Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 28. BERTEMU ALEX


__ADS_3

Sembilu yang di goreskan oleh mereka, seakan membuat aku tak bisa merangkai kata.


Terlalu sakit.


Terlalu kejam.


Terlalu kecewa.


Ranting kering yang kini mereka patahkan, membuat aku semakin hilang arah.


Tanpa tujuan, dalam menggapai hidup, dan sirna sudah harapan itu bagai terseret ombak. Dan aku tak ingin membuat harapan lagi.


Takut.. Takut akan bertepuk sebelah tangan, biarlah aku menjadi pungguk merindukan sang rembulan. Menanti dan menanti, hingga keajaiban itu datang.


...****************...


Tring..


pesan masuk pada Gawai Anin membuat ia seketika mengulas senyuman.


["Kakak sudah sampai di rumah,"]


["Baik-baik ya selama tak ada Kakak di sisi kamu,"]


["I love you Anin"]


Itulah pesan yang di kirim oleh Niko, dan Anin pun membalas dengan sangat cepat, mungkin ia saking bersemangatnya hingga ia lupa akan sesuatu.


["I miss you to, Kak Niko,"]


["Kakak juga baik-baik lah di sana."] dan pesan pun di kirimnya.


"Astaga aku kok bisa lupa ya, buat kirim pesan sama itu manusia cap Kulkas" gumam Anin.


Akhirnya Anin, mengirimi pesan pada Alex tentang alamat yang ia tinggali saat ini. Tak berapa lama pesan pun sudah di kirimkan oleh Anin.


"Moga saja besok tak terjadi apa-apa dan misi pun lancar" sambil berkata lirih lantas Anin menyeduh teh karena hawa dingin cukup lumayan menerpa kulitnya.


Setelah membuat teh untuk dirinya sendiri lalu ia duduk di depan kamarnya yang terdapat dua kursi dan satu meja, Ibu kos sengaja memberi meja kursi untuk anak-anak buat untuk jaga-jaga kalau ada temannya bertamu.


"Eh Anin, sendirian saja kamu."


Saat ia menikmati secangkir teh tiba-tiba pemilik kos datang, untuk menagih iuran karena ini awal bulan juga.


"Iya Bu, memang Ibu mau nemenin saya ngeteh sambil ngobrol."


"Ah, kamu bisa saja," bu Ida tersenyum pada Anin, karena berbicara dengan nada bercanda.


"Nantilah kalau udah kelar nagih anak-anak."


"Ya sudah ya saya mau lanjut buat nagih dulu."


"Bentar Bu, saya ambil kan uang dulu ya," Anin yang hendak berdiri untuk mengambil uang yang akan di bayarkan, namun terhenti oleh jawaban Bu Ida.


"Uang apaan Anin, perasaan kamu gak ada utang deh sama Ibu."


Lah ini orang bagaimana sih, lupa apa memang sengaja. Batin Anin dalam hati.


"Lah Ibu, lupa apa emang lupa?" Anin di buat heran oleh ucapan pemilik dari kos ini.

__ADS_1


"Ibu masih sehat Nin, dan gak punya sifat pelupa."


"Lah terus ini uang ngapa di abaikan Bu, apa memang saya sedang mendapatkan jackpot,"


"Iya."


Jawaban macam apa ini terlalu singkat.


"Huh.." Seketika mataku terbalak saat beliau mengucapkan kata singkat itu dan apa maksudnya dengan menolak uang sewaku.


"Gak usah kaget, dan jangan melongo nanti kemasukan lalat."


Aku langsung menutup mulutku dengan kedua tanganku karena mendapat olokan dari Bu Ida.


"Untuk sewa kamar kamu sudah ada yang membayar selama satu tahun, jadi uang hasil kerjamu tabung lah."


Aku langsung terkesiap mendengar apa yang telah di katakan oleh Bu Ida, apa mungkin Niko yang membayarnya. Tapi terlalu banyak yang di bayarkan olehnya.


"Bu, boleh saya tanya sesuatu?"


"Mau tanya apa,"


"Kira-kira siapa yang sudah membayar kos saya Bu."


"Katanya dari tunangan kamu."


Uhuk..uhuk..


Berarti benar Kak Niko, yang sudah membayar uang kos.


"Pelan atuh Nin, kalau minum."


"Maaf Bu masih lumayan agak panas makanya sampai tersedak." Ucapku bohong.


"Iya Bu, makasih."


🍀🍀


Tak terasa jam yang berputar begitu cepat, begitu pun dengan sore ini sudah berganti dengan malam. Tepat jam tujuh malam Aku dan Intan sudah bersiap untuk berangkat kerja mengais rejeki demi sesuap nasi, jika saja ada yang menerima aku tanpa menanyakan perihal kelulusan ku, mungkin saja aku berhenti dari tempat maksiat ini.


