Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 33 . KEDATANGAN ALEX DI KOS


__ADS_3

Saat ini Bu Indah dan serta Kakaknya sedang merencanakan sesuatu untuk bisa mendapatkan uang dari Anin, apakah mereka akan berhasil dengan rencana itu.


🍀🍀🍀


Sedangkan di kos yang Anin tempati.


"Gimana keadaan kamu sekarang Nin," tanya Intan karena sudah berhari-hari ia terbaring sakit sejak kejadian malam lalu.


"Udah enakan kok, makasih ya lu udah mau ngerawat gue."


"Sama-sama Nin, bukan kah sebagai teman memang sudah kewajiban kita."


"Nin, kenapa kamu?"


"Gak papa cuma."


"Gue tau apa yang lu rasain Nin, buang lah jauh-jauh tentang perasaan itu, lu terlalu berharga untuk mereka yang tak bisa menghargai lu, dan gak bisa ngelihat lu paham!" Intan tak habis pikir bisa-bisanya Anin, masih memikirkan orang tak tau diri itu, dan tak punya rasa kemanusiaan sama sekali.


"Ingat balas sakit hati lu dengan kesuksesan, jangan biarkan mereka meremehkan lu lagi! dan gue gak Ikhlas jika lu mengasihi mereka kalau mereka hanya memandang lu sebagai orang yang tak berguna serta hanya ingin memerasmu lagi."


Anin, hanya bisa terdiam tak berani mengangkat kepalanya, karena apa yang di katakan sahabatnya itu memang betul.


Bangkit dari keterpurukan.


Berjalan dengan tegak.


Dan raihlah impianmu.


"Sudahlah Nin, lebih baik lu makan yang banyak biar tambah sehat, kalau lu gak nurut gue bakal telepon Niko, buat dateng kesini."


Anin langsung mendongak kan kepalanya dan setelah itu mengambil bantal untuk di lemparkan temannya yang tak punya Akhlak itu.


"Auh, sakit Anin." Intan yang merasa kesakitan dan mengusap kepalanya karena memang agak sakit, akibat lemparan bantal dari Anin, yang menurutnya di sengaja.


"Lebay lu." Kesal Anin.


Sejenak Anin, melupakan kejadian yang amat memilukan berusaha bangkit demi impian yang ingin di gapai nya.


Di Saat mereka lagi asik bergurau ketukan pintu dari arah kamarnya, membuat mereka bertanya-tanya siapa kah gerangan yang bertamu pagi-pagi. Kalau pun tetangga sebelahnya pastilah sudah berteriak memanggil namanya.


Tok..tok..


"Siapa ya Nin, itu,"


"Eh, elu tanya gue, terus gue tanya siapa ogeb."

__ADS_1


"Ketimbang lu tanya gue mending lu liat siapa yang bertamu." Tambah Anin lagi.


Akhirnya Intan berdiri karena penasaran siapa yang bertamu sepagi ini.


Ceklek..


"Elu!" Seketika Intan terkejut dengan yang bertamu sekarang.


"Kenapa dengan saya," jawabnya santai.


"Intan siapa yang datang!" teriak Anin.


"Anu Nin, itu siapa eum."


"Kenapa lu jadi bodoh Ntan, ngomong saja pakai gagap."


Intan pun tak menyahuti ucapan Anin, karena ia fokus pada pria yang di depannya sekarang.


"Kenapa lu pagi-pagi sudah berada di sini, bukan kah kamu tau kalau."


Stop.."Jangan bicara lagi."


"Saya di suruh Ibu, buat nganter makanan buat Anin, boleh saya masuk," yah lelaki itu tak lain adalah Alex, Ibunya menyuruh mendatangi Anin, dengan membawa makanan yang sudah di masak oleh Ibunya untuk di berikan pada Anin, karena Alex mengaku bahwa Anin, adalah kekasih dari anaknya.


Dan kini Alex sudah berada di samping Anin, dengan sebuah rantang yang di tenteng nya.


"Eum, maaf saya kesini terlalu pagi."


"Ada perlu apa memangnya."


Tanpa basa-basi Anin langsung menjawab dengan cepat.


"Saya di suruh Ibu, buat nganter ini, dan Ibu juga yang memasaknya." Ujar Alex.


Anin, yang berada di dalam selimut lekas bangun dan menyingkapnya yang kini menutupi tubuhnya, dan lekas duduk dengan cara bersandar, dan sesaat ia terkesiap atas apa yang di bawa oleh Alex, apa Ibunya tau hubungan antara anaknya dan dia, atau Alex bercerita kalau sudah punya kekasih itulah yang berada di benaknya.


Dan Alex pun seakan tau diamnya Anin, yang tengah memikirkan rantang tersebut.


"Iya kemaren saya pulang dan di interogasi sama Ibu saya, dan akhirnya saya mengaku kalau sedang menemani kekasih saya, eh tepatnya pacar pura-pura, ya pura-pura.


Intan yang sedari tadi ingin tertawa namun di tahannya, karena takut dosa, pada akhirnya iya tak kuat juga untuk tak bisa tertawa.


Hahaha..hahaha..."Sumpah lu lucu banget, dasar laki-laki Hahaha."


"Diam!"

__ADS_1


Setelah di bentak Alex, Intan pun terdiam dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Kelihatan kalau lu grogi, dan kelihatan pula kalau lu gak pernah pacaran iya kan ngaku saja lu tampang ok, badan gagah umur dah tua kagak laku juga, Ck..ck."


Harga diri gue akhirnya jatuh juga, batinnya dalam hati. Dan Alex hanya diam dengan tampang kikuknya. karena merasa harga dirinya sudah tak berarti.


"Bisa