Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 75. Alam, Berpihak lah Kepadaku Sedikit Saja. (21+)


__ADS_3

Empat hari sudah, sesuai kesepakatan hari ini, hari di mana Anin menjadi teman ranjang Yuda, untuk yang terakhir kali.


"Sesuai kesepakatan awal, hari ini adalah hari terakhir saya menjadi pemuas birahi anda bukan."


"Aku tidak lupa, ini ada bonus untuk mu."


"Terimakasih." Lalu Anin mengambil amplop berwarna coklat, malu tidak! Karena itu haknya.


"Apa semahal itu untuk tingkat keperawanan," dengan menautkan kedua alisnya, Adi berbicara.


"Saya hanya menawarkan, kita sama-sama untung bukan, jadi apa anda menyesal." Timpal Anin.


" Tidak saya hanya bertanya, apa memang segitu harga pasaran seorang yang masih perawan."


"Entah lah, tapi." Kalimat itu terhenti.


"Tapi apa!"


"Anda menerimanya bukan,"


"Karena saya belum pernah merasakan seperti kamu, jadi. Apa salahnya saya mencoba, dan ternyata sensasinya jauh lebih nikmat di banding mereka."


Dan kini lelaki yang bernama Yuda, perlahan menciumi tengkuk leher milik Anin, dan mencumbuinya dengan rasa nafsu yang menggebu.


"Aku menginginkannya." Bisik nya pada Anin.


"Oh, ayo lah sayang, karena sesuatu di bawah sudah menginginkannya." Ucapnya lagi, dengan suara yang memelas.


Dan seketika Anin merinding saat hembusan nafas itu masuk ke dalam telinganya, membangkitkan bulu-bulu halus yang berdiri.


Anin hanya mampu diam tanpa melawan, karena menurutnya tubuhnya sudah terbeli. Jadi, ia harus apa! Selain pasrah menikmati takdir yang ia pilih sendiri. Jalan yang di lalui nya sendiri, serta ini lah pilihannya.


Mulai melepaskan satu persatu yang melekat di tubuh Anin, dan tak ada yang tersisa satu pun yang melekat.


Menangis percuma.

__ADS_1


Boleh kah ia mengatakan, jika dirinya 'lelah' dengan semua ini. Dosa membawa kenikmatan, nikmat sesaat tapi penyesalan tak akan pernah hilang.


Lelaki tersebut menuntun Anin ke king size, dan menciumi area sensitifnya, mel*umat habis gunung kembarnya.


Di bawa kungkungan lelaki yang membelinya, hanya bisa pasrah tanpa berontak sama sekali.


******* yang terdengar memenuhi kamar saksi bergulatan mereka, Ac, yang menyala namun tak bisa meredamkan panasnya ruangan itu. Peluh yang membasahi seakan menandakan jika laki-laki tersebut sangat lah hebat.


Ahhhh.. " Sebentar lagi sayang."


"Tahan, Aaah nikmat." Maka seperti itu lah suara yang keluar dari mulut lelaki itu, suara kenikmatan yang terdapat di kamar, dan lelaki itu begitu menikmatinya, berbeda dengan Anin, yang mencoba menolak gejolak yang membawanya ke surga dunia. Hatinya menolak namun tidak dengan mulutnya.


Setelah menuntaskan hasrat surga dunia, lelaki tersebut ambruk, karena ini adalah permainan ranjang yang kedua ronde nya.


Anin tak bergeming, dan memalingkan badannya menghadap ke samping. Lalu Yuda menyelimuti seluruh tubuh Anin, dan di peluk lah erat seperti tak ingin kehilangan mangsanya.


Jika sebelumnya dirinya akan menyuruh jala*ng untuk segera meninggalkannya, tetapi saat ini sangat lah berbeda, seperti tak mau kehilangan, dan dirinya sudah mendapatkan rasa nyaman dari gadis yang di belinya.


Kak, maaf aku gak bisa menjaga kehormatan ini, maaf aku gagal, jika Kakak ingin marah maka aku menerimanya Kak. Aku terpaksa karena sudah tak ada pilihan lagi. Dalam diam dirinya meminta maaf pada Almarhum Niko, karena sungguh dirinya tak bisa menjaga kesuciannya.


