Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 26 . TAWARAN YANG TAK BIASA


__ADS_3

Boleh kah aku hidup di penuhi cinta, serta kasih sayang dari keluargaku, boleh aku memeluk mu Bu, boleh kah aku mencurahkan semuanya kepada engkau wahai sang pemilik surga dunia akhirat. Bisakah engkau sesekali memanggilku dengan suara lembut selembut benang sutra, ingin rasanya aku di tanyai seperti mereka.


Sudah makan kah.


Bagaimana hari-harimu.


Bagaimana pekerjaanmu.


Dan bagaimana keadaanmu.


Hatiku hampa.


Jiwaku lebur.


Saat mengenang peristiwa malam itu, dan aku mencoba untuk melupakan hari-hari bersamamu yang menyakitkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pekerjaan yang di berikan Intan padaku cukup mudah, yaitu dengan menjadi pacar kontrak seseorang lelaki yang tak mau di jodoh kan oleh orang tuanya.


Ya lelaki itu bernama Alex, dan aku di sewa untuk menjadi pacar kontrak selama dua bulan, dan selama itu pula aku harus siap kalau dia membutuhkan aku kapan pun itu. Kami akan mengadakan pertemuan dengan seseorang yang memakai jasaku setelah kepulangan Niko nanti.


"Nin, kamu baik-baik lah di sini dan jaga diri kamu selama tak ada Kakak di sini."


Ada rasa sedih juga yang tengah menyelimuti hatinya, karena kepergian Niko, untuk kembali ke kota asalnya membuat Anin, merasa sendiri dan tak ada lagi tawa yang menghiasinya selama bersama dengan Niko. Semenjak dia di hilangkan dalam selembar kertas yang bernamakan dirinya di dalamnya, kini telah terhapus oleh orang yang begitu tega dengannya.


"Kakak, tenang saja semua pasti baik-baik saja kok." Anin pun menjawabnya dengan nada lesu, meski begitu dia tak memperlihatkan bahwa ia memang sedang sedih karena akan di tinggal olehnya.


"Ya sudah Kakak jalan ya," pamit Niko padanya.


Dan itu membuat Anin, mau tak mau harus merelakan kepergiannya, dengan hati yang gundah lantas ia banyak bisa mengangguk tanpa berkata apapun dengan sosok Lelaki yang begitu berarti dalam hidupnya.


Dan Akhirnya mereka pun berpelukan, dan sepertinya apa yang ada di dalam hati Niko, sama dengan Anin, sama-sama tak rela jika harus berpisah satu sama lain, walau nanti mereka akan bertemu juga.


"Jujur sebetulnya aku tak ingin pergi dari kamu, tapi Kakak punya tanggung jawab di sana." Dengan tubuh yang masih memeluk erat sang pujaan hati Niko mengutarakan isi hatinya.


Tak lama kemudian Niko pun keluar, namun sebelum itu ia melepaskan pelukannya dan mencium kening milik wanita yang berada di hadapannya.


Dan sesampainya di luar kamar,


ternyata Intan sedang duduk di depan pintu kamarnya sambil meneguk secangkir kopi.


"Eh, mahluk jadi-jadian! gue titip pacar gue ya,"


Namun yang di panggil hanya diam tanpa menyahutinya.


Eh, buset di kira gue gak punya nama apa, manggil seenak udelnya. Kira-kira seperti itulah yang ada di pikiran Intan, karena lelaki itu memanggil tanpa menyebutkan namanya.


"Budeg kali ya di panggil kagak nyahut, apa temen kamu itu memang sengaja gak menjawab teriakan ku." Tanya Niko kepada Anin.


Namun yang di ajak bicara bukan menjawabnya malah tertawa sambil menggelengkan kepala.


"Ini lagi! bukan di jawab malah ketawa gak jelas," mendengar Niko berbicara lagi Intan pun berhenti dari tawanya.


"Lah Iyo karang kamu gak manggil namanya, yo dia pura-pura gak denger to,"


Setelah mendengar penuturan dari Anin, lantas Niko pun menghampiri Intan yang sedang bersantai.

__ADS_1


"Woi."


"Idih apaan si lu kodok congek!"


"Parah nih anak, udah di baik-baikin masih saja ngatain."


"Mau apa si lu itu ganggu orang yang lagi ngopi wae to,"


"Mau minta tolong! jagain cewek gue,"


"Lah itu anak udah besar ngapain juga musti di jagain." Ucapnya asal.


"Buset, ini cewek bener-bener ya."


"Eh, kalau ngomong itu yang jelas! kalau pengen dapat jawaban jelas juga." Terlihat nada ketusnya keluar karena merasa ucapan Niko, terlalu bertele-tele.


"Maksud gue, nitip Anin, kalau ada apa-apa sama dia lu cepet kasih kabar ke gue ya."


"Itu mah kecil, ya udah sono lu pulang! sepet mata gue lama-lama liat lu mulu,"


"Dasar cewek jadi-jadian."


"Dasar kadal,"


"Dasar badut."


