
"Sayang ayo bangun, ada titipan dari Ibu."
"Eum." Anin menggeliat karena merasa tidurnya terusik.
"Sayang, buruan bangun, ini sudah jam delapan lho." Alex masih setia membangunkan istrinya, aneh sudah berhari-hari Anin menjadi pemalas dan lebih banyak tidur, dari yang biasanya menemaninya mengerjakan sesuatu, dan beberapa hari ini sudah tidak lagi.
"Iya." Dengan mata yang masih terpejam Anin menjawab.
Dengan dengan rasa malas akhirnya Anin bangun juga.
"Ada apa sih, kamu mengganggu tidur ku saja." Sungut Anin, yang kesal akibat tidurnya yang belum cukup tapi sudah terganggu akibat ulah suaminya yang membangunkannya.
Tak berapa lama Anin telah bangun, walau malas, tapi pada akhirnya ia bangun juga.
"Memangnya Ibu memberiku apa? Sehingga kamu membangunkan ku," Dengan rasa kantuk yang masih tersisa, Anin mencoba mengendalikannya.
"Ini, untuk memastikan, dan ini Ibu membuatnya untuk mu sayang." Alex memberikan satu buah tes pack, dan rujak manis.
"Untuk apa?" Anin bertanya dengan heran, karena mertuanya memberikan alat tes kehamilan kepadanya.
"Untuk membuktikan sayang, jika di dalam perut kamu ada junior kecil." Anin langsung mengambil alat tes kehamilan tersebut, dan Anin membuka kotak makan yang katanya berisikan rujak manis.
"Wow, pasti enak." Gumam Anin dengan mata yang berbinar-binar, layaknya menemukan sebuah harta karun.
"Sayang, ini cobalah siapa tahu memang beneran ada," Alex menyuruh sang istri untuk segera memakainya.
"Baik lah." dengan langkah kaki yang gontai, karena dirinya benar-benar lemas, akhirnya sampai lah di dalam kamar mandi untuk segera mengetes nya dengan urin.
Beberapa saat.
Alat kecil dan panjang itu, menandakan jika terdapat garis dua.
Anin membekap mulutnya, karena dirinya tak menyangka dan tak memperhatikan jika selama ini dirinya telah hamil.
Terimakasih tuhan, engkau telah mempercayakan anak ini ke dalam rahim ku. Anin menangis, tapi bukan menangis sedih tentunya menangis karena bersyukur karena tuhan mempercayainya, dan tangis haru merasuk kedalam relung jiwanya, karena hampir berjalan satu tahun mereka akan di karuniai seorang malaikat kecil.
Tok.
__ADS_1
Tok..
Tok.
"Sayang, kamu tidak apa-apa kan. Kok lama di kamar mandinya." Akhirnya Alex memutuskan untuk menyusul sang istri ke kamar mandi, karena hampir 20 menit, Anin tak kunjung keluar.
Anin yang berada di dalam kamar mandi dengan segera, mengusap air matanya, dan dengan segera menjawab panggilan sang suami.
"Iya Mas, sebentar."
Ceklek.
"Kok lama," Anin yang baru saja membuka pintu, langsung di tanyai oleh Alex.
"Iya tadi sekalian karena uda kebelet." Anin sengaja berbohong dan menutupi jika dirinya sehabis menangis di dalam kamar mandi, dan ini tentunya kabar yang menggembirakan.
"Gimana dengan hasilnya?" tanya Alex yang sangat antusias.
Anin diam, dan menunduk. Seolah-olah apa yang mereka harapkan tidak akan terjadi.
Adi juga ikut menunduk, saat melihat Anin menunduk.
"Lex," panggil Anin.
"Kenapa?" timpal Alex.
"Seandainya memang aku tak bisa mempunyai anak, apa kamu akan meninggalkan aku," Anin hanya ingin kejujuran dari mulut suami nya jika, suatu saat dirinya tidak bisa mempunyai anak. Apakah Alex akan pergi meninggalkannya dan mencari wanita yang sempurna.
