
Kedua insan sudah di sapa oleh sang mentari, dan di sambut oleh suara burung-burung yang berkicau diantara pohon-pohon yang berjejer.
Pukul 6:00 pagi.
Keduanya sudah rapi, dan sudah bersiap untuk menjemput Bu Indah di terminal.
Bukan tega. Tapi Bu Indah sendiri yang tidak mau di jemput dari rumah, alasannya karena ia ingin menikmati perjalanannya dengan menaiki Bus.
Jadi mereka berdua tinggal menjemput di terminal.
"Sayang kamu mau dibuatkan sarapan apa?" tanya Alex pada Anin.
"Nanti saja sarapannya, jika ada makanan yang enak pas kita di jalan." Ujar Anin.
"Ya sudah, tapi kamu minum susu ya, biar Mas buatkan."
Saat Alex menawarkan, Anin hanya mengangguk. Yah selama kehamilan Anin, Alex selalu memanjakannya dan sangat memperhatikan akan kesehatan anak yang ada di dalam kandungannya, tetap saja tak mengurangi rasa perhatian pada sang Ibu nya juga.
Susu khusus Ibu hamil telah siap untuk di berikan pada Anin.
"Sayang, minumlah." Alex memberikan segelas susu pada Anin.
"Terimakasih sayang," ucap Anin.
"Sama-sama sayang, oh iya kalau gitu, Mas ambil cemilan dulu ya buat di mobil."
"Iya." Jawab Anin, dengan di iringi senyuman yang terlukis di bibirnya.
Setengah jam kemudian Anin dan Alex sudah berada di dalam mobil, dan sudah untuk berangkat.
"Lex, apa kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?"
Alex tersenyum bahagia, karena pada akhirnya Anin bertanya soal nama untuk bakal anak-anaknya kelak, saat sudah lahir ke dunia nanti.
"Sudah sayang, jadi kamu tenang saja." Setelah menjelaskan, sudah tidak ada lagi obrolan di antara keduanya.
Dan pada saat Alex menoleh ke arah Anin, ternyata Anin tertidur dengan wajah teduhnya.
Alex melihat Anin yang sedang terlelap, hanya bisa tersenyum gemas.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Dan tak beberapa lama kemudian, sampailah mereka berdua di terminal.
Dan ternyata Bun Indah sudah menunggu kedatangan mereka di trotoar pintu keluar bus.
Sedangkan di dalam mobil, melihat Ani masih pulas, takut akan membangunkannya. Jadilah ia membiarkan istrinya tidur dan tak ingin mengganggunya.
"Bu," sapa Alex.
"Iya nak." Jawab Bu Indah pada Alex.
"Biar saya bawakan, Ibu masuklah kedalam." Setelah Alex menyuruh mertuanya untuk masuk kedalam mobil, Alex membuka bagasi untuk meletakkan barang bawaan dari mertuanya.
Setelah Bu Indah masuk, Alex juga masuk untuk menjalankan mobilnya.
"Nak Alex, Anin kamu ajak?" tanya Bu Indah pada Alex.
"Iya Bu." Jawab Alex.
"Katanya ngotot pengen ikut Bu, makanya saya ajak." Ucap Alex pada Bu Indah.
"Kamu harus sabar ya, orang hamil memang seperti itu." Ujar Bu Indah.
"Sudah dapat namanya nak Alex?" Bu Indah bertanya perihal nama untuk calon cucunya.
"Alhamdulillah sudah Bu," ucap Alex.
"Syukurlah." Jawab Bu Indah.
Hingga tanpa terasa jika mereka sudah sampai di rumah megah milik Alex.
"Ibu masuk lah dulu, biar saya membangunkan Anin." Ujar Alex pada Bu Indah.
"Ya sudah kalau begitu, Mak masuk dulu." Setelah itu Bu Indah masuk kedalam dan duduk di sofa ruang tamu, meski perjalannya hanya duduk saja, tetap saja itu membuat badannya sakit semua. Mungkin karena faktor usia juga bisa.
