Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 50. BERSANDIWARA


__ADS_3

Hari ini hari yang di nanti-nanti akan kedatangan Niko, untuk menjemput Anin, atas permintaan Bu Susi. Bahwa Niko memberi tahu Anin, lewat telepon karena hari ini Niko akan meluncur di mana Anin berada.


"Cie, yang lagi seneng," goda Intan.


"Apaan sih elu berisik deh ah," timpal Anin.


"Udah jangan di monyongin itu bibir, entar yang ada kepentok tembok lho," Intan terus saja menggoda Anin.


"Bisa diem gak," bentak Anin pada Intan, dan sukses membuat Intan langsung terdiam.


Anin dilema, karena entah mengapa perasaanya saat ini tak menentu, dengan tiba-tiba Niko memintanya untuk ikut bersamanya karena ada suatu acara yang Anin pun tak mengetahui acara apa. Tapi di sisi lain ia takut akan hal yang tak ingin di dengarnya.


Hatinya terlalu risau, sebisanya untuk setenang mungkin tapi dirinya tak bisa menutupi rasa itu.


"Ntan," pangil Anin.


"Apa!" sahut Intan.


"Apa ada yang gak beres, dengan penjemputanku," ucap Anin.


"Maksudnya, gue sama sekali gak ngerti apa yang elu maksud," balas Intan.


"Tentang gue yang di suruh ke rumah Niko, karena ada suatu acara, dan melibatkan gue,"


"Lha bagaimana ceritanya, sampai elu kagak tau acara apaan," tukas Intan pada Anin, karena Intan merasa aneh pada temannya, bukannya bahagia dan merasa senang tapi malah sebaliknya, Anin sedih karena rasa takut yang hinggap di hatinya.


"Nah itu dia, tiap Kak Niko gue tanya ada acara apa! bilangnya gue kagak perlu tau dan cukup ikuti maunya dia," ujar Anin.


"Bisa jadi kejutan, dan ingat! Elu kagak boleh berprasangka buruk pada keluarga Niko," Intan pun mencoba menenangkan Anin, agar tak terlalu berpikir yang aneh-aneh tentang rencana yamg di adakan keluarga Niko, karena Intan pun sama tak mengetahui juga.


"Iya," jawab Anin.


"Nah gini kan gue jadinya gak terlalu kuatir sama elu," ucap Intan.


Tin.


Tin.


Suara klakson membuyarkan percakapan mereka berdua, karena terlihat sebuah mobil hitam terparkir dari luar pagar.


"Mobil siapa Nin?" tanya Intan.

__ADS_1


"Eh ogeb, kalau elu tanya gue terus yang gue tanyai siapa dong," tukas Anin.


"Bentar-bentar itu bukannya Niko ya," berharap Intan tak salah dalam melihat.


"Masa sih," ucap Anin yang masih tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Intan.


Kalau emang bener kak Niko tumben bawa mobil, batin Anin, seraya memastikan jika yang di katakan Intan memang benar.


Semakin terdengar langkah sosok lelaki itu berjalan, semakin terlihat jika apa yang di ucapkan kan Intan memang benar.


Yah Niko lelaki yang begitu tampan tanpa cacat dan tak kekurangan satu apapun, berjalan menghampiri Anin, dengan begitu gagah, dan mampu membuat hati para wanita klepek-klepek terpesona akan ketampanan yang di milikinya. Anin dengan susah payah menelan ludah dan di buat ternganga oleh penampilan yang menurutnya berbeda dari biasa.


"Nin, sepertinya gue kembali ke kamar ya." seru Intan pada Anin.


Namun ya di ajak bicara malah mengacuhkannya.


"Hye sayang, udah bengong nya. Nanti itu jigong keluar lho," goda Niko pada Anin.


Dan saat itu juga Anin menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Hahaha.


Niko tertawa dengan begitu keras karena merasa lucu dengan sikap Anin. Dan saking gemesnya Niko pun mengacak-ngacak rambut milik Anin.


"Masuk yuk." ajak Niko pada Anin.


Dan mereka berdua pun berjalan masuk kedalam kamar.


"Kamu gak mau meluk Kakak, apa kamu enggak kangen ya sama Kakak juga." ucap Niko.


