Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 92. Kehamilan Anin


__ADS_3

Bu lita mendengar kabar jika menantunya hamil, merasakan kebahagiaan yang luar biasa, sehingga beliau memutuskan untuk mengunjunginya dan sekaligus menyuruhnya untuk memeriksakan kandungan di Dokter kandungan.


"Pak Udin, setelah ini antar kan saya ke rumah Alex ya," Bu Lita memberi tahu sopirnya untuk mengantarkan majikannya ke rumah anaknya setelah selesai mencuci mobilnya.


"Iya Bu, kalau begitu saya cuci mobilnya dulu ya, Bu." Jawab Pak Udin, pada majikannya, Bu Lita.


Dan rencananya Bu Lita akan menginap untuk beberapa hari ke depan. Untuk memantau sang menantu agar tidak terlaku banyak beraktivitas.


Terimakasih ya Allah engkau telah memberikan kejutan yang istimewa kepada hamba.


Bukan tanpa alasan Bu Lita berharap seorang cucu. Semenjak rahimnya di angkat akibat kecelakaan saat dirinya hamil tua.. Dan saat itulah dirinya tak akan bisa menjadi Ibu untuk kedua kalinya, kecelakaan tunggal telah menewaskan suaminya, dan saat itu juga dirinya sudah tak mau menikah lagi, dan lebih memilih mengurus Alex bayi sendiri kala itu.


Mungkin karena rasa cintanya pada sang suami yang begitu besar, jadi Bu Lita tak ada keniatan untuk membangun rumah tangga lagi.


"Ah selesai." Ujar Bu Lita sembari meregangkan badannya. Di usia yang sudah tak muda lagi. Membuat ia harus sering berolahraga, biar badan tetap fit. Meski usia yang sudah tua.


Tok.


Tok.


Tok.


"Iya sebentar." Bu Lita meletakkan foto mendiang suaminya, untuk membukakan pintu.


"Iya Pak Udin," Ternyata yang mengetuk pintu adalah supirnya, mungkin sang supir memberitahu jika pekerjaannya sudah selesai, dan sudah siap akan mengantarkan majikannya itu.


"Sudah selesai Bu, kita berangkat sekarang apa nanti?" Pak Udin bertanya pada majikannya, karena pekerjaan Pak Udin pun sudah selesai.


"Sekarang Pak, soalnya ini udah siap semua,"


Lalu Pak Udin membawakan barang-barang yang akan di bawa ke sana, dan memasukkannya di dalam bagasi.


Beberapa menit kemudian Bu Lita sudah berada di mobil, rasanya sudah tak sabar untuk segera sampai di tempat sang anak.


SATU JAM KEMUDIAN.


Bu Lita sudah berada di rumah megah milik Alex, dan Anin tentunya tak ingin beranjak sama sekali dari kasur empuknya, biarpun untuk sekedar menyambut mertua. Dan berakhir Bu Lita lah yang menghampiri Anin berada di dalam kamarnya.


"Anin, apa kamu merasakan sakit?" tanya Bu Lita dengan suara lembut.

__ADS_1


"Enggak Bu, cuma rasanya kaki-kaki ini sulit untuk di ajak bangun, serasa gak ada tenaga." Suara lirih dari bibir Anin.


Kenapa ciri-cirinya seperti aku dulu, sewaktu mengandung Alex ya?. Bu Lita dalam hati bertanya-tanya, mengapa bisa kebetulan sama dengannya, saat sedang mengandung anaknya.


"Ibu maklum kok sayang, eum apa kamu ingin makan sesuatu?" Bu Lita bertanya, siapa tahu menantunya ingin makan sesuatu.


Anin sejenak diam, karena di pikirannya ada satu makanan yang ingin sekali di makannya.


"Sebetulnya aku ingin rujak Bu," ujar Anin yang memberitahu Bu Lita, kalau dirinya sedang ingin rujak.


"Baik lah, Ibu akan membuatkan mu, kebetulan Ibu tadi bawa sayur mayur, dan ada tahu tempe juga, bentar ya."


Dengan hati yang berbunga Anin mengangguk.


