
Mami, apa Mami sudah menemukan seseorang untuk gue. Dalam hatinya ia berkata, namun dirinya tak mungkin mengangkat telepon tersebut, sedangkan saat ini ada Intan yang bersamanya.
"Nin, gak di angkat,"
"Tidak penting, nanti saja gue hubungi lagi." Jawab Anin.
Tak berapa lama akhirnya mereka berdua sudah menyelesaikan makannya, dan Anin pun tak lupa mengucap terimakasih lalu, dirinya pamit kembali ke kamarnya.
"Semoga Mami memberi kabar baik," gumam Anin.
Dan dengan segera Anin menelepon untuk segera mencari tahu, apakah Mami menemukan lelaki untuknya.
Tak ada jalan lain selain dirinya sendiri yang akan di tukar dengan segepok uang, pikiran buntu serta tak menemukan jalan lagi. Jadi, menurutnya ini lah yang tepat.
Tuuut..
Panggilan terhubung.
["Halo Mami,"]
"Persiapkan dirimu nanti malam, karena orang ini mencari yang benar-benar masih bersegel."
Tuut.
Panggilan tiba-tiba saja terputus, sepertinya memang di sengaja oleh Mami, dan. Secepat itukah Mami mencarikannya target! Sungguh luar biasa. Dan Mami bilang untuk mempersiapkan semuanya? Jadi, dirinya juga harus siap kehilangan sesuatu yang teramat berharga.
Percuma menyesal toh ini memang kemauannya. Persiapkan semuanya, seperti itulah perintah Mami terhadap Anin.
Tak terasa malam yang di tunggu-tunggu telah datang, dan perasaan bercampur aduk memenuhi pikiran seorang Anin. Sedikit ragu namun dirinya berupaya untuk tak terlihat takut.
Sekitar setengah jam Anin sudah sampai di tempat di mana dirinya mengadu nasib, di sini lah bangunan yang terdapat kenangan yang menyakitkan itu dulu, tapi. Kini dirinya harus kembali lagi ke dalam bangunan ini demi uang, apa lagi kalau bukan soal hidup! Makanya ia berada di sini. Lembah hitam yang pernah di lakoni nya? Kini terulang lagi.
"Anin! Kemari lah." panggil Mami.
Lalu dengan langkah perlahan tapi pasti dirinya menghampiri nya.
"Segera lah masuk ke kamar nomor empat, karena orangnya sudah menunggu."
"Eum."
__ADS_1
Dengan berlari kecil, Anin menaiki anak tangga satu persatu. Dan sampai lah di kamar seperti yang di katakan oleh Mami.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk." suara lelaki yang berada di dalam, dan Anin pun masuk secara perlahan.
"Duduk lah, dan kita akan membahas kesepakan selanjutnya."
menurut tanpa membantah sedikit pun, dan kini dirinya sudah meletakkan bokongnya di kursi panjang yang terdapat di kamar.
"Baik lah, saya memberi tawaran sama kamu? Dan ku harap kamu tak akan menolak. Ah tentunya tidak! akan menolak bukan."
"Apa maksud semua ini, tawaran, dan saya tidak akan menolak! Bisa di jelaskan tuan." Anin mencoba memperjelas agar dirinya mengerti.
"Saya akan memberikan kamu lebih dari 50 juta, tapi dengan tawaran kamu harus mau menemani saya selama beberapa hari ke depan, bagaimana? Kamu bersedia." Lelaki itu menawarkan sebuah kesepakatan untuk Anin, apakah lelaki itu butuh sosok pemuas hasrat untuk beberapa hari ke depan, dan bukan kah dirinya sudah terbiasa dengan melakukan celup sana celup sini? Tapi, apakah karena Anin masih tersegel..
Tanpa pikir panjang Anin langsung menerima tawaran lelaki tersebut.
"Baik saya setuju, tapi boleh kah, saya meminta uangnya terlebih dulu. Karena bagaimana pun saya sangat membutuhkannya."
Dengan perlahan Anin mulai membuka satu persatu kain yang tertempel di badannya, dan kini hanya menyisakan dalaman saja.
Mulai mendekati lelaki itu, dan mengalungkan kedua tangannya di leher lelaki tersebut. Lalu mendaratkan bibirnya ke bibir pria yang saat ini bersamanya.
