Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 87. Kembalinya Alex.


__ADS_3

Seminggu sudah, Alex berada di luar kota untuk memantau proyek. Dan hari ini rencananya dia akan pulang lebih awal dari perkiraan. Mengingat akan sentuhan-sentuhan yang di berikan oleh Anin membuatnya sudah tak sabar, untuk segera sampai di rumah.


SEDANGKAN DI LAIN TEMPAT.


Anin yang tidak tahu jika hari ini Alex akan pulang, dirinya pun masih di sibukkan dengan restauran yang sedikit agak rame dari biasanya, tak sedikit orang yang mengagumi karena bisa mendapatkan hati Alex yang terkenal dingin seperti beruang kutub, dan tak banyak juga dirinya menjadi cemoohan oleh orang-orang yang iri, ah lebih tepatnya tidak suka dengannya. Karena di anggap jika Anin hanya mau hartanya, dengan topeng sebagai calon istri.


"Nin, elu gak papa kan. Gue lihat elu pucat." Yuda yang melihat Anin seperti orang yang sedang sakit karena terlihat dari raut wajahnya yang letih serta tak bersemangat, membuat Yuda bertanya.


"Gue lupa kalau seharian ini belum makan," ujar Anin yang menjelaskan jika wajah pucat nya di karenakan ia lupa dengan sepiring nasi, karena saking seriusnya untuk membantu para karyawan yang lain.


"Harusnya elu itu makan dulu, dan utamakan kesehatan." Yuda memarahinya pasalnya jika sudah fokus bekerja maka Anin akan seperti itu, lupa dengan makannya, dan lupa jika dirinya masih punya perut yang ia harus beri makan.


"Iya nanti gue bakal makan kok." Jawab Anin, yang merasa dirinya kuat.


"Enggak, sekarang elu harus makan, dan diam di situ." Maka seperti itulah jika dirinya bersama Yuda. Rasa perhatian Yuda melebihi seorang teman, namun kenyataanya memang seperti itu. Karena Yuda menganggap Anin sebagai saudaranya, karena dirinya pernah kehilangan adiknya jadi, tentunya ia akan menganggap Anin layaknya Kakak yang perhatian dengan sang adik.


Tak berapa lama, Yuda sudah membawakan makanan dan segelas air untuk Anin.


"Nin, kamu cepat lah makan." Titahnya pada Anin untuk segera memakan makanan yang di bawakan oleh Yuda.


Tak membutuhkan waktu lama, Anin sudah menghabiskan makanan tersebut dengan lahap karena memang dirinya sangat lapar.


.


.


.


.


.


.


.


.


Pukul empat sore, Anin memutuskan untuk pulang dan nanti dirinya akan berniat datang kembali, merasa bosan di rumah tanpa ada siapapun. Jadi selama Alex di luar kota, Anin lebih banyak menghabiskan waktunya di resto.


Setibanya d rumah, Anin sedikit takut karena gerbang yang semula di gembok kini telah terbuka.


"Kok ke buka ya, perasaan tadi ku gembok deh." Gumam Anin.

__ADS_1


"Eh, itu kan mobil Alex. Berarti hari ini pulang dong, bukannya masi dua hari lagi." Lagi-lagi Alex bertanya pada dirinya sendiri perihal kepulangan Alex, karena seminggu lalu saat Alex berpamitan ia bilang bahwa sekitar sepuluh harian berada di luar kota, tapi. Hari ini tau-tau sudah berada di rumah.


Dengan langkah yang tergesa-gesa Anin langsung membuka pintu. Dirinya belum masuk sampai ke dalam namun hidungnya sudah mengendus-endus aroma masakan yang begitu nikmat.


"Wah, harum banget ini masakan." Ujar nya yang berbicara sendiri dengan langkah yang terus berjalan menuju ke arah dapur.


"Seperti kucing saja!" seseorang berbicara, membuat Anin mencari-cari sosok tersebut, karena sudah mengatai dirinya kucing.


DEG.


Ternyata ada tante Lita, duh malu gue.


Anin menunduk karena malu, pada seseorang yang sudah berani mengatainya tadi.


