Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 95. Kembalinya Erika


__ADS_3

Angin bawalah rasa resah ku ini yang menari-nari di atas kepalaku.


Bawa semua hingga tak tersisa, seperti rasa cintaku yang ku beri kepadamu, yang tiada batas waktu. Dalam sujud ku, ku sebut namamu. Dalam doaku ku ucap syukur atas nikmat ini.


Setelah mendapatkan semua pesan sesuai apa yang di inginkan oleh Anin, Alex pun masuk ke dalam mobil.


Akan tetapi saat dirinya akan membuka pintu, tiba-tiba saja suara bariton membuatnya urung untuk membuka pintu mobil.


"Alex," panggil seseorang.


"Iya," Alex menoleh, rupanya yang memanggil adalah Erika.


"Mau apa dia?" batin Alex.


"Darimana kamu Lex?" tanya Erika pada Alex.


"Habis ini beli pesanan Anin, katanya lagi kepengen makan batagor sama somay," ujar Alex


"Oh."


Erika hanya ber oh ria, mendengar penuturan dari Alex.


"Lex, temani aku minum mau gak," ajak Erika pada Alex.


"Maaf Rik, ini udah di tungguin sama Anin. Jika kelamaan takut ia akan marah." Alex menolak ajakan Erika secara halus, agar tidak menyakiti hatinya.


"Kalau lain waktu boleh dong," ujar Erika.


"Insya Allah, saya enggak janji. Ya sudah kalau begitu saya pamit ya," ucap Alex pada Erika.


"Iya hati-hati." Erika menimpali dengan senyum yang sedikit di paksakan, padahal hatinya kini seperti tercabik-cabik karena hanya Anin, dan Anin.


Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, dan membelah jalanan yang cukup mulai ramai. Karena saat ini dimana semua orang selesai pulang beraktivitas, dan waktunya semua orang pulang ke rumah masing-masing.


Sekitar setengah jam. Alex sudah berada di pekarangan rumahnya, dan kini dirinya sudah memarkirkan mobilnya di dalam garasi dan hendak akan masuk.


Melihat di dalam rumah sepi, akhirnya Alex memutuskan untuk masuk ke kamar. Karena Alex yakin jika sang istri sedang berada di dalam sana.


Ceklek.


Perlahan Alex membuka pintu dengan begitu pelan, dan terlihat Anin sedang berada di bawah selimut.


Alex menghampiri sang istri dan menepuk nepuk pipinya, berharap sang istri bangun untuk segera memakan makanan yang ia pesan.


Anin yang merasa pipinya di tepuk halus, merasa tidurnya sangat terganggu.

__ADS_1


Alex menepuk pipi mulus Anin, tapi tetap saja tidak bangun, dan alhasil dirinya pun ikut tertidur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Laman-laman terdengar suara adzan di kumandangkan. Membuat kedua insan tersebut menggeliatkan tubuh mereka masing-masing.


Eumm.


Terdengar sura lenguhan Anin, membuat Alex segera mungkin membuka matanya secara perlahan.


"Sayang, bangun." Alex mencoba membangunkan istrinya, karena hari semakin gelap.


Dengan perlahan Anin membuka matanya dengan perlahan namun pasti.


"Lex, kamu tidak lupa kan yang ku pesan tadi pagi," ujar Anin pada Alex.


"Enggak kok sayang, ya sudah buruan bersih-bersih."


Tanpa menoleh Anin langsung turun dari ranjang, dan bergegas menuju ke kamar mandi.


"Sayang, kita makan di luar yuk," Anin bergelayut manja hanya karena ingin makan di luar.


"Baik lah, tapi ada syaratnya," ujar Alex dengan tatapan menggoda.


"Memangnya enggak bisa gratis ya?" Anin bertanya dengan bibir yang di majukan, hingga membuat Alex gemas.


Cup.


Anin mencium bibir Alex, namun Alex tak melepaskan kesempatan itu. Dan dengan lihai tangan-tangan nakal itu sudah masuk menerobos di dalam baju hamil milik Anin.


