Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 66. Sepertinya Dokter Fadlan Menaruh Rasa


__ADS_3

Pada akhirnya Anin pasrah dan mengikuti kemauan Intan untuk menerima bantuan dari Dokter Fadlan.


Di makam.


Anin bersimpuh di batu nisan yang bernamakan Niko Putra Pratama.


Tak ada yang di ungkapkan selain mengelus lembut nisan itu.


"Kak, aku pamit dulu ya. Lain kali aku akan mengunjungi Kakak." Lali Anin berdiri dan meninggalkan makam.


"Apa elu baik-baik saja?" Intan kuatir jika Anin sedang mencoba menutupi keterpurukan dan terlihat baik-baik saja.


"Gue ingin makan, gue lapar."


"Nin."


"Oh, ayo lah, gue sangat-sangat lapar. Apa elu mau gue masuk RS lagi! Bukan begitu Dokter tampan."


"Ok, ok. Tapi sejak kapan kau jadi begini Nin."


"Sejak sekarang."


"Apa perlu gue antar ke RSJ."


"Apa menurut elu gue frustasi dan berakhir gila,"


"Ah, tentu tidak."


"Jika kau mengatai ku gila lagi, maka elu yang gue bikin masuk ke rumah sakit jiwa, paham lu."


Sepanjang Intan merutuki kebodohannya sendiri, padahal ia tahu jika Anin sedikit berbeda dari yang biasanya, entah keajaiban atau sebuah kesialan untuk Intan.


"Dokter ganteng, bisa antar kan saya ke rumah makan,"


"Oh, baik lah nona cantik."


"Kalian sungguh menyebalkan." Sungut Intan pada mereka berdua.


Dan Dokter itupun merasa bagai di awang-awang karena hari ini sikap Anin tak seperti biasanya, jika biasanya terlihat dingin, sekarang justru membuat Dokter itu sedikit mengembangkan senyuman, karena sedari tadi panggilan tampan dan ganteng tak lepas dari bibir Anin.


Tak berapa lama sampai lah mereka bertiga di rumah makan.


Hawa yang begitu sejuk dan terlihat pancuran air yang terdapat di kolam, menambah kesegaran untuk menikmati suasana yang cukup panas. Rumah makan yang bernuansa ala-ala puncak karena semuanya terdiri dari bahan berdasarkan bambu membuat siapa pun pasti akan nyaman jika singgah di tempat ini.


kita bertiga berada di warung pinggir sawah, karena tempatnya memang di area hamparan sawah yang luas dan banyak tanaman padi menambah keasrian, dan sekaligus tempat makan prasmanan, yang bertuliskan di papan, pasti suasana terasa menyenangkan jika kita berkunjung bersama keluarga bukan.

__ADS_1


Tanpa Anin, menyebut menu yang akan di makannya, Dokter Fadli memesan semua menu yang berada di rumah makan tersebut.


"Apa Dokter sedang benar-benar kelaparan, hingga semua menu di pesan."


"Bisa gak kalian berdua jangan terlalu formal, panggil saya Fadli saja, karena saya sedang tidak bertugas."


"Baik lah, Dok, maksudnya Fadli,"


"Nah gitu kan enak."


"Anggap saja ini adalah syukuran atas kepulangan Anin,"


Anin yang hanya terdiam, dan hanya mendengarkan dua manusia saling bercakap.


Tak lama kemudian dua pelayan telah menghidangkan makanan yang menggugah selera.


"Makasih ya Mbak." Ucap Anin pada pelayan itu.


"Iya, Mbak dan selamat menikmati." Balas pelayan itu.


"Apa kalian akan terus mengobrol hingga nanti, dan apa kalian ingin melihat saya mati kelaparan di sini!" Bentakan dari Anin membuat dua orang itu langsung tertunduk.


Kenapa kalau marah wajahnya makin menggemaskan, batin Fadli.


"Ah tidak, tidak, ya sudah mari makan." Akhirnya Fadli buru-buru mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi yang berada di bakul tersebut.


