
Pukul 7:00 pagi.
Suara kicauan burung yang saling bersahutan, sinar mentari tak terlihat akibat awan yang berselimutkan mendung, seakan langit ingin menangis. Mungkin sebentar lagi sang langit akan menangis lalu membasahi bumi serta tanah yang selama ini di buat pijakan.
Tak berapa lama rintik-rintik hujan telah membasahi dedaunan akibat tetesan air yang jatuh dari langit, semakin deras dan semakin membuat tumbuhan itu basah. Sedangkan Anin tak ingin beranjak dari ranjangnya meski dirinya sudah membuka mata.
Anin masih menikmati pelukan hangat dari Alex, dan wajah teduhnya membuat Anin semakin merasa nyaman berada di pelukan lelaki yang saat ini menyandang sebagai kekasihnya.
"Jangan pernah tinggalkan aku meski sedetik." Anin bergumam dengan tangan yang membelai wajah tampan yang berada di depannya.
Mungkin dulu aku belum yakin akan dirimu Lex, nyatanya kamu membuktikan dan meluluhkan hatiku yang beku. Dan aku telah menyadari bahwa aku telah mempunyai perasaan yang sama dengan mu. Dalam diam Anin membatin yang telah telat menyadari bahwasannya jika dirinya juga membutuhkan Alex sebagai sosok yang mampu melindunginya, menemani dalam keadaan suka mau pun duka, dan selalu ada jika dirinya membutuhkan.
"Apa aku terlihat tampan sampai-sampai kamu tak beranjak dari hadapan muka ini." Anin merasa malu karena sudah terpergok oleh Alex.
"Sudah lah, pagi-pagi jangan berbicara seperti itu." Ujar Anin dan masih malu akibat telah mencuri pandangan.
Kini mata mereka saling beradu pandang, dan wajah mereka tanpa jarak saling bertatapan.
"Apa kamu tak menyesal jika aku mengikat hatimu."
"Pertanyaan macam apa ini, jika kamu melepaskan ikatan ini, maka aku memohon dengan sangat dengan, Anin agar selamanya tak di lepaskan." Alex berbicara dengan tegas.
"Aku takut, takut jika kamu menyesal, takut ji..." Ucapan itu terhenti karena Alex sudah membungkam bibirnya, dengan mulutnya.
Hujan semakin deras, seakan mereka adalah saksi bagi keduanya.
Kini mereka saling menikmatinya, dan saling bertukar slavia, dan tangan Alex pun kini berpetualang gunung kembar milik Anin, tanpa sadar mulutnya mendesah.
"Maaf," Alex melepaskan tautannya dan meminta maaf pada Anin, mungkin dirinya merasa bersalah. Tapi, Alex lelaki dewasa dengan usia hampir berkepala empat, jadi dirinya tak bisa berbohong dan tak ingin menjadi manusia munafik, yang pura-pura tahan dengan dirinya tidur seranjang dengan wanita yang bukan kekasih halalnya. Nyatanya ia tak tahan apalagi dirinya normal, di tambah sentuhan-sentuhan lembut yang Anin berikan.
"Untuk apa?" Anin merasa heran mengapa Alex meminta maaf, atau jangan-jangan soal ciuman barusan? Anin masih menunggu jawaban dari Alex.
"Karena telah lancang kepadamu." Anin tersenyum, kini hatinya benar-benar yakin dengan pilihannya sekarang, karena Alex lelaki baik.
__ADS_1
"Sudah lah, karena aku juga menikmatinya," tanpa ada rasa malu maupun itu marah, justru Anin tak memikirkannya.
"Dasar bocah." Alex mengacak rambut Anin karena dirinya merasa gemas.
"Kamu tahu? Harusnya aku manggil kamu dengan sebutan ayah! karena aku dan kamu terlihat seperti anak dan Bapaknya, karena usia kita terpaut jauh."
"Nyatanya semua itu tak menjadikan penghalang untuk kita, jika aku sudah tua apa yang kelak akan kamu lakukan."
"Aku akan membunuhmu dan merebut semua usaha yang kamu kelola, dan mencari suami lagi." Jawaban Anin membuat Alex tertawa.
