Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 37 . KEMBALI KE KOTA LAGI


__ADS_3

Tiga hari sudah Anin berada di rumahnya milik Niko, dan selama itu pula Anin sedetik pun tak pernah meninggal kan Niko.


Dan di rasa sakit yang di rasakan Niko, sudah tak terasa Anin pun akan pamit hari ini dan kembali ke desa sebrang untuk melanjutkan perjalanan hidupnya.


Ada perasaan berat untuk meninggal kan Niko, karena bagaimana pun ia harus bekerja demi memenuhi kebutuhannya, karena tak ada yang di harapkan lagi dalam hidupnya.


Jika di tanya apakah dia punya orang tua, Anin mempunyai.


Apa Ia punya saudara, Anin pun juga memiliki, lantas kemana mereka.


Mereka sibuk dengan hidupnya tanpa memperdulikan jika Ibunya masih mempunyai anak! namun sayang nasibnya sedang di uji oleh sang pemilik kehidupan hingga ia tak di anggap, hingga ia di hiraukan, hingga ia tersisihkan, hingga ia di bedakan! nasib siapa yang tau, tak ada selain Tuhan sang maha pencipta.


Biarlah luka ini ku obati pelan-pelan.


Biarlah sakit ini aku tahan.


Biarlah rasa sesak di sini di hati ini aku simpan sehingga tak ada satupun yang tau akan siapa aku.


Karena aku yakin jika suatu saat Ibu akan mencari ku.


Ibu akan menyayangiku.


Memberi kasih sayangnya yang sempat tertunda padaku.


Karena aku tak mau di balik dosaku, masih ada dosa lagi, Tuhan aku harap engkau mendengarkan doa ku.


🍀🍀🍀


"Apa kamu yakin akan kembali sekarang Nin, karena sebetulnya Ibu tak rela jika kamu pergi."


"Maaf Bu, jika tak kembali hari ini lantas nasib kami bagaimana, kami juga harus bekerja." Ucap Anin, dan mencoba memberi sedikit penjelasan berharap Bu Susi mau mengerti.


Sedang kan Niko terlihat dari raut wajahnya juga sudah enak di pandang tak seperti kemarin mirip mayat hidup, sekarang lebih segar meski masih tersisa kantung mata yang menghitam namun tak separah kemarin.


"Baik lah jika itu keputusan kamu, Ibu tak bisa mencegah, jangan lupa baik-baik di sana ya."


"Begitu pun dengan Intan, tante juga makasih pada kalian."


"Sama-sama tante."


"Kak Niko aku berangkat ya, sehat-sehat ya, aku gak mau kalau kita ketemu dengan keadaan sakit," keluh Anin.


"Iya kamu tenang saja, kita bakal ketemu saat aku ngelamar kamu."


"Huh." Anin terkejut bukan main mendengar apa yang di ucapkan oleh lelaki satu-satunya di antara Bu Susi, Anin, dan Intan.


"Cie..Cie.. Yang udan gak tahan pengen cepet Nikah."


"Diam!" ucap Anin dan Niko bersamaan.


"Tuh kan tante."


"Bisa diam gak kamu." Lagi-lagi mereka menjawab dengan kompak.


"Tuh kan tante mereka Kompak banget."


"Intan."


"Nah loh barengan lagi kan."


Bu Susi yang melihat kelakuan muda mudi yang berada di dekatnya hanya bisa tersenyum sambil sesekali menggelengkan kepala.


"Ya sudah tante kami pamit ya."


"Kak Aku pamit ya."

__ADS_1


Setelah berpamitan lantas ia keluar dari rumah Niko yang megah.


.


.


.


"Gue gak nyangka kalau Niko anak orang kaya, secara penampilannya sudah mirip berandalan." Ungkap Intan pada Anin.


"Makanya lu jangan pernah melihat sampul dari buku itu."


"Iya Maaf."


🍀🍀🍀🍀


Tak terasa setelah memakan waktu yang cukup panjang akhirnya mereka sampai juga di kos.


"Nin, gue masuk ke kamar dulu ya mau bobo ngantuk." Memang kentara dari raut wajah Intan jika ia memang letih, karena ia jarang bepergian dengan waktu yang cukup lama berada di kendaraan.


"Iya, sekali lagi gue makasih ya."


"Santai saja kali."


