
Kring..kring..
Suara bunyi ponsel membuat Anin langsung meraih gawai yang berada di sisi nya, dengan sedikit mengumpulkan nyawanya agar cepat tersadar.
Setelah nyawanya terkumpul penuh di liriknya nama yang berada di layar gawai tersebut, betapa senang dan bahagia Anin, saat ia melihat siapa yang menghubunginya.
["Assalamu'alaikum, Hiks..Hiks..Kakak jahat,"] suara khas orang yang baru bangun di tambah ia yang mendengar suara dari balik telepon membuat suaranya semakin parau dalam isakan.
["Maaf Kakak baru bisa menghubungi kamu ya, Ponsel Kakak rusak jadi harus di servis dulu makanya baru bisa hubungi kamu,"] Jawab lelaki yang hampir satu bulan tak ada kabar.
["Kakak gak bohong kan,"] hardik Anin di telepon. Bukannya ia anak orang mampu jika hanya membeli ponsel baru tak akan membuat ia melarat bukan, itulah yang ada di pikiran Anin.
["Kakak gak bohong Nin, karena ponsel itu ada sejarahnya makanya Kakak perbaiki,"] jawab Niko, meski di sana ia menjawab ucapan Anin dengan hati yang bergetar karena ia sudah membohongi Anin.
Maaf ya Nin, terpaksa Kakak bohong, dengan mengatakan kalau ponsel Kakak rusak, hingga bisa memberi kabar sekarang. batin Niko, yang di ujung telepon.
["Kak, apa Kakak masih mendengar suaraku."] Ucap Anin.
["Eh, iya Kakak dengar kok,"] jawab Niko dengan suara agak tergagap.
["Apa tak ada yang ingin di tanyakan tentang aku] ujar Anin pada Niko.
[Ah iya lupa, maaf ya kesayangannya Niko]
[Ih, resek deh ah,"]
["Gimana kabar, dan keadaannya kesayangannya Kakak hem,"]
Hening, Anin teringat kala waktu Itu tak ada yang ia gunakan tempat untuk bersandar, karena lelaki yang membuat dirinya nyaman selama bertahun-tahun lamanya sama sekali tak ada kabar.
Dalam obrolannya dengan Niko, Anin tanpa sengaja meneteskan air mata.
["Nin, kamu nangis,"]
["Eum, gak kok."]
Tak ingin Niko mengetahui jika dirinya sekarang menjadi seseorang yang rapuh, lalu ia mengusap kristal bening yang berjatuhan di kedua pipinya.
[Apa kamu sedang..]
Tut..tut...
Belum sempat Niko melanjutkan ucapannya namun telepon tiba-tiba terputus.
Semoga kamu baik-baik saja Nin, batin Niko.
🍀🍀🍀
Sedangkan di kamar, Anin tak kuasa menahan tangisnya jika teringat tentang apa yang tengah ia alami.
Maaf Kak, sengaja telepon aku putus karena tak mampu aku dalam berkata, batin Anin.
Ceklek.."Anin, lu kenapa! jika ada masalah lu ngomong ke gue."
__ADS_1
Memang sudah biasa bagi Intan,yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Dan Intan melihat Anin berada di atas kasur dengan cara duduk dan kepalanya di di tenggelamkan di antara kedua kakinya hingga yang terlihat hanya rambut hitamnya. Anin pun tak menyahuti Intan yang sedang bertanya kepadanya, namun Anin langsung memeluk Intan yang berada di atas kasur juga.
Hiks..Hiks.. "Ntan."
"Elu tenang dulu ya, pelan-pelan saja jika ada yang kamu ingin ceritakan."
Anin tak menjawab, namun di peluknya erat badan Intan.
"Gue ambilin minum dulu ya."
Tak ada jawaban dari bibir Anin.
"Minum lah."
Intan memberikan satu gelas air putih lalu di berikan pada Anin, tujuannya supaya ia merasa agak tenang. Dan satu gelas pun habis olehnya.
"Kalau sudah tenang, ceritalah aku siap mendengarkan." Kata Intan.
"Kak Niko telepon," ucap Anin pelan.
"Seharusnya lu seneng dong."
"Tadi dia tanya gimana kabar serta keadaanku,"
"Terus,"
"Gue gak tega kalau harus bercerita semuanya, dan tiba-tiba gue ingat masalah di mana gue berada di taman waktu itu."