Dan Akhirnya Anin pun memeluk erat tubuh lelaki yang berada di hadapannya, dan menelamkan kepalanya diceruk leher Niko, hingga hembusan nafas terdengar tak beraturan memenuhi gendang telinganya.


Niko pun melepaskan pelukannya dengan perlahan lalu mata meraka saling beradu pandang, dengan pelan kecupan dilandaskan di kening Anin.


Cup..


"Maaf ya kesayangannya Kakak, lama enggak nengok," setelah melandaskan ciuman di kening anin, lantas dirinya berjalan ke arah jendela, lalu Niko menopang kan kepalanya di pundak Anin, dan melingkarkan tangannya di perutnya juga.


Suara lirih dan hembusan nafas yang membuat Anin merasa merinding, sebisa mungkin dirinya menetralkan rasa gugup yang sedari tadi sedang melanda.


"Mungkin Kakak sedang sibuk akhir-akhir ini, jadi buat aku tak masalah," jawab Anin pada Niko.

__ADS_1


"Makasih ya sayang, uda mau ngertiin Kakak," ujar Niko.


"Sama-sama Kak," ucap Anin.


"Kenapa kamu tambah kurusan, serasa meluk pohon akunya," ledek Niko.


"Gak usah ngeledek Kak, ini asli dari pabrik nya," kesal Anin.


"Nin," panggil Niko.


"Iya," jawab Anin.


"Kakak, gak nginep ya, habis ini kita langsung berangkat. Karena besok semua harus berkumpul," Anin yang mendengarkan penuturan dari Niko, ada setitik keraguan dari dalam hati Anin. Karena Niko jarang memberi kabar, dan sudah hampir setahun lamanya dirinya tak di jenguk, tetapi secara tiba-tiba Niko mengajaknya bertandang ke rumah orang tuanya dengan alasan acara keluarga.


"Apa aku boleh tau di rumah Kakak, sedang ada acara apa! sampai-sampai aku harus ikut serta," ucap Anin yang penasaran akan acara yang di langsungkan besok.


"Tak perlu tahu, cukup hadir dan duduk manis di sana, karena akan ada acara penting. Yang pastinya acara untukku, jadi kamu mau tak mau harus menjadi saksi," ucapan tegas Niko, mampu membuat hati Anin, serasa di ombang ambingkan oleh ombak.


.


.


.


.


Ku tepis dengan kasar tangannya yang semula melingkar di perutku, tanpa menoleh ke wajahnya aku berjalan menuju kursi plastik dan ku tempatkan bokongku di bawahnya, aku mencoba berpikir keras untuk mencari jawaban atas ucapannya, namun yang ada di otakku saat ini apakah Kak Niko sedang di angkat menjadi bos, ah itu tak mungkin.


Atau pembagian warisan! Kurasa tidak juga.


Atau jangan-jangan Kak Niko akan bertunangan lalu mencampakkan aku dengan perlahan, dan aku harus menyaksikan itu semua. Seakan semua menjadi satu dan menari-nari di atas kepalaku, dengan dirinya berdalih kalau sedang ada acara keluarga. Apa aku boleh mempunyai pikiran seperti itu, karena setiap di tanya maka dirinya selalu mengelak. Agh..


Lama aku terdiam hingga suara panggilan dari seseorang di sebelah ku membuat aku langsung tersadar.


"Nin, aku yakin kamu akan menerima semua ini dengan ikhlas, maaf telah membuat kamu harus merelakan semuanya besok, dan aku harap kamu tak akan marah. Jadi bersiap lah agar semua nya cepat terselesaikan." ucapan Niko membuat Anin semakin yakin atas apa yang di pikirkan olehnya, karena raut wajahnya tak ada setitik senyum yang di perlihatkan oleh Niko.


.


.


.

__ADS_1


.


Maaf ya Nin, bukan maksud Kakak berbohong sama kamu, dan maaf Kakak juga tidak bisa menjelaskannya sekarang. Lebih baik kamu mendengarnya besok di saat semua sudah berkumpul. Batin Niko, dan ia sengaja tak menampakkan senyuman, walau dirinya ingin sekali tertawa melihat wajah kekasihnya yang semakin membuatnya gemas.


__ADS_2