Belum juga Anin merebahkan tubuhnya nyatanya Alex, tiba-tiba sudah berada di tempat Anin.


"Nin, buka pintunya."


"Anindiyah segera buka."


"Baru juga mau rebahan eh udah nongol saja itu muka kulkas" gerutunya, karena kedatangannya membuat ia tak jadi istirahat.


"Apaan sih lu ganggu orang mau ngorok saja." Betapa kesalnya aku di ganggu sewaktu akan berkelana di dunia mimpi sialan gak tuh.


"Mulai dah si mulut pedas,"


"Mau minta kamu buat temenin saya makan."


"Apa lu kagak berani makan sendirian sehingga meminta gue buat temenin."


"Inget yah kamu gak bisa nolak saya, karena kamu masih ada hutang dengan saya!"


Sedetik aku menelan ludah dengan susah payah, karena memang aku masih terikat perjanjian dengan si muka kulkas itu,


Tuhan segeralah berakhir kan semua ini, aku benar-benar sudah tak tahan. Masih satu bulan lagi baru lepas duh lama banget ya.


"Baik lah."


"Nah gitu sesekali jangan bantah."


"Belum juga jadi istri saya udah main bantah saja gumamnya"


"Kamu bilang apa barusan, siapa yang mau jadi istri lu haram gue jadi bini lu."


"Eh mulut cabe, Kira-kira dong kalau ngomong di kira gue ba*i apa."


"Emang lu ngerasa b*bi," tekan Anin.


"Enggak."


"Lantas ngapa lu marah."


"Pokoknya saya gak mau tau temani saya cari makan, sekalian kita bahas soal permintaan Ibu."


Mendengar ucapan Alex, membuat Anin memikirkan ajakan Alex, karena menyangkut masa depannya.

__ADS_1


"Baik lah gue ikut elu."


"Nah gitu dong, itu baru anak pintar,"


"Dasar Om-om jones."


"Enak aja di bilang jomblo ngenes,"


"Lah emang nyatanya gitu kan."


"Udah lah jangan banyak bicara, buruan kita pergi sekarang."


"Heran deh gue, Mak lu pas bikin elu pada diem-dieman ya."


"Maksud kamu."


"Lah iya, jadi anaknya kek gini, mukanya datar gak ada senyum-senyumnya."


"Bener-bener ya kamu, emang saya gak salah kalau manggil kamu si mulut cabe."


"Bodoh amat."


Setelah Anin mengatakan itu, ia langsung melengos masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas.


.


.


.


Tak berapa lama sampai lah mereka di rumah makan.


"Kamu mau pesan apa!" tanya Alex pada Anin.


"Gue minum saja."


"Kamu gak pesen makanan,"


"Tidak!"


"Ya sudah terserah kamu, terus kamu mau pesen minum apa,"


Lantas Anin memikirkan untuk memesan minuman apa, dan di liriknya daftar menu yang terdapat di tembok.


"Kopi saja,"


Akhirnya Alex berdiri menemui pegawai di rumah makan itu dan memesan beberapa makanan serta minuman.


Aneh jika memesan makanan saja mengapa harus ke belakang dan berbisik pada Mbak-mbak yang jaga rumah makan ini ya. batin Anin.


Entah berapa lama Anin, memandangi Alex yang tengah berbicara pada pelayan itu, dan nampaknya begitu akrab.


Apa Alex langganan di rumah makan ini, hingga ia akrab pada semua pegawai.


Atau tempat ini milik temannya.


"Ah, sudah lah tak penting juga untukku" gumam Anin.


Dan tak berapa lama semua makanan sudah berada di atas meja, dan betapa sangat terkejutnya ia melihat begitu banyaknya makanan yang berada di hadapannya.


"Kamu habis dengan semua ini,"


ujar Anin pada Alex, karena terdapat beberapa menu yang di hidangkan, sedang ia hanya memesan minum.


"Sudah diam lah waktunya kita makan dan jangan berbicara lagi."

__ADS_1


Seketika muka Anin berubah bak serigala yang akan memangsa mungsunya, kesal ingin marah serta ingin memakinya namun tak mungkin ia lakukan di tempat umum.


"Apa Alex Sudah Gila dengan memesan makanan sebanyak ini, apa ia gue juga harus ikut memakannya" keluh Anin di dalam hatinya.


__ADS_2