Apa kah ada pekerjaan tanpa melihat pendidikan.


Aku hanya berdoa, semoga ada yang mau menerima aku dengan predikat bodoh.


Untuk mencari sesuap nasi di tempat lain.


Meski aku dan Intan satu kerjaan namun kita berangkat terpisah karena kami di antar oleh ojek masing-masing dan pastinya kita akan bertemu di tempat Mami.


"Makasih ya Bang."


"Iya Mbak sama-sama."


"Mbak Anin, boleh saya nanya sesuatu?" entah lah apa yang akan di sampaikan Bang Heru, tiba-tiba saja ingin bertanya sesuatu.


"Mau tanya apa Bang."


"Mbak, apa gak lebih baik Mbak, keluar di tempat ini dan mencari pekerjaan lain, maaf sebelumnya jika saya lancang,"


Lantas Anin, tersenyum kecut saat mendengar apa yang di sampaikan oleh Bang Heru.

__ADS_1


"Jika ada yang membutuhkan karyawan seperti saya boleh Bang Heru mencarikan, Jika pun ada yang membutuhkan seorang pekerja yang tak pernah sekolah seperti saya, saya pun mau Bang, tapi apa ada! dan jika ada saya tak akan bekerja seperti ini." Tekan Anin, pada Bang Heru.


"Maaf Mbak."


"Jangan meminta maaf, karena memang kenyataanya seperti ini ada nya Bang."


"Jika berkenan izinkan saya membantu Mbak Anin, untuk mencari pekerjaan lain,"


"Jika Ada, kalau tak ada jangan memaksa Bang, karena memang sudah jalannya saya mencari uang di tempat ini."


"Ya sudah saya masuk dulu ya."


Sesampainya di dalam.


"Anin!" teriak Mami.


"Iya Mi,"


"Buruan siapkan minuman di meja sana, tadi seseorang meminta minuman namun belum ada yang mengantar, karena Intan, sedang ada tamu." Titah Mami, pada Anin, dengan segera ia mengambil minuman untuk seseorang yang memesannya.


Suara jedag- jedug dari ruangan ini mampu membuat semua orang menghilangkan rasa penat yang untuk sesaat, Dan alunan musik yang mengiri jogetan di antara banyaknya orang dengan saling bersenggolan membuat hidup mereka tak merasakan beban untuk sekarang.


"Ini minuman yang anda pesan tuan." Lantas Anin, menaruh gelas dan sebotol minuman saiton itu di hadapan lelaki yang berpostur tinggi.


"Bisa duduk! saya butuh teman ngobrol."


Saat lelaki itu mengangkat kepala, dan saat itu juga ia di buat kaget karena mengetahui siapa yang berada di hadapannya.


"Kamu!"


"Loh anda ternyata si lelaki kulkas."


"Apa kamu bilang!"


"Saya tak bicara apa-apa."


Dengan mendengus kesal karena ia mendengar apa yang sebetulnya di ucapkan oleh gadis itu.


Ya lelaki itu adalah Alex, yang menyewa jasanya untuk menjadi pacar bohongan.


"Sejak kapan kamu bekerja di sini?" tanya Alex, pada Anin, masih dengan muka sombongnya ia bertanya perihal pekerjaan yang dilakoninya.


"Emang apa urusannya dengan anda kalau saya bekerja di sini."


"Saya bertanya sejak kapan kamu bekerja di tempat Ini!" Anin yang mendapat gertakan dari Alex, membuat ia agak sedikit takut, walau begitu ia berusaha untuk bisa menguasai rasa takut itu.


"Mau saja kerja di sini, mau saya jungkir balik di sini anda tak ada hak untuk bertanya seperti ini, apalagi dengan anda menggertak saya."


Anin, bersuara agak keras di karenakan musik yang nyaring membuat ia harus mengeluarkan suara yang keras juga.


"Selama kamu masih terikat kontrak kepada saya, saya pun wajib mengetahuinya."


Eh buset sejak kapan peraturan itu ada, ngade-ngade ini orang.


"Perasaan tak ada sangkut pautnya sama isi kontrak itu, dan tak ada penjelasan juga kan, jadi atas dasar apa."


"Oh begitu rupanya, kalau pun kamu bekerja di sini itu tandanya kamu juga menyediakan servis dong ya,"


"Apa maksud kamu."

__ADS_1


"Jangan berlaga bodoh! semua orang pun tau jika seseorang bekerja di tempat ini tentunya ia akan menerima servis juga dari para pelanggan, lebih tepatnya J*lang."


Plak...


__ADS_2