Dan setelah itu, Bu Lita keluar dari kamar Anin, dan segera turun untuk menuju ke dapur. Karena menantunya ingin memakan rujak, daripada beli lebih baik buat sendiri lebih enak menurutnya.


Anin bersyukur, mendapatkan mertua sebaik Bu Lita, meski dulu sempat dirinya di benci oleh Ibu dari suaminya.


Sesat kemudian, Alex sudah masuk kedalam rumah, saat dirinya akan menaiki tangga, terdengar suara alat masak yang saling bersahutan, takut jika itu maling. Alex buru-buru berjalan ke arah dapur untuk melihat situasi.


Dan.....


"Ibu," panggil Alex.


"Lex, udah pulang?" tanya Bu Lita pada Alex, anaknya.


"Iya Bu, soalnya kasian Anin gak ada temannya, dan rencananya Alex mau ngajakin periksa." Ujar Alex.


"Sebaiknya memang begitu, oh ya Lex, kamu masih ingat Erika tidak," ucap Bu Lita, yang kini membahas yang lainnya tetapi tangannya masih memetik sayur untuk di buat rujak.


"Kenapa memang nya Bu?" Alex Duduk, dan menautkan satu alisnya.


"Kemarin Rika datang ke rumah," ucap Bu Lita.


"Terus, katanya dia belum nikah setelah enggak jadi nikah sama kamu," Bu Lita pun ikut duduk.


"Itu kan bukan urusan ku lagi Bu, jadi jangan di bahas! Kalau Anin denger nanti marah dia." Alex mencoba mencari topik lain dan tak ingin membahas soal wanita lain, karena menurutnya ia sudah beristri jadi, tak seharusnya iya membicarakan orang lain apalagi perempuan.


"Bukan begitu Lex, Ibu hanya takut. Takut kalau dia dendam lalu merusak hubungan kalian."

__ADS_1


Maaf kan aku ya rob, ternyata saya sudah berburuk sangka dengan Ibu.


"Semoga saja tidak Bu, bukannya dia kaya dan cantik jadi harusnya dia bisa menemukan pria bukan."


"Iya, tapi ya sudah lah. Uda matang apa kamu juga ingin mencicipinya?" Bu Lita menawarkan juga pada Alex.


"Boleh Bu, bentar ya Alex panggil Anin dulu," ujar Alex, yang ingin mengajak Anin untuk turun makan siang.


Anin yang merasa terusik, akhirnya menggeliatkan tubuhnya. Dan Anin juga merasa jika seluruh wajahnya diciumi seseorang.


"Apa aku sedang mimpi." Gumam Anin dengan mata yang masih terpejam.


"Ini nyata sayang."


Lalu perlahan Anin membuka mata dengan perlahan.


"Lex, kok tumben udah pulang?" Anin bertanya dan di iringi sedikit rasa kebingungan. Biasanya sang suami pulang paling lambat jam enam, tapi sekarang belum ada jam tiga sudah berada di rumah.


"Iya, memangnya gak boleh kalau suami ganteng mu ini pulang agak siangan,"


Alex berkata sembari mengelus pipi Anin yang terlihat sangat menggemaskan.


"Ya gak papa, bos mah bebas." jawab Anin.


"Ya sudah yuk turun, Ibu sudah selesai membuat apa yang kamu mau," ucap.Alex.


"Wah iya kah, em pasti enak." Dengan wajah yang berbinar-binar Anin berucap.


"Ya dong, yuk," Ajak Alex, untuk segera keluar dan turun untuk makan.


Sayang mengapa kamu berhenti, " mereka belum sempat turun tangga namun Anin berhenti.


"Entah lah, kakiku rasa ya gak ada tenaga? Lemes banget."


Tanpa menjawab keluhan dari sang istri, Alex langsung menggendong nya hingga sampai lah mereka di dapur.


"Setelah ini periksa lah, biar tahu keadaan si jabang bayi," tutur Bu Lita.


"Iya Bu, setelah ini kami akan bersiap-siap untuk periksa."

__ADS_1


Kini mereka pun makan bertiga, tak ada topik yang di bicarakan jadi mereka menikmatinya.


__ADS_2