"Pertanyaan macam apa itu sayang, kamu ingat perjuangan ku untuk mendapatkan kamu seperti apa? Tujuh tahun sayang, tujuh tahun bukan lah waktu yang singkat, dan aku menolak menikah hanya untuk bisa memperjuangkan cintaku, yang pernah bertepuk sebelah tangan, tapi kini dengan mudahnya aku menghancurkan itu semua! Tidak sayang. Aku akan setia dan kita akan terus menua hingga maut memisahkan kita."
Alex berkata penuh dengan ketegasan, dan membuat Anin tanda sadar mengulum senyum.
"Tapi.." Ucapan Anin beberapa detik terjeda.
"Tapi apa," dengan wajah serius Alex berkata.
"Bukan kah suatu rumah tangga akan hambar jika tak ada suara tangisan seorang anak," Anin masih berlanjut membahas soal keturunan, ia hanya memastikan jika Alex bukan lah, seperti kebanyakan lelaki yang berada di luaran sana. Jadi, apa salahnya jika dirinya menguji kesetiaan Alex padanya.
__ADS_1
"Kita bisa mengadopsi anak, bukan. Di panti asuhan banyak anak yang kurang beruntung jadi kita bisa menolongnya, untuk memberikan kehidupan yang layak, kasih sayang yang sesungguhnya. Ada banyak cara lain kita bisa punya anak, tidak harus aku meninggalkan seorang istri dengan kekurangan itu kan, jadi stop untuk membahas masalah ini lagi."
Begitu tegas, dan dewasa bukan, cara berpikir Alex. Dan terlihat senyuman yang memudar kini terlihat pancaran dari wajah Anin lagi.
"Sayang, aku punya hadiah buat kamu, karena kamu sudah membuat aku bangga padamu." Anin memberikan tes pack tersebut dan meletakkan di tangan Alex.
"Garis dua, i-itu tandanya kamu."
"Iya sayang, selamat ya kamu bakalan jadi Ayah," dengan senyuman yang mengembang Anin berujar.
Dan seketika Anin di bawanya ke dekapan sang suami.
"Terimakasih ya sayang, bisa-bisa kamu mengerjai ku," Adi berkata sambil mengelus lembut perut Anin yang masih terlihat rata.
Ya Allah terimakasih atas kado yang engkau beri kepada kami, kami sangat bahagia dengan anugrah terindah ini. Ya Allah engkau sudah memberikan kepercayaan kepada kami, dan kami juga berjanji akan menjaganya hingga ia dewasa dan bisa berdiri tanpa kami lagi.
Tangis haru mewarnai pagi yang cerah dan tentunya indah.
"Bisa kah kamu melepaskan pelukan ini, ini membuat ku sesak, lagian aku ingin memakan rujak buatan Ibu."
Anin berkata dengan memonyongkan bibirnya karena kesal.
"Maaf sayang."
"Lebih baik kamu sarapan dulu, sebelum makan rujaknya," Alex memberi tahu agar istrinya mau sarapan terlebih dulu, dan menurutnya itu tidak baik bagi calon bayi jika sang ibu tak memenuhi nutrisi yang cukup. Apalagi pagi-pagi makan yang asem-asem itu juga tidak baik.
"Kamu pengen apa, biar ku beliin ya, atau mau di masakin sesuatu. biar Mas masakin, kamu tinggal bilang." Suara Alex membuat kepala Anin pening karena merasa suaminya terlalu heboh.
"Aku hanya ingin memakan roti, enggak mau yang lain, tapi aku mau roti yang ada di minimarket."
"Baik lah istrinya Mas yang cantik tunggu ya."
"Hye anak Ayah, sebentar ya, ayah masih ingin membelikan apa yang kamu mau, sehat-sehat ya anak Ayah di dalam perut Bunda."
Alex mengelus perut rata Anin, dan mengajak bicara, seolah-olah dirinya sedang mengajak bicara sang anak.
"Lex, belum merespon, karena perut ku juga masih rata, jadi segeralah pergi, sebelum anak mu keburu ngeces."
__ADS_1
"Ya udah, Mas berangkat ya."
"Eum."