
Tuhan apa sebegitu kotornya aku, karena aku bekerja di dunia remang-remang.
Apa aku terlalu kotor karena keberadaan ku di dalam gemerlapnya malam, sehingga aku di pandang sebelah mata.
Sakit bagai tertusuk sembilu.
Nyeri bagai terkena duri.
Saat lelaki di depanku berkata bahwa aku seorang j*lang.
Apa sebegitu menjijikkan diriku hingga mendapat hinaan yang belum pernah ku berbuat.
🍀🍀
"Kau, kau berani menampar ku."
Dengan mata yang berkaca-kaca aku mencoba kuat.
"Karena itu cocok untuk di berikan pada kamu,"
"Hye ini dunia malam, semua orang tau kalau seseorang sudah berada di lingkupan gemerlapnya dunia malam ini, pastinya orang itu b*jat."
"Termasuk Anda!"
Alex yang sudah mati kutu tak mampu berkata-kata.
"Tapi saya di sini hanya minum, tidak lebih, beda sama kamu yang bekerja di sini."
Plak..
Lagi Alex mendapat tamparan dari gadis itu lagi, tak ada yang salah dengan ucapannya namun mengapa dia tak terima sneh, itu lah yang ada di benaknya.
Setelah menampar lelaki yang tak tau sopan itu, Anin, sengaja meminta ijin kepada Mami, dengan alasan tak enak badan.
"Nin kamu mau kemana?" tanya sang Mami, karena merasa aneh saat ia menatap Anin yang berurai air mata.
"Mi, saya ijin pulang ya karena sedang tak enak badan."
"Bukannya kamu tadi Baik-baik saja, ah sudahlah kalau begitu istirahat lah, dan segera pulang."
Lelaki itu pun langsung mengikuti Anin, karena merasa ia tak terima akan hadiah yang ia terima dari Anin.
Derasnya air hujan yang menyirami bumi, seakan membawa rasa tersendiri bagi Anin, dan di tengah air yang mengguyur tubuhnya kini berada di tengah-tengah derasnya hujan.
Dan tanpa ia sadari lelaki yang bernama Alex, kini menatapnya lekat-lekat seakan tak percaya dengan aksi gila yang di lakukan oleh perempuan itu.
Bagaimana kalau dia sakit.
Apa dia sudah tak waras dengan berlarian di tengah hujan.
__ADS_1
Apa sebegitu menyakitkan tentang aku yang berbicara tadi.
Bukan kah itu kenyataanya.
Tapi mengapa dia begitu tersakiti dengan kata-kataku.
Apa ada yang salah dengan semua ini.
Seakan semua menjadi tanda tanya bagi Alex, dan bercampur aduk memenuhi isi kepalanya.
🍀🍀
Tuhan apa aku sekotor itu, di mata para manusia.
Tuhan apa aku terlihat hina di depan mereka.
Hiks..hiks..hiks.
"Kenapa jalan hidup seperti ini Tuhan" teriak Anin, dan seakan langit pun ikut menangisi nasibnya saat ini, karena setelah mendapat hinaan sang langit pun seakan tahu, akan jalan hidupnya. Malam yang terang kini berubah menjadi mendung hingga hujan deras di datangkan, yang kini menjadi saksi atas kepiluannya.
Dan entah apa yang ada di pikiran lelaki itu, hingga Alex pun menyusul Anin, yang sedang duduk di kursi yang terdapat di pinggir jalan, dan berteman kan dengan derasnya hujan.
Dan lelaki itu tepat berada di depannya.
"Apa kau sudah gila dengan hujan-hujanan seperti ini." Anin masih menunduk sesekali sesenggukan.
"Hye kau dengar aku tidak."
"Oh Tuhan, apa yang ada di dalam kepala kamu aku hanya merasa miris melihat nasib kamu saja tak lebih."
"Apa kamu sedang menertawakan aku dalam hati kamu,"
"Mengapa kau bisa berpikir seperti itu."
"Kamu sendiri kan yang bilang, jika miris melihat nasibku."
