Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 83. Sebotol minuman


__ADS_3

Setelah pertemuan itu, membuat Anin hidupnya merasa tak tenang, karena entah mengapa dirinya sudah mirip buronan yang kabur.


Takut, tentu saja. Saat secara gamblang Yuda berusaha mendapatkan aku, dan aku tak tahu apa maksudnya namun itu semua menurutku dirinya terlalu berobsesi untuk mendapatkan sesuatu. Urusan ku dengan sudah selesai tapi mengapa ia terus saja mengganggu ku di saat aku sudah bahagia dengan jalanku.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Lex Aku ingin sesuatu yang bisa membuat nyawaku terbang melayang, bisa kah kamu memberi ku sesuatu."


"Contohnya," timpal Alex.


"Seperti minuman atau apa lah itu." Ujar Anin.


"Sudah lah jangan macam-macam sayang," Alex berusaha menolak permintaan Anin yang di rasa sudah tak wajar.


" Oh ayo Lex." Anin memohon pada Alex supaya dirinya mau menuruti kemauannya, dan ia harusnya tahu, kalau Alex bukan lah lelaki seperti itu.


"Tidak sayang, kamu tau kan itu di larang." Alex menasehati Anin, meski ia tahu kalau Anin tak akan mendengar apa yang ia ucapkan, meski begitu Alex tak pernah letih untuk terus mengingatkannya walau dirinya pun tahu kalau ia juga bukan lah lelaki yang mengerti akan agama.

__ADS_1


Anin tak bergeming, dan Alex tahu jika Kekasihnya itu merajuk. Meminta hal yang di luar dugaan, apakah dirinya harus menuruti keinginan sang kekasih, atau membiarkannya.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam, tak ada obrolan karena bagi Alex percuma, nyatanya setiap ia mengajak Anin mengobrol tak pernah di jawab walau sekali..


Apa saya harus menuruti kemaun Anin, tapi jika di turuti itu sama saja dengan aku membawanya ke dalam kesesatan, tapi jika tak di turuti maka sampai besok, bahkan lusa bisa jadi sampai akhir tahun akan diam padaku. Agh, kenapa jadi begini. Alex merutuki apa yang terjadi sekarang, benar-benar bingung. Pasalnya ia sudah berjanji tidak akan membuatnya sedih.


Tak berapa lama Alex sudah berada di depan rumahnya, dan ia pun turun dan membukakan pintu untuk Anin.


"Sayang kemari lah," panggil Alex pada Anin.


Anin masih enggan untuk berbicara, namun langkahnya menuruti perintah Alex.


"Minum lah dan ingat jangan banyak-banyak." Ujar Alex sambil memperlihatkan kresek yang berisikan botol.


"Ah.. Makasih sayang." Anin memeluk Alex dengan sangat erat, dan itu membuatnya sedikit bergetar bagaikan tersengat arus listrik.


Saat ini, saat ini posisi Alex sedang menghadap laptop, dan membiarkan Anin menikmati minuman beralkohol sendiri. Membiarkan dirinya melampiaskan kekesalannya, lewat minuman tersebut.


Melihat Anin dengan wajah yang sudah merah, Alex berinisiatif untuk menghentikannya, jika tidak! tiga botol akan di habiskan nya, karena tadi sewaktu mereka di jalan, Alex menyuruh salah satu karyawannya untuk membelikan apa yang di perintahkan.


"Sedikit lagi, ayo lah sayang aku masih belum puas." Rengek Anin yang sudah mirip seperti bayi.


Aku bahagia Nin, saat kamu memanggil ku sayang, tapi itu hanya sedetik, nyatanya kamu mabuk dan gak sadar apa yang kamu sebutkan barusan.


"Gak sayang, itu sudah cukup." Dengan terpaksa Alex menggendong Anin lalu tangga demi tangga di lalui nya hingga sampai pada di kamar milik Alex.


"Lex boleh kah aku mengatakan sesuatu," Anin yang sudah di baringkan, tapi dengan segera ia bangkit lalu duduk, sambil bermain di dada bidang milik Alex.