Apa gadis ini menyesal, bukan kah dirinya yang memilih untuk ku tiduri. Batin Yuda.


Kak, aku rindu, apa Kakak gak bisa bawa aku pergi dari alam yang tak pernah berpihak kepadaku sama sekali. Tak ingin terdengar Anin membekap mulutnya, agar tak mengeluarkan suara.


"Apa kamu menyesal."


"Harus kah aku menyesali apa yang sudah terjadi, dan bisa kah yang hilang akan kembali lagi tuan."


Yuda tak bergeming, mematung menatap wajah yang penuh luka hati, seperti nya.


"Bisa kah anda mengantar saya pulang, saya hanya ingin sendiri." Imbuh Anin lagi.


"Apa kamu tak bisa semalam lagi untuk menemani saya, atau jika kamu mau saya akan menikahi mu."


"Menikahi hanya untuk melampiaskan nafsu, ku rasa anda tidak perlu repot-repot menawarkan sebuah status sesaat." Dengan cepat Anin menjawab karena dirinya tau maksud ucapan tersebut dan senyuman seolah dirinya adalah orang yang patut di kasiani.

__ADS_1


"Saya suka jawaban mu, ternyata kamu pun seorang pendiam tapi, mulut mu mematikan lawan bicara mu."


"Saya tak butuh pujian, karena saya bukan lah orang yang haus akan pujian."


Dasar gadis keras kepala. Batinnya.


Anin memilih bangun serta membawa selimut yang sempat membungkus tubuhnya, dan berjalan ke arah kamar mandi.


Di bawah guyuran dinginnya air, Anin terus saja menyiramkan air itu ke kepalanya.


"Apa memang hidupku di takdir kan seperti ini, dan hanya membuat dosa, di sepanjang waktu. Tuhan aku menyerah, aku tak kuat dengan apa yang ku jalani sekarang." Anin menangis tersedu-sedu di bawah dinginnya malam serta dingin nya air, berharap dirinya sakit lalu mati, untuk menyusul orang-orang yang di cintai nya.


Kenapa gadis itu lama sekali di kamar mandi. Batin Yuda.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...


Kisah Yuda.


Yuda seorang pemain wanita, dan hari-harinya pun di kelilingi banyak wanita maka bisa di katakan celup sana celup sini. Yuda Permana saat berada di Club. Dirinya mencari wanita sesuai dengan apa yang di inginkan nya. Mami yang melihat buru-buru menghampiri Yuda, tau jika lelaki tersebut ada orang tajir jadi. Mami menawarkan wanita tapi yang masih virgin belum sama sekali melakukan hubungan terlarang, meski Mami menjelaskan tentang pekerjaan wanita yang di suguhkan nya. Dengan hati yang di kuasai sebuah tawa dan senyuman yang mengejek, dan dalam batinnya mana lah mungkin seorang pelayan sekaligus wanita simpanan para hidung belang, nyatanya masih suci! Sungguh dirinya tak percaya hingga, tanpa pikir panjang Yuda menerima tawaran tersebut.


"Bagaimana, apa kamu menerima tawaran saya, sesungguhnya dia anak yang baik, bukan seperti yang kamu pikirkan. Terdesak membuatnya mengambil jalan pintas." Ucap Mami, karena Mami pun mengenal baik sosok Adi.


"Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi! Tapi, saya setuju dan kita deal."


"Apa anda tidak keberatan dengan nominal nya."


"Seorang Yuda Permana orang yang kaya, maka harga segitu apa saya tak mampu! Pastinya saya mampu, apalagi jika wanita yang nantinya anda berikan sesuai dengan ucapan mu." Gelas yang berisi minuman beralkohol perlahan di teguk nya hingga habis lalu menuangkannya lagi.


"Oh ya, segera suruh gadis itu kemari," titah Yuda."


"Baik."


Lalu Mami pun akhirnya menghubungi Anin, dan meminta untuk segera datang menemui laki-laki tersebut. Tapi, satu malam belum puas rupanya, hingga Yuda memberi penawaran lagi. Untuk memuaskan hasratnya lagi dan, tentunya dengan imbalan yang cukup lumayan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2