Ck..ck.. "Maaf, maaf, bukan itu maksudku."
"Maka tertawa lah sesuka hatimu,"
"Apa kamu merasa tersakiti saat saya bilang kamu adalah j*lang,"
"Ikuti kata hati kamu! jika hatimu berkata demikian, cukup lah aku dan Tuhan yang tahu!"
Deg..
"Tunggu!"
"Tak ada yang perlu di jelaskan, dan seharusnya aku tak sakit hati saat kamu bilang hidupku berada di dunia malam, karena memang kenyataanya seperti itu."
__ADS_1
Perasaan apa ini, mengapa aku tiba-tiba merasa bersalah sama ini cewek, bukan kah memang ini pekerjaannya, tapi mengapa, dan sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan olehnya, maka baiklah saya akan mencari tahu. Alex membeku saat Anin, mengucapkan kalimat yang terakhir, tanpa ia sadari gadis itu sudah hilang dari pandangannya.
Hujan rintik-rintik masih menghiasi sang malam, di saat semua insan berada di bawah hangat selimut, namun tidak dengan Anin, karena tiap malam ia habiskan untuk bekerja, demi menyambung hidup.
"Kemana perginya bocah tengil itu ya" gumam nya.
Dan Alex berniat menyusuri jalanan untuk mencari keberadaanya, entah apa yang sedang terjadi pada dirinya hingga ia rela menerobos derasnya hujan demi menyusulnya.
Sedang tempat lain.
Anin, tak tau sudah berapa lama ia berjalan dan terus berjalan dengan langkah gontai, karena kini ia merasa kedinginan, serta pusing di kepalanya menambah beban dalam berjalan.
Berusaha kuat dalam melangkah, namun nyatanya ia tak sekuat ultramen dalam berperang, dan akhirnya..
BRUK..
Alex yang memang sedang mencari akan keberadaanya kini ia malah menemukannya sudah tergeletak di pinggir jalan.
"Anin, bangun"
"Nin, Sadar Nin"
Alex yang kelabakan karena bingung apa yang harus di perbuat, namun tiba-tiba terdengar gawai milik Anin, berdering. Dan dengan cepat Alex mengambilnya siapa tahu bisa di mintai pertolongan.
Ternyata yang menelpon adalah Intan.
["Halo Nin, katanya kamu lagi gak enak badan dan Mami bilang lu lagi ijin buat pulang, lu gak papa kan Nin?"]
["Ini saya Alex, Anin pingsan di jalan,"]
["Lu apain temen gue sampai pingsan, awas ya kalau lu macem-macem sama dia,"]
["Daripada kamu ngomel mending kesini tolongin saya, kalau bisa secepatnya kamu datang dan saat ini saya berada di jalan xxxxxx."]
Dan setelah itu panggilan di putus secara sepihak oleh Alex.
Tak berapa lama Intan pun datang dengan pengawal Mami, sehingga Intan bisa membawanya dengan mobil untuk menuju ke tempat kos, karena jarak kos dan rumah tempat kerjanya hanya memakan waktu sekitar 30 menit.
"Lu apain sahabat gue sampai kek gini, apa lu jangan-jangan Perk*sa dia! sampai-sampai ia berlari menerobos hujan, awas saja sampai kenapa-kenapa sama Anin, lu harus bertanggung jawab setelah ini." Intan merasa tak Terima karena melihat temannya terbujur dengan semua badan yang basah kuyup.
"Nin, bangun Nin, lu gak boleh lemah, lu kuat ayo Nin, bangun." Teriak Intan dengan di iringi isak tangis.
"Sampai gue tau kalau lu bener-bener mau memperk*sa Anin, lu harus mampus tau gak!"
"Kamu ngancam saya, tanpa saya perk*sa dia pun sudah beberapa kali menyervis para pelanggan yang ada."
Sebegitu kah pikiran kotor yang terbesit dari seorang Alex, tanpa ia tau wanita seperti apa sosok yang saat ini terbaring di hadapannya.
"Orang Jal*ng masih saja di bela."
__ADS_1
Plak..
"Kamu!"