Dengan sangat rakus pria tersebut membalas dan melahap habis bibir Anin, untuk pemanasan saja si pria tak memberi jeda untuk bernafas, apalagi saat puncak kenikmatan itu di mulai.
Emmmm.. Aaahhhh.
Anin mulai terangsang akan sentuhan yang di berikan oleh lelaki itu, di setiap titik area sensitifnya. Dan lelaki itu mulai me****** gunung kembar nya dengan bergantian dan tangannya sesekali memainkan p*ting tersebut.
" Apa kau yakin jika kamu masih virgin." Lelaki tersebut agak ragu dengan pernyataan yang di berikan oleh Mami, karena Anin begitu agresif saat mereka melakukan pemanasan, dan hampir seperti wanita-wanita yang pernah di tidurinya.
"Bisa anda coba tuan."
"Baik lah."
__ADS_1
Kini Anin di gendong lalu di letak kan di king size yang berukuran lumayan besar.
Aaaaa.. Anin berteriak menahan sakit, saat benda keras itu mencoba menerobos masuk ke dalam.
"Tenang sayang, akan aku lakukan dengan pelan." Ucap lelaki itu dengan wajah yang sudah di penuhi oleh nafsu, dan sesekali iya ******* bibirnya dan menciumi leher jenjangnya.
Tak berapa lama benda itu akhirnya masuk ke dalam surga kenikmatan.
Ahhhh, lagi-lagi Anin mend*sah, dan bibirnya kini sudah terbungkam oleh bibir lelaki tersebut. Dosa yang membawa kenikmatan Anin tak bisa munafik jika dirinya juga menikmati setiap sentuhan yang di berikan oleh pria yang membeli keperawanannya.
"Sayang." ahh.
Rupanya lelaki itu juga menikmati pergulatan yang saat ini membawanya pergi ke surga dunia. Suara berat terdengar hembusan nafas tak beraturan menjadi saksi bisu di kamar ini.
Sedetik dirinya teringat, tanpa sadar dirinya mengeluarkan tetes air mata, saat lelaki itu sampai pada di titik puncak nya dirinya hanya diam bak patung dan hanya mengucap kan 'ingat saya tak ingin hamil tuan' seperti sebuah peringatan agar lelaki itu tak menaruh benih nya di rahim Anin.
"Tenang."
Ahhhhh.
Setelah sampai di puncak dan menyemburkan benihnya ke dalam rahim Anin, dirinya ambruk di samping Anin.
Tapi tak berapa lama lelaki tersebut mel*mat gunung kembar milik Anin lagi, dan itu membuat lelaki itu bergairah lagi, tapi dirinya ingat sesuatu hingga melepaskan apa yang baru saja di lahap.
Lelaki tersebut bangun dan berdiri lalu berjalan menuju meja, dan mengambil clute lalu membukanya.
Anin mengerutkan keningnya saat lelaki itu mengeluarkan jarum suntik.
Takut, itu pasti takut jika dirinya akan di berikan obat-obatan terlarang.
Seakan tau kerisauan yang tersirat di wajah Anin.
"Tenang lah, dan jangan bertanya."
Entah lah apa yang di suntikkan ke tubuh Anin, namun lelaki itu mencoba menyakinkan nya jika dirinya tak perlu takut dan kuatir.
"Bersihkan dirimu, lalu ikut lah dengan ku! Karena kamu juga sudah menyetujuinya bukan. Jadi, tak ada alasan kamu menolak."
Seperti nya tidak asing wajah ini, apa aku pernah melihat nya? Atau aku yang hanya salah lihat. Lelaki itu bertanya-tanya dalam hatinya karena merasa dirinya pernah bertemu tapi entah di mana dirinya lupa.
__ADS_1
Sedang kan Anin sudah selesai membersihkan tubuhnya, yang teramat remuk akibat ulah lelaki itu yang sudah seperti singa kelaparan memakannya dengan penuh nafsu, dan hasrat yang sudah tak terkendalikan.
Dan lelaki itu, tersenyum puas saat matanya tanpa sengaja melihat bercak merah tanda jika gadis yang beberapa menit lalu di tidurinya dengan keadaan masih virgin.