"Tapi sebelum itu bisa kah kamu jangan bermain-main di sini." Alex merasa risih dengan sentuhan-sentuhan yang di berikan oleh Anin, bukan risih sebetulnya? Lebih tepatnya ia merasa ada sengatan arus listrik yang membuatnya tak mau terlena dengan permainan Anin, yang melukis di dadanya entah gambar apa.


"Apa kamu keberatan, saat tangan ini tengah menulis nama ku dan nama kamu,"


"Terserah tapi jika setan itu muncul lalu merasuki tubuhku, dan menerkam mu maka jangan salah kan aku, sudah lah kata mu akan mengatakan sesuatu. Sekarang katakan jangan membuat aku menunggu." Alex semampunya bertahan dengan apa yang di lakukan setan kecil di hadapannya, yang terus saja bermain-main di dada bidangnya.

__ADS_1


"Jadi, lelaki yang ada di restauran itu ada lah orang yang pernah merasakan tubuh ku." Dengan lantang Anin berkata jujur, apa ini dari pengaruh alkohol tersebut, hingga ia berani berkata demikian.


Ingin sekali marah, tapi apa harus egois, karena sesungguhnya **tak q**ada keniatan untuk melakukan itu semua, tapi aku salut, di balik dosa yang kamu lakukan ada satu nyawa yang kamu selamatkan meski, itu uang dari hasil mahkota yang kamu jual.


"Lex, kenapa kamu diam, apa kamu marah kepadaku karena aku mengatakan kata-kata yang menjijikkan." Anin terus saja berceloteh ke sana kemari. Hingga Alex lelah untuk menyahutinya.


"Sayang tidur lah, ini sudah cukup malam, dan siapa tahu besok pikiran mu akan jauh lebih baik, karena saat ini kamu sedang di kuasai oleh minuman itu." Ujar Alex sambil berjongkok melepaskan sepatu yang di kenakan Anin.


Setelah selesai melepas sepatunya kini Alex sedang membaringkan badan Anin, namun siapa sangka, jika Alex ikut terbaring menimpa tubuh ringkih Anin.


"Tampan," Yah Alex menimpa tubuhnya karena ulahnya yang menarik kera bajunya.


"Jika kamu tidak mabuk, apa akan memujiku seperti ini."


"Siapa yang kamu bilang mabuk, aku! Kamu salah Lex, aku sedang tidak mabuk." Ujar Anin yang masih menatap wajah yang di bilang tampan barusan.


"Apa kamu sengaja mengerjai ku, jika tidak mabuk manalah mungkin wajah mirip tomat." Ucap Alex.


"Bangun lah bodoh, kamu terlalu berat." Sungut Anin.


Lalu Alex dengan cepat langsung bangun, karena sebetulnya dirinya terperangkap oleh permainan Anin, hingga mengundang syahwatnya.


"Lelaki itu membeli ku dengan harga fantastik, dengan satu syarat, aku harus mau menjadi ja*ang nya di atas ranjang dan memuaskan hasratnya." Dengan mata yang berkaca-kaca Anin berkata, kini Alex baru mengerti jika minuman beralkohol itu hanyalah pelampiasan untuk dirinya yang tengah menyimpan lara di hatinya.


Alex yang mendengar pun ikut menangis, karena di saat Anin membutuhkan pertolongan dirinya tak ada di dekatnya.


"Lex mau kah kamu memelukku," Anin meminta Alex untuk memeluknya, dan Alex pun dengan cepat membawa tubuh Anin ke dalam pelukannya.


"Sekarang tidur ya."


"Jangan tinggalkan aku, tetap lah di sini." Anin berkata dengan memegang erat tangan Alex.


"Apa kamu serius, ku kira kalau memang kamu benar mabuk." Alex merasa heran dengan permintaan Anin, pasalnya itu semua tak pernah terjadi sebelumya. Jadi, wajar saja jika Alex merasa aneh, dengan tingkah Anin sekarang.

__ADS_1


"Aku memang sedang tidak mabuk Lex, aku butuh kamu untuk malam ini, tolong temani aku tidur." Pinta Anin dengan suara yang sudah mulai lirih.


"Baik lah, sekarang tidurlah aku akan menemani kamu." Dengan perlahan Alex menaiki ranjang lalu memeluk Anin yang sudah mulai kehilangan kesadaran.


__ADS_2