"Tapi di saat itu, apa aku bisa menemukan sosok lelaki seperti kamu, kurasa tidak! Karena hanya satu di antara ke seratus lelaki seperti kamu."
Sudah ku duga Nin, jika kamu akan berkata seperti ini.
"Maka jangan pernah meninggal kan aku."
Lalu Alex membawa Anin ke dekapannya lagi, dan berkata.
"Apa kamu tak ingin mengulang lagi," ucap Anin dengan wajah yang mendongak ke atas.
"Apa kamu tidak takut," ujar Alex.
"Tidak!" ucap Anin dengan enteng.
"Kamu yang meminta ya, bukan aku. Ternyata gadis kecil sepertimu bisa mesum juga," dalam gelak tawa Alex berujar.
"Apa kamu tidak menginginkannya," untuk yang ke dua kalinya dan kini tangan Anin sudah bermain di wajah, di dada, dan beralih ke bibir Alex. Dan itu semua membuat Alex tidak nyaman sama sekali, karena wanita tersebut terus saja memancing hasratnya.
"Sayang, jangan menyiksaku begini," suara Alex mulai berat.
"Aku hanya bertanya," ujar Anin tanpa dosa.
"Jika kamu terus menyiksaku, dan tangan nakal mu terus bermain-main, kamu kira aku akan tahan, tidak sayang. Aku berusaha bertahan tetapi jika kamu begini terus dan akhirnya membuat pusaka ku bangun.
__ADS_1
Tanpa memberi ampun Ani terus saja bermain-main, dan gadis berusia 22tahun itu, entah dirinya memang sedang ingin lebih dari tubuh Alex dan itu membuatnya sangat agresif atau karena sudah merasakan surga dunia, hanya Anin yang tahu.
Alex benar-benar sudah tidak kuat, dan semakin di tahan semakin dirinya tersiksa.
"Maka jangan salah kan aku," bisik nya di telinga Anin.
"Maka lakukan lah, dan ingat jangan menampung kecebong." Anin sedikit memperingatinya.
Tuhan, aku benar-benar tak tahan, maafkan hamba tuhan. Batinnya dalam hati.
Kini Anin sudah berada di dalam kungkungan Alex, untuk pertama kalinya Alex melakukannya dengan Anin. Dan meski mahkota itu telah hilang, tapi Alex merasakan sensasi yang luar biasa.
Pagi yang akan berganti siang, namun hujan masih belum memperlihatkan akan reda. Suasana pagi yang dingin. Tapi, bagi mereka adalah pagi yang panas karena telah melakukan olahraga pagi.
Dan kamar ini telah menjadi saksi cinta mereka ke dalam surgawi kenikmatan. Pergulatan telah selesai dan Alex pun ambruk di tubuh Anin, dan menciuminya lagi, karena Alex benar-benar ketagihan.
"Ini adalah lukisan ku jadi, sepenuhnya kamu milikku Nin," ujar Alex yang meninggalkan banyak tanda merah di sekujur tubuh Anin, dan setelah itu menyelimutinya.
"Dan maaf aku khilaf, karena sudah tidak tahan, maka aku akan segera menikahi mu." Ujarnya lagi.
"Anin tak bereaksi hanya diam dan tak bergeming, hingga ia memanggil nama Alex.
" Lex," panggil Anin.
"Aku lapar." Jawab Anin.
"Baik lah aku akan menyiapkannya, kamu lekas lah bersih-bersih." Lekas Alex bangun dan memakai celananya lagi, setelah itu menggendong Anin menuju ke kamar mandi.
"Maaf," Alex berulang kali meminta maaf hingga membuat Anin jengah.
"Sudah lah itu kemauan ku, dan aku yang menginginkannya, jadi kamu tak perlu meminta maaf, dan sekarang turunkan aku."
"Ya sudah aku turun dulu." Anin mengangguk, sedangkan Alex menuruni anak tangga untuk mencapai ke dapur.
__ADS_1
Tak berapa lama Anin sudah turun dan kini menghampiri Alex sedang membuat nasi goreng jawa kesukaan Anin.
Sayang kamu wangi sekali," Anin yang memeluk Alex dari belakang , merasakan nyaman karena aroma dari tubuh Alex.