
Sesampainya di taman, mereka duduk di bangku panjang. Dan sesekali Anin menatap langit yang di penuhi bintang, dan di bawah rembulan yang terang ingatannya terhadap Niko, dan kepingan saat bersamanya kini memenuhi pikiran Anin lagi.
Dan Alex tau apa yang tengah di pikirkan oleh wanita yang berada di sebelahnya.
Hampir dua tahun aku menunggu mu Nin, tapi nampaknya kamu belum sepenuhnya mencintai aku. Entah sepertinya kamu hanya mencintai aku karena rasa kasihan atau memang mencintai dari hati kamu, aku tak bisa merasakan itu. Mungkin karena rasa cintaku yang teramat besar kepadamu hingga aku tak tahu isi hatimu yang sesungguhnya.
Alex yang berperang dengan hati dan perasaannya karena rasa cinta yang di beri Anin nampaknya hanya sekedar rasa iba, bukan rasa cinta dan sayang yang sesungguhnya.
"Sayang," panggil Alex.
"Iya kak, kenapa," tanpa sadar Anin memanggilnya dengan sebutan Kakak.
Seketika Anin sadar saat dirinya menatap wajah lelaki tersebut.
"Maaf." ujar Anin lagi.
"Tak masalah." Jawab Alex.
"Apa ada yang kamu katakan saat kita berada di rumah," Alex ingin bertanya sewaktu tadi rumah.
Anin diam untuk beberapa detik.
"Kamu tau Lex, makan malam tadi adalah makan malam ku untuk yang pertama kalinya, dan masakan itu, masakan itu untuk pertama kalinya aku memakan."
"Tak bisa ku pungkiri kalau aku bahagia bisa makan dengan Ibu, dan memberi kan ku sepiring nasi untuk yang pertama kali nya. Tapi....Aku juga benci karena aku harus mengingat luka lama yang sudah susah ku sulam ulang agar tidak kentara kalau aku masih terluka dengan itu semua." Lantas Anin bersandar di bahu Alex dan tangannya merangkul lengannya dengan begitu erat.
"Terkadang hidup itu butuh lelucon untuk mengisi di kehidupan kita,"
"Iya, tapi apakah semua kesulitan yang aku alami apa tidak terlalu berlebihan dengan lelucon, seperti yang kamu bilang."
"Berarti kamu wanita tangguh, bisa melewati hidup yang penuh lelucon."
"Nin," tegur Alex.
"Eum," Anin menyahuti.
"Boleh aku bertanya?" ujar Alex.
__ADS_1
"Silahkan," timpal Anin.
"Sejauh mana kamu mencintai ku," Alex mencoba menghilangkan keraguan yang selama ini mengganggunya dengan dirinya memastikan lagi.
"Mengapa kamu bertanya? Bukan kah sekarang kamu mendapatkan aku, dan itu sudah lebih dari cukup." Anin mengangkat kepalanya dari Bahu Alex dan menatap wajah tampan tersebut.
"Apa kamu mengira aku begitu bahagia saat kamu membalas cintaku, tidak Nin! Jika bibirmu berkata ia tapi tidak dengan hatimu, apa aku bisa senang sama sekali tidak. Yang ku harapkan kamu dan hatimu bukan hanya ragamu." Akhirnya Alex mengungkapkan tentang isi hatinya yang selama ini di pendam nya.
"Katakan jika kamu mencintai aku, dan katakan jika kamu pun tidak bersungguh-sungguh mencintai aku juga." Imbuhnya lagi.
Anin terdiam dan termangu, saat Alex mengatakan tentang perasaanya, jauh di lubuk hatinya dirinya memang belum bisa mencintai Alex sepenuhnya, tapi dalam beberapa bulan terakhir dirinya sudah merasakan nyaman saat berada di dekatnya, Anin tak ingin mencintai karena cinta ada masanya. Jadi, dirinya lebih memilih menyayanginya dengan begitu rasa sayang yang ia miliki tak akan pernah pudar.
"Maaf."Satu kata yang terucap dari bibirnya.
" Sesulit itu kah mencintai aku," ucap Alex.
"Apa aku bisa mencintai kamu?" tanya Anin kembali.
"Itu semua tanyakan pada hatimu, karena yang tahu hanya kamu serta hatimu." jawab Alex dengan suara yang sedang menahan gejolak di hatinya.