"Buaya."


"Kuntilanak."


"Grandong."


"Kenapa jadi berantem sih kalian!"


"Noh temen kamu,"


"Cowok kamu yang gak jelas."


"Kamu dulu yang mulai."


Diam...


"Kalian berdua mirip kek Anak TK, tau gak! bisa diam gak kalian, herman gue lihat tingkah kalian kagak jelas!"


Seketika mereka berdua terdiam dari amukan Anin, entah lah tiap mereka bertemu selalu saja ribut sudah mirip tom&jery.


"Ya sudah aku pamit ya Nin."


"Ntan jangan lupa pesen gue tadi yah."


"Beres."


Lantas Niko pun mengendarai motornya keluar dari halaman kos, dan pandangan itu semakin jauh dan semakin tak terlihat dari penglihatan Anin.


🍀🍀🍀🍀


Tak terasa hari pun menjadi senja, teringat akan janjinya yang akan bertemu sang klien, lantas Anin pun bersiap-siap menuju tempat yang sudah di tentukan oleh lelaki itu.

__ADS_1


["Halo Bang Heru! bisa anterin saya hari ini gak,"]


Anin memesan tukang ojek langganannya untuk mengantarkan di Kafe tempat mereka janjian.


["Iya Mbak, sekarang saya langsung kesitu ya,"] dari balik telepon Bang Heru menjawab.


["Iya Bang saya tunggu ya makasih."]


Setelah itu panggilan pun di akhiri, dan Anin pun menuju kamar Milik Intan.


Tok..tok..tok.


"Iya sebentar."


Nampaknya pendengaran Intan mulai bagus, karena belum sempat Anin berteriak memanggil namanya, ia dengan gegas langsung membuka pintu.


"Masuk ke kamar gue saja Nin."


Setelah mendapatkan perkataan itu, lalu Anin, melangkah masuk ke kedalam kamar, dan kini mereka berdua sudah duduk di tempat tidur.


"Jadi ketemuannya?" tanya Intan pada Anin.


"Iya jadi, ini lagi nunggu ojek jemput," ujar Anin pada Intan.


"Lu yakin buat jadi pacar bohongan," Intan berkata sambil menaruh tangannya di bawa dagu, dan ia pun memastikan jika Anin, benar-benar serius.


"Kan lu sendiri yang nawarin ke gue, terus kenapa sekarang lu tanya lagi."


"Entar kalau urusannya makin dalem gimana," jawaban yang sedikit ragu untuk di berikan pada sahabatnya.


"Maksudnya gimana? gue kagak ngerti apa yang lu maksud Markonah."


🍀🍀


Entah lah aku sedikit ragu atas pekerjaan yang akan di garap oleh Anin, memang aku yang memberikan namun waktu itu aku tak sampai kepikiran sampai sejauh itu. Dua bulan mereka terikat janji, yang aku takut kan adalah jika orang tua dari Alex meminta untuk segera meresmikan bagaimana? sedang kan Anin, tak mungkin bisa menurutinya karena dia sudah bertuan. entah lah begitu ceroboh aku dalam mengambil keputusan tanpa memikirkan untuk kedepannya.


Tiiiinnnn.


terdengar suara dari sepeda motor milik Bang Heru, yang sedang menjemputnya. Belum juga dia menerima penjelasan dari sang sahabat namun sudah kedahuluan oleh tukang ojek.


Ah sukurlah Bang Heru keburu jemput, jadi gue gak harus jelasin ini semua sama Anin, dan moga saja apa yang ada di pikiran gue gak sampai jadi nyata, kasian jika sampai beneran terjadi. dalam diam Intan membatin jika saja Alex meminta lebih yang tak mungkin terjadi.


🍀🍀


Beberapa menit kemudian Anin, dan Bang Heru, sudah berada di mana mereka kini janjian, dan Anin pun meminta Bang Heru untuk menunggunya sebentar, sambil berjalan lalu dengan segera Anin membuka gawai untuk melihat pesan yang di kirim oleh Alex, dan benar saja ada dua pesan darinya.


Di dalam pesan itu, Alex memberi tahu dimana ia duduk, dan memakai pakaian apa.


"Maaf ini benar Alex," takut salah jadi aku mencoba bertanya dulu dan ternyata benar.


"Iya gue Alex, jadi kamu yang bernama Anindiyah itu,"


"Iya, terus bagaimana tentang masalah ini,"


"Duduk lah dulu, sambil mengobrol saya sudah pesan kan kamu minuman."


Akhirnya Anin pun menurutinya dan menjatuhkan bokongnya di kursi.

__ADS_1


"Bisa kita bahas sekarang, maaf bukannya nolak tetapi saya harus bekerja selesai ini." Ia pun terpaksa berbohong agar tak memakan waktu dengan kata yang bertele-tele.


"Yang pertama sesuai apa yang saya sampaikan sama teman kamu, dan yang kedua kamu harus mau menemani saya di saat saya membutuh kan kamu, dan yang terakhir...


__ADS_2