyatanya itu semu.
Sejujurnya di lubuk hati Anin yang paling dalam kini ia merasa bahwa dirinya memang terlahir dari batu, bukan dari rahim seseorang yang di sebut Ibu. Karena Anin tak mempunyai itu semua, kalau boleh jujur, masih ada harapan kah untuknya yang memang merasa haus akan kasih sayang dan belaian dari seorang Ibu, dan Anin pun tak bisa memungkiri semua itu. Karena dirinya tak mau menjadi seorang yang penuh kemunafikan.
Terlihat Anin yang sedang melamun, dan nampaknya Niko tau apa yang sedang bergentayangan memenuhi hati dan pikiran yang ada di wanita miliknya itu.
"Sayang kenapa?" tanya Niko basa-basi, karena sesungguhnya ia tau apa yang sedang di pikirkan.
"Kak Niko, ngagetin saja, enggak ada apa-apa kok," jawan Anin lirih.
"Apa kamu mau jalan-jalan malam," Niko pun menawari Anin, untuk pergi entah kemana karena belum menentukan akan tujuannya.
Seakan Niko tahu tentang isi hatiku, dengan mengajak ku keluar menghirup udara malam, mungkin pikirnya akan membuat suasana hatiku akan berubah menjadi lebih baik.
"Boleh," ucapku.
Kami pun keluar rumah untuk berkeliling jalan menyusuri terangnya lampu di malam hari, dengan menaiki motor. Hawa dingin mampu menusuk kulitku.
Akhirnya kami berhenti di alun-alun, untuk sekedar melepas beban yang tertumpu di pundak, sakit namun tak berdarah, berat namun terlihat enteng, perih bak luka yang tersiram air garam.
"Sayang, jalan ke situ yuk," ajak Niko.
Anin pun hanya bisa pasrah mengikuti arah kaki Niko yang sedang berjalan, diam mungkin itu lebih baik.
"Terserah kamu saja," tanpa mengajukan mau dan tidaknya, Anin hanya bisa berucap dengan kata-kata terserah. Dan nampaknya itu membuat Niko, merasa kesal.
Saat mereka berjalan tanpa sengaja mereka bertemu dengan Edi.
"Oh ini ya kelakuan kamu, demi sebuah uang kamu rela gonta ganti pacar,"
__ADS_1
"Tutup mulutmu, kita sudah tidak ada ikatan apapun jadi berhentilah menggangguku!" teriak Anin dengan lantang.
"Aku akan berhenti mengganggu jika elu memberikan beberapa lembar uang, seperti sosok lelaki tempo hari yang memberiku," ungkap Edi.
"Tunggu! Apa maksud semua ini, lelaki, lelaki siapa yang di maksud oleh dia Nin," ucap Niko dengan penuh selidik.
"Nanti aku akan menjelaskan semuanya Kak, dan lebih baik kita pergi dari orang yang tak tau di untung ini," sergah Anin pada Niko.
"Baik nanti ceritakan semuanya, tanpa ada yang terlewat." Jawab Niko.
"Ingat kalian tak akan bisa pergi sampai kamu memberikan saya uang ingat itu," suara yang bernada ancaman, namun semua itu tak membuat Anin dan Niko takut.
"Kamu mengancam kami, jika ingin sesuatu maka bekerjalah. Jangan bisanya meminta dan memeras seseorang, kamu pun tak lebih dari parasit. Lebih baik sekarang menyingkir lah dan jangan sampai saya berlaku kasar," ucap Niko yang menyerang balik nada ancaman yang di berikan oleh Edi, namun semua itu hanya gertakan sambal bagi Niko.
"Ingat sampai kapan pun kamu tak akan bisa menikahi Anin, ingat itu,"
Lagi-lagi Edi mengancam mereka berdua.
"Jika elu ingin gue ingin mati bunuh sekarang, tanpa harus menyiksa batinku, jika elu ingin gue gada di dunia ini lenyap kan nyawaku sekarang juga! tanpa membuat aku gila terlebih dulu."
Tanpa mengeluarkan air mata setetes pun Anin mengeluarkan segalanya di hadapan lelaki yang pernah menjadi saudaranya, namun sekarang tak ada lagi kata saudara ataupun Kakak. Karena bagi Anin semua sudah mati, dan terkubur bersama angan-angannya.
"Kenapa diam apa kau bisu sehingga tak sanggup untuk membalas ucapan ku. Hahaha.. Ternyata kau pun tak lebih dari pecundang, apa kau ingin mengancam kami lagi, ingat! semua itu tak akan membuat ku takut, karena aku bukan lah wanita cengeng."
Kenapa Anin kalau marah menakutkan ya, hii ngeri. Batin Niko, karena tanpa di bela pun rupanya Anin tau kata-kata yang di keluarkan untuk membungkam lelaki parasit itu.
"Sampai kapan pun elu tak akan bisa menikah tanpa ada gue ingat itu," sambil menunjuk ke arah Anin Edi pun berkata.
"Dan untuk elu Nik, wanita yang berada di samping elu telah berselingkuh karena gue melihat dengan mata kepala gue sendiri." Sambil melirik ke arah Niko namun tangannya yang mengarah ke Anin, membuat Niko sedikit terpancing akan ucapan yang di berikan oleh Edi.
__ADS_1
"Dan ingat juga buat elu, mau elu memfitnah gue , dan mau berkata apa tentang gue, semuanya enggak akan mempan. Camkan itu!"
Setelah kepergian Edi, Niko yang sempat termakan oleh ucapan yang di sampaikan oleh Edi, membuat Anin sedikit di acuhkan oleh Niko.
Namun Anin mencoba untuk menjelaskan perihal tudingan yang di berikan oleh Edi.
"Apa Kakak tak ingin mendengar kan penjelasanku," ujar Anin pada Niko, karena sedari tadi Niko diam.
"Baik lah apa yang ingin kamu jelaskan, coba katakan," sergah Niko.
"Bisa kita duduk, aku capek." ujar Anin.
Namun Niko tak menjawabnya.
Sesungguhnya Niko ingin sekali tertawa, melihat Anin dengan bersungguh-sungguh untuk mengatakan yang sejujurnya. Karena Niko yakin Anin pun tak sampai hati untuk berselingkuh di belakangnya, dan soal Anin yang di diamkan hanya semata-mata ingin melihat kesungguhan Anin terhadapnya.
Dengan memonyongkan bibirnya membuat Niko bertambah gemas, dan saat ini mereka sudah berada di jejeran bangku yang ingin mereka duduki.
"Baik lah sekarang jelaskan tentang kamu yang berselingkuh, apa memang yang di katakan Bag Edi benar atau hanya fitnahan untuk menjatuhkan mu."
"Maaf, aku gak ada niat untuk berselingkuh dari Kakak,"
"Tapi yang di katakan tadi,"
"Iya memang kemaren ada lelaki yang datang ke kos untuk mengambil sesuatu yang ku pinjam waktu di tempat ku kerja, dan kebetulan Bang Edi datang untuk meminta uang kepadaku, karena aku tak mau memberikan jadilah lelaki itu memberikan dengan cara aku meminjam."
Terpaksa Anin berbohong tentang sosok lelaki itu, dengan alasan yang lain. Dan sedikit manipulasi agar Niko percaya dengan apa yang di katakan nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Ada novel ketiga yang author bikin, dan sedikit kocak, mampir ya jika berkenan, karena di ambil dari kisah author sendiri, namun ada sedikit yang aku bumbui dengan kehaluan yang hakiki.