Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 93. Kemarahan Anin.


__ADS_3

"Sayang, aku mau beli dress boleh," Anin bergelayut manja di lengan Alex, dan berharap suami tercintanya mau menurutinya.


"Apa aku tidak salah dengar sayang, kalau kamu ingin dress?" tanya Alex pada Anin, pasalnya selama ia menikah, belum pernah Alex menjumpai sang istri memakai dress atau pun gaun, saat mereka keluar menghadiri acara. Jadi tidak heran kalau Alex sedikit terkejut.


"Pengen saja, apa kamu ingin membelikan ku," ucap Anin.


"Tentu, ya sudah kamu siap-siap ya." Ujar Alex, yang menyuruh Anin untuk bersiap-siap karena mereka akan keluar sekarang.


Tak berapa lama, Anin sudah keluar dari kamarnya, dan Alex tercengang melihat sang istri karena perubahan nya.


"Itu jigong, awas lho jatuh ke lantai." Ucap Anin sambil berjalan mendekati sang suami.


Dengan segera Alex mengusap sudut bibirnya , takut kalau-kalau memang betul apa yang di katakan oleh sang istri.


"Yuk ah, udah siap ini," ajak Anin yang tak sabar untuk segera ke pusat perbelanjaan.


"Siap." Alex menimpali sang istri dan memberikan seulas senyuman.


Tak membutuhkan waktu lama, suami istri itu sudah sampai di tempat di mana mereka akan menemukan berbagai model dari baju, celana dan lainnya juga.


Saat sepasang suami istri itu asik bergurau hingga tanpa sengaja menabrak seseorang.


BRUK..


Auh..


"Apa kau tak punya mata sehingga tidak melihat." Wanita itu memaki Alex, tapi masih dalam keadaan yang jongkok. Karena tasnya terjatuh.


"A-lex. Ini bener kamu kan." Betapa girangnya saat melihat siapa yang baru saja di tabrak.


"Erika, maaf ya, saya tidak sengaja," ujar Alex pada Erika saat tadi menabraknya, karena Alex sedang bergurau dangan sang istri jadi dirinya tak melihat jika ia menabrak pejalan lain.


Saat Anin tahu bahwa itu adalah Erika, sedikit cemburu yang di rasakan nya, tapi menurutnya itu wajar. Karena mengingat jika antara keduanya pernah akan di satukan dalam pernikahan, tapi sayang Alex menolaknya. Dan lebih memilih menunggu Anin, daripada dirinya harus di jodohkan dengan perempuan licik seperti Erika.

__ADS_1


"Lama kita tidak berjumpa, bagaimana keadaan kamu?" tanya Erika pada Alex dengan antusiasnya, tetapi Alex dengan wajah dingin menatap dengan rasa tidak suka pada Erika.


Sedangkan Anin hanya diam, dan tak ingin mengeluarkan kata sepatah pun, tetapi dalam hatinya menyimpan bara yang begitu besar, apakah mood orang yang sedang hamil berubah-ubah, dan ini memang bawaan dari perempuan yang sedang mengandung? Tak seperti sebelumya, pikiran Anin saat ini berkecamuk, tentang apa yang di lihat serta di rasakan saat ini.


"Seperti yang kau lihat." Alex berkata dengan tangan yang membentang, bertanda jika dirinya sedang baik-baik saja.


Erika tanpa memperdulikan hati Anin. Apa sedang cemburu?


Apa akan terluka?


Dan apakah hatinya akan hancur? Tentu, wanita mana yang tak marah, sakit hati, dan cemburu. Saat dua orang pernah menjadi teman dekat.


Tapi paling tidak, Anin lah sang pemenangnya, dan sekarang ia juga ratu dalam hati Alex.


"Bisa kah kita duduk-duduk sambil meminum jus," ujar Erika.


Seakan tahu tentang perasaan sang istri, Alex menggenggam erat tangan Anin, agar tak berpikir yang tidak-tidak.


Aku tidak akan pernah menerima kekalahan ini, dan kau perempuan j*la*ng. Aku akan membuat perhitungan dengan mu, karena mu Alex membatalkan perjodohan yang sudah di susun oleh keluarga kami masing-masing.


Dengan dada yang bergemuruh menahan sakit hatinya, Erika berjalan untuk menuju ke mobilnya.


Sedangkan Anin, diam dan tak ingin berkata apapun. Acara yang sudah di susun dari rumah gagal seketika, karena suaminya mengajak pulang, dan Anin hanya bisa mengumpat dalam hati, akan dirinya yang tak jadi membeli dress yang ia ingin kan.


"Sayang, kenapa kamu dian terus dari tadi? Apa kamu marah dengan pertemuan kita dengan Erika?" tanya Alex pada Anin, sedangkan Anin masih menatap jalanan yang terlihat cukup padat oleh pengendara.


"Sayang, aku minta maaf ya, kan pertemuan tadi tanpa di sengaja," ujar Alex berharap sang istri memaafkannya, dan mau berbicara lagi padanya.


Dasar suami enggak peka, harusnya kan dia tahu kalau gak jadi beli apa yang sudah aku katakan sewaktu di rumah tadi, ini mengapa malah membahas si ulet keket itu. Batin Anin dalam hati.


Apa Anin cemburu, melihat aku dan Erika tadi sempat berbincang-bincang? Tapi itu kan tida berlangsung lama.


Mereka berdua saling berperang pikiran masing, masing. Lelah karena Anin masih mengabaikannya, akhirnya Alex memilih diam.

__ADS_1


Hingga tak terasa jika mereka sudah berada di depan rumah.


Belum sempat Alex turun dan membukakan pintu untuk sang istri, tapi istri tercintanya sudah keluar terlebih dulu.


Dan Alex hanya bisa menghela nafas panjang serta mengelus dadanya.


"Apa Anin benar-benar marah kepadaku." Ucapnya pada diri sendiri.


Karena semenjak keluar dari pusat perbelanjaan, Anin sepertinya sudah marah kepadanya.


"Astagaaa." Alex baru ingat, apa karena istrinya tak mendapatkan apa yang ia mau, hingga membuatnya marah.


Dengan segera Alex masuk ke rumah, dan hendak menyusul sang istri di kamarnya.


Setelah menaiki satu demi satu tangga, dan dengan langkah yang cepat Alex segera membuka pintu. Tapi naas, pintu nya terkunci hingga ia tidak dapat masuk.


"Sayang bukain pintu dong."


Tok.


Tok.


"Sayang, Mas minta maaf. Karena kamu belum sempat beli tadi." Alex terus saja membujuk sang istri agar, mau membukakan pintu.


"Aku udah terlanjur marah sama kamu! Jadi malam ini, gak ada tidur di kamar dan untuk seminggu ke depan gak ada jatah buat kamu juga, paham!" Suara terdengar dari dalam kamar, Anin menimpali dan memberi sedikit pelajaran pada suaminya.


"Mana bisa, Mas tidur tanpa meluk kamu sayang," ucap Alex memelas.


"Memangnya aku pikirin, orang kamu saja enggak mikirin aku, awas ya kalau anakku ileran itu semua karena kamu." Anin menjadikan kandungannya untuk sebuah alasan.


"Enggak sayang, aku gak mau anakku ileran." Alex sedikit takut, jika apa yang di katan Anin benar, jika ngidam nya tidak keturutan maka si jabang bayi akan ileran.


"Udah lah, aku mau tidur jangan gangguin aku, dan sekarang aku marah ya mas sama kamu." Seketika Alex lemas mendengar istrinya yang benar-benar marah kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2