"Aaaaaa, sayang." Anin mendesah, menikmati sensasi yang di berikan oleh Alex.


Uhhhuuu.


Ahhhhhh.


Entah bagaimana caranya, hingga semua baju mereka sama-sama hilang dari tubuhnya, dan mereka kini menikmati surga dunia tersebut.


Peluh yang membanjiri setelah melakukan olahraga malam, membuat keduanya sama-sama ambruk.


"Terimakasih sayang." Lalu Alex mencium kening sang istri, dan setalah itu menutupi tubuhnya hingga ujung leher.


"Lex, aku lapar," ucap Anin dengan suara memelas.


"Katanya mau keluar?" Alex bertanya pada Anin, karena tadi ia meminta untuk makan di luar.

__ADS_1


"Tidak jadi, aku lelah." Setelah melakukan pertempuran membuat Anin kelelahan, hingga ia memutuskan untuk makan di rumah saja.


"Baik lah. Kamu mau makan apa?" tanya Alex.


"Aku ingin sate, dan martabak, udah itu saja," ucap Anin.


"Ya sudah , Mas belikan ya." Setelah berucap, Alex bangun dan memakai lagi pakaiannya untuk keluar mencarikan apa yang di inginkan sang istri.


Alex sudah keluar, kini tinggal Anin sendiri di rumah. Entah pikirannya kembali kacau saat dirinya menerima pesan singkat yang dikirim oleh Erika.


Yah Erika sempat mengirimkan pesan, jika dirinya serius dengan apa yang dikatakan. Jika suatu hari dirinya bisa merebut Alex dari tangan Anin.


Ya Allah, mengapa saat aku merasakan akan kebahagiaan ini, justru dihadapkan dengan ini semua. Dalam hatinya ia mengadu pada sang kuasa, berharap hubungannya akan selalu indah, dengan sang suami.


Erika mengancam, jika dirinya tidak bisa mendapatkan cinta Alex Maka Anin juga sama, jika dirinya tidak akan bisa bersama Alex lagi.


Anin takut, takut jika apa yang di katakan Erika adalah benar. Dan itu bukan buaian sesaat.


Semoga apa yang di katakan oleh Erika adalah gertakan sambal, agar lebih memudahkan jalannya untuk menjadi istri dari Alex, sungguh picik pikiran kotor Erika.


Jika Anin berperang dengan pikirannya tersebut, sehingga membuatnya tidak bisa merasakan tidur dengan nyenyak, akan Erika yang akan masuk ke dalam rumah tangganya, agar tercipta pertengkaran tersebut, lalu dengan mudah merebut Alex darinya.


Di luar, Alex tanpa sengaja bertemu dengan teman lamanya, hingga dirinya memutuskan untuk mengobrol sebentar di cafe yang tak jauh dari tempat nya sekarang.


Kini mereka duduk berdua, dan temannya bertanya soal kapan Alex yang ingin nikah.


Uhuk.


Uhuk.


Alex tersedak saat, dirinya di hadapkan dengan pertanyaan yang menurutnya agak bodoh.


"Fer, saya udah nikah. Dan sebentar lagi saya akan punya anak." Alex menjelaskan perihal statusnya sekarang.


"Kenapa kamu tak mengundang aku Lex," ujar Feri, teman baik Alex.


Feri tentu terkejut, karena mendengar pernyataan jika Alex sudah benar-benar mempunyai istri.


"Gak ada undang bagi siapapun Fer, itu nikah cuma di gelar kecil-kecilan."


"Ya sudah kapan-kapan kita lanjut lagi. Karena Saya mau cariin bini ku makanan," ujar Alex menjelaskan lagi.


Feri hanya mengangguk dan tersenyum, tanpa menjawab lagi.


*Semoga tuhan selalu menjaga rumah tangga kalian, Amin gumam Feri dalam hati.

__ADS_1


Semua menu sudah di belinya, dan kini Alex sudah berada di mobil*.


Tak membutuhkan waktu lama, Alex sudah membawa makanan seperti yang di minta oleh istrinya.


__ADS_2