"Aku tak mencintaimu, karena cinta itu ada masanya. Di mana seseorang akan meninggalkan saat dirinya sudah merasa bosan. Jadi? cukup aku memberimu kasih sayang, dengan begitu aku tak akan meninggal kan atau menyakiti orang yang ku sayangi." Anin memandangi wajah lelaki tersebut dengan lekat.
Alex terharu oleh kata demi kata yang di ucapkan Anin. Dan Alex pun memeluk tubuhnya dengan erat, dan ia berjanji jika dirinya tak akan mengatakan soal 'cinta' kepada Anin lagi.
"Terimakasih Nin, kamu sudah berkata jujur," masih memeluk tubuh ramping Anin, dirinya berkata.
Kini Alex sedang berbahagia, nyatanya Anin membalas cintanya.
"Maaf ya Lex udah bikin kamu gak nyaman tentang hubungan ini." Ujar Anin.
Mungkin ini waktunya aku melupakan masa lalu dan berjalan menuju ke masa depan, tenang lah Kak Niko, nama kamu tetap aku simpan karena kakak adalah cinta pertama ku. Dan untuk Alex sebisa ku aku akan menjadi apa yang kamu ingin kan.
"Lex," panggil Anin.
"Iya sayang." timpal Alex.
"Boleh kah aku ke makam Kak Niko, dan berkunjung ke rumah Bu Susi." Anin meminta Izin untuk ke makan dan sekalian ia akan bertandang ke rumah Bu Susi, karena sudah teramat rindu pada mereka.
__ADS_1
"Tentu saja, sayang. Besok aku yang akan mengantar kamu," Alex tentu mengizinkan, karena biar bagaimana pun, Anin pernah membuat kisah sejarah dengan Niko.
"Terimakasih." Dengan senyuman yang mengembang membuat Alex ingin sekali cepat-cepat menikahinya, meski usia yang terpaut jauh. Namun itu semua bukan lah menjadi penghalang di antara mereka. Setelah mereka berdua mengungkapkan tentang isi hati masing-masing, Alex mengajak Ani untuk pulang. Karena malam kian bertambah larut.
Sesampainya di rumah.
"Nak Alex maaf ya, tidak ada kamar, jadi nak Alex terpaksa tidur di ruang tamu." Ujar Bu Indah. Sejujurnya Bu Indah merasa malu karena tak bisa memberikan tempat yang layak untuk tamunya tersebut. Tapi, mau bagaimana lagi. Ini lah keadaanya sekarang! Bisa makan dan memenuhi segala kebutuhan sehari-hari saja itu sudah lebih dari cukup, nyatanya semua kebutuhan Anin yang menanggung.
"Iya Bu, tidak apa-apa kok, ini sudah lebih dari cukup." jawab Alex, dengan di iringi sebuah senyuman.
"Ya sudah Ibu kedalam dulu ya nak Alex." Pamit Bu Indah.
"Nin, segeralah tidur, ini sudah larut malam, tak baik bagi kesehatan." Bu Indah menegur Anin, supaya dirinya juga lekas beristirahat, karena sekarang sudah jan 00:00 malam.
"Iya Bu, sebentar lagi Anin masuk." Setelah mendengar jawaban dari Anin, Bu Indah langsung berjalan dan meninggalkan mereka berdua, Alex, dan Anin di ruang tamu.
"Ya sudah aku tidur dulu ya Lex." Alih-alih ingin melangkah namun tangannya di cekal oleh Alex.
"Kenapa?" tanya Anin dengan wajah bingungnya.
Cup.
"Selamat malam, kesayangan Alex." Ternyata Alex mencium kening Anin sebelum dirinya juga beranjak untuk tidur.
"Selamat malam juga, pangerannya Anin."
"Coba ulangi." Ucap Alex yang masih di penuhi oleh rasa aneh serta keheranan, karena baru sekarang dirinya mendengar panggilan manis dari bibir Anin.
"Tidak ada kata ulang." Lalu Anin melangkah dan meninggalkan Alex seorang diri.
Apa aku sedang mimpi.
Plak.
Auh sakit.
"Ternyata aku sedang tak mimpi." Ingin memastikan hingga ia menampar pipinya sendiri, nyatanya ia belum tidur bagaimana bisa ia tiba-tiba bermimpi.
__ADS_1
Dengan wajah yang terukir bahagia, lantas ia dengan segera memejamkan matanya, untuk menyambut esok pagi yang akan datang.