"Tante, apa kabar," ucap Anin basa-basi. Menyapa ibu dari kekasihnya itu.


"Hye, sayang apa kamu enggak ingin meluk tante," Bu Lita yang sudah siap menyambut pelukan dari Anin, sang calon mantu.


"Ah, tante, Anin kangen banget sama tante." Anin yang kini sudah berada di pelukan Bu Lita, dan mereka berdua tengah bernostalgia karena memang mereka cukup lama tak saking bertemu.


Alex yang hanya memandangi mereka berdua, harta terindahnya, dan kebahagiannya. Dengan di iringi senyum Alex bersyukur pada Tuhan, karena dirinya di beri bidadari-bidadari yang amat cantik.


Ekhem...


"Apa kalian melupakan ku." Alex berkata sembari menunggu Anin yang menghampirinya.


"Ah, sayang aku merindukan mu." Ucap Alex yang sudah membawa Anin ke dalam dekapannya.


"Iya sama aku juga." Timpal Anin.


"Ah iya, sudah lepas kan pelukan itu, ingat kalian belum sah." Bu Lita menegur Alex dan Anin, agar melepaskan rindu yang tertahan selama seminggu ini.


Aish Ibu ini ya, ganggu saja, dalam hatinya Alex menggerutu.


Duh malu deh gue, dapat teguran dari tante.


Lalu mereka melepaskan rindu yang tertunda itu, dan kini semuanya duduk di kursi masing-masing.


"Nin, kita makan dulu ya, setelah itu kita bicara penting." Tanpa ekspresi Bu Lita, berbicara membuat Anin tegang.


Sedangkan Alex melemparkan senyuman pada Anin.


Untuk beberapa saat acara makan telah usai, dan semuanya sudah berkumpul di ruang keluarga.

__ADS_1


Dan akhirnya Bu Lita pun memulai pembahasan yang terlihat sedikit serius.


Setelah itu.


"Apa ini serius, tante." Anin ingin memastikan jika ini serius, dengan sedikit gemetar bercampur terharu, ternyata Alex benar-benar menepati janjinya.


"Serius dong, masa iya bercanda!" sungut Bu Lita yang merasa jengkel melihat calon menantunya yang polos tersebut.


"Bercanda tante, hehehe." Anin melempar senyuman pada calon mertuanya tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Beberapa minggu kemudian, dua sejoli itu, telah sah menjadi suami istri. Dan Edi bahagia karena bisa menikah kan Anin, dan begitu pula dengan Bu Indah yang tak kalah bahagia melihat putrinya telah sah menjadi seorang istri.


Dan Bu Susi tak bisa hadir di hari bahagia saat dirinya di beri kabar oleh Anin, karena dirinya akan melangsungkan pernikahannya. Suami Bu Susi sedang di rawat di rumah sakit, itu lah alasannya mengapa tak menghadiri pernikahan Anin. Dan tentunya Bu Susi bahagia jika Anin sudah merelakan kepergian anaknya, Niko."


"Ibu jadi pulang hari ini?" tanya Anin pada Ibunya.


"Iya dong, jika lama-lama di sini lantas tokonya akan tutup terus. Karena pelanggan pada kabur semua."


Sontak membuat semua yang berada di ruangan itu tertawa.


"Baik lah, kalau begitu. Ibu hati-hati ya." Alex ikut menjawab.


"Tentu, dan segera berikan Ibu cucu. Bukan begitu besan." di saat bersamaan kedua pengantin baru itu tersenyum.


Namun itu hanya sesaat, karena nampaknya Anin tak terima jika dirinya saja yang di tuntut untuk segera memberinya cucu.

__ADS_1


"Kenapa Ibu egois.ketimbang nyuruh aku buat bikin cucu, mending nyuruh Abang buat segera nikah." Saat semua tertawa namun berbeda dengan Edi. Yang merasa terpojokkan karena sampai di umurnya yang ke 27tahun dirinya juga belum menemukan wanita yang pas untuk di ajak mengarungi bahtera rumah tangga.


__ADS_2