Tak ada yang berbicara saat mereka sedang menikmati sajian yang berada di depannya.


Sedang di lain tempat.


"Ed, keadaan Anin bagaimana, apa ia belum juga pulang,"


"Sudah Bu, kemarin aku sempat tanya di Intan katanya hari ini itu anak pulang."


"Lantas pulang kemana anak itu kok gak ada yang mengantar ke sini."


"Anin menolak dan rencana ia akan kembali ke kota S, dan kita jangan dekat-dekat dulu kalau bisa,"


"Mengapa bisa begitu?"


"Takutnya Anin bukan memaafkan kita yang ada nantinya bertambah benci, karena kita tiba-tiba datang dan merangkulnya, apa itu menurut ibu perlakuan yang wajar,"


"Tentu tidak!"


"Maka dari itu, lagian Anin masih terpukul dengan kejadian yang menimpanya, belum kering luka yang di rasakan. Jadi lebih baik kita mengalah dulu hingga Anin benar-benar mau memaafkan semua kesalahan kita."

__ADS_1


"Baik lah."


Dua orang sedang mengobrol di ruang TV, berharap Anin mau kembali ke rumah ini, namun Anin menolak permintaan itu, karena baginya rumah ini adalah rumah yang penuh dengan kenangan buruk di sepanjang masa. Jadi Anin berharap tak pernah menginjakkan kakinya di rumah ini lagi.


Rumah yang penuhi orang-orang munafik.


Rumah yang membuat nya menderita.


Dan rumah yang membuatnya tersiksa.


Jadi untuk apa kembali jika harus mengingat masa-masa yang menyakitkan, karena kenangan itu telah di lempar jauh-jauh.


"Mungkin kesalahan Ibu terlalu fatal membuat Anin benar-benar tak mau menoleh ke arah Ibu."


"Sudah lah Bu, Anin hanya butuh ketenangan saat ini, biarkan sendiri untuk membalut semua luka-luka yang Ibu torehkan, tak segampang itu Bu Memaafkan. Jika pun aku berada di posisinya tentunya juga melakukan hal yang sama. Hanya perlu waktu, yang terpenting Ibu benar-benar sudah sadar atas perbuatan Ibu terhadap Anin selama ini." Edi mencoba menenangkan Ibunya, karena sebelumya Anin sudah berpesan pada temannya jika keluarganya ada yang menjenguknya untuk segera pulang kembali karena Anin tak mau menemuinya.


Tak mau hanya dengan melihat dua orang itu membuatnya mengingat atas luka yang di berikan dulu, jadi ada saatnya nanti ia menemuinya jika luka hatinya sudah tak berbekas lagi.


"Ibu sudah benar-benar bertobat, dan ingin memperbaiki semuanya, Ibu memang egois hanya karena kasih sayang serta cinta yang terbagi membuat Ibu dendam dan melampiaskan semuanya pada Anin."


"Sudah lah Bu, di sini Edi juga salah, karena sebagai anak laki-laki bukannya memberi panutan yang baik, tapi malah sebaliknya ikut membenci Anin."


"Jadi wajar saja jika Anin masih membenci kita." Sambung Edi lagi.


.


.


.


.


.


Semoga saja ini adalah awal yang indah bagi Anin, untuk memulai kehidupan yang baru dan menata dari awal lagi.


Setahun sudah Anin yang di tinggal oleh Niko, dan selama setahun juga dirinya tak berkunjung ke makamnya.


Dan kakinya berangsur sembuh dengan perlahan dan sudah 6 bulan di mulai dari sekarang ia bekerja di restauran milik Alex yang semakin berkembang. Dan hubungannya di antara keduanya belum menuai kejelasan karena Anin beberapa kali menolak dengan alasan 'Masih ingin sendiri' dan itu tak membuat Alex mundur untuk bisa tetap memilikinya.


Sedang kan Intan, Intan kini pun sudah berhenti di dunia malam juga, dan mengikuti jejak Anin dengan mencari pekerjaan yang halal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Selalu tinggalin jejak untuk author ya 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2