Sedangkan di luar, Adi perlahan membangunkan Anin. Dan menepuk pipinya dengan halus.
"Sayang, sayang bangun." Anin masih tidak merespon.
__ADS_1
"Nin, kita sampai di rumah." Anin masih terlelap.
"Sayang, bangunlah." Alex memilih membangunkan Anin dengan cara lain, ya itu memainkan hidung mancung nya, sehingga Anin menggerakkan tubuhnya dan perlahan membuka mata.
"Lex apa kita sudah sampai di terminal?" Anin bertanya, apa sekarang sudah sampai apa belum, mungkin karena Anin tidur sudah cukup lama hingga dirinya tidak menyadari jika sekarang sudah berada di rumah.
"Sayang, mungkin kamu tidur sudah terlalu cukup lama, hingga kamu tidak tahu jika sekarang kita sudah berada di rumah." Alex mencoba menjelaskan di mana mereka kini.
"Berarti aku tertidur lama sekali ya," ucap Anin, dengan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Bisa di bilang seperti itu." Ujar Alex sembari keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Anin. Dan setelah itu dirinya beralih ke bagasi untuk menggambil tas dan kardus bawaan dari mertuanya tadi.
"Itu apa Lex?" tanya Anin penasaran dengan apa yang di bawa oleh suaminya.
"Ini bawaan Ibu tadi, sayang." Tanpa menjawab Anin hanya memangut-mangut kan kepalanya tanda jika dia mengerti, dan tak bertanya lagi.
Sesaat mereka sudah berjalan ke arah pintu masuk, dan Alex mengikuti langkah Anin dengan tangan memegang tas besar dan satu buah kardus yang cukup lumayan besar.
"Bu," sapa Anin."
Setelah bertegur sapa kini mereka berpelukan, untuk menuangkan rasa rindu di antara mereka berdua. Karena sudah hampir enam bulan tak saling bertemu dan jarang memberi kabar tentang masing-masing.
"Ibu jika mau istirahat, istirahatlah. Karena Anin sudah menyiapkan kamar untuk Ibu," ucap Dia pada Ibu nya, jika dirinya sudah membersihkan kamar tamu untuk di tempati oleh sang Ibu.
"Iya, nanti saja Nin." Setelah berujar, Ibu nya berjalan menuju ke arah dapur untuk mengambil minum yang terdapat di kulkas.
Dan karena hari juga sudah siang, ia yakin jika anak dan menantunya belum makan siang, jadi. Bu Indah memutuskan untuk masak, agar anak dan menantunya bisa makan siang.
Dengan cekatan Bun Indah mengeluarkan bahan-bahan yang terdapat di kulkas, lalu memasaknya kari hari pun semakin siang karena sekarang sudah di pukul satu.
"Ibu lagi ngapain?" Anin bertanya dan berdiri di ambang pintu karena dirinya tidak Melihat Ibu nya tidak kunjung keluar.
"Mau masak, Nin." Ucap sang Ibu.
"Lalu Anin menghampiri Bu Indah karena ia ingin melihat Ibunya sedang memasak apa? Hingga beliau fokus dengan apa yang di pegang nya.
" Kamu suka?" tanya Bu Indah.
"Suka Bu, oh iya. Biar Anin bantu ya," ujar Ani menawarkan bahunya untuk membantu sang Ibu.
"Boleh." Timpal Ibunya.
Dan akhirnya mereka berdua masa bersama, dan Bu Indah benar-benar bahagia dengan ini semua, dan dalam hatinya beliau tak henti-hentinya mengucap rasa syukur atas momen seperti ini.
Terimakasih Ya Allah, atas kebahagiaan yang engkau beri, dan hamba bersyukur karena Anin mau memaafkan semua kesalahan yang pernah hamba lakukan kepadanya, Amin.
__ADS_1
Mereka sesekali bercanda dan saling menyenggol, Alex yang melihat pemandangan seperti itu merasa bahagia karena pada akhirnya Ibu dan anak itu kini bisa akur, sesuai apa yang diharapkannya.