"Apa maksud kamu,"
Lalu Anin menceritakan semua kejadian yang menimpanya, hingga tanpa sengaja dirinya bertemu dengan Alex.
"Dan selebihnya seperti yang kamu lihat."
Ada satu yang tak di ceritakan pada Intan, tentang ungkapan cinta Alex kepada Anin, dan ia tak mau sampai tau akan hal itu karena nantinya akan menimbulkan sebuah masalah, jika dirinya berterus terang pada Intan.
"Lantas apa elu percaya jika Ibu lu bener-bener sakit," jawaban yang di berikan pada nya membuat Anin, terus memandangi wajah sahabatnya itu.
"Maksud kamu, apa mereka sengaja membohongiku dengan alasan sakit supaya mendapat uang dari ku,"
"Bisa jadi, secara keluarga elu tak mengharapkan kehadiran elu kan, tapi tiba-tiba saja mereka meminta elu pulang dengan alasan sakit."
Anin pun sependapat dengan apa yang di katakan oleh Intan.
"Anggap itu sebagai balasan jika memang benar karena sudah zalim sama elu, dan elu pun harus membalas sakit hati dengan cara seperti ini. Abaikan mereka sebagai balasan atas perlakuannya sama elu ngerti!" dengan nada suara yang teramat geram dan membayangkan Anin kecil, mendapat perlakuan seperti itu sungguh kejam bukan bagi Intan.
"Lantas apa yang harus gue lakuin jika mereka menghubungi ku lagi," tanya Anin pada Intan.
"Blokir semua."
Anin hanya mengangguk mendengar kan setiap ucapan Intan.
"Sudah lah jangan membebani masalah yang tak penting, lebih baik kita sarapan untuk memenuhi gizi kita," ajak Intan pada Anin, karena memang sudah waktunya untuk mengisi perut di karenakan sudah jam delapan pagi.
__ADS_1
"Mau makan apa memangnya?"
"Yang paling murah lah, apalagi kalau bukan nasi pecel." jawab Anin.
"Baik lah gue mandi bentar ya,"
"Ouh makanya ada bau-bau acem rupanya ada yang belum mandi."
Puk..
"Eh b*go sakit." Sembari berlalu keluar kamar Anin melempar bantal ke arah muka Intan, sontak membuat Intan langsung marah.
Tak membutuhkan waktu lama, kini mereka sudah berjalan untuk menuju ke warung milik Mbok Darmi, seorang penjual nasi pecel. Bagi para orang perantauan di sinilah warung yang cocok untuk memenuhi gizi perut karena tak akan menguras isi kantung. Dengan uang 7000Ribu sudah mendapat sepiring nasi beserta tehnya.
Di warung.
"Eh, ada Mbak Anin, dan Mbak Intan." tegur Mak Darmi.
"Mau nasi pecel lauknya apa nih Mbak?" tanya Mak Darmi pada mereka berdua.
"Telor mata kebo deh Mak,"
"Siap, di tunggu ya."
"Sip." Jawab mereka bersamaan.
Sekitar lima menit nasi pecel dan lauk telor mata kebo pun sudah siap di makan.
Heikk..
"Aish, jorok banget lu ya." Karena Anin yang belum selesai makan namun sudah mendengarkan suara sendawa dari Intan.
"Sorry, kebablas,"
"Kebiasaan." dengan wajah yang kesal Anin menghabiskan nasi yang masih separuh.
"Ah, akhirnya kenyang juga." ucap Intan sembari mengelus perutnya.
"Mak!" teriak Intan.
"Iya, bentar." jawab Mak Darmi.
"Kenapa Mbak,"
"Ini pas ya." Kata Intan yang membayar seporsi nasi pecel.
"Mak, Ini punya saya," Anin menyodorkan uang sebesar 20ribu.
"Ini." belum sempat Mak Darmi memberikan kembalian namun terpotong oleh ucapan Anin.
"Ambil saja Mak."
"Makasih Ya Mbak Anin,"
__ADS_1
"Sama-sama Mak, kalau gitu kita pamit ya."
"Alhamdulillah masih ada orang baik seperti Mbak Anin" gumam Mak Darmi, sambil membersihkan meja yang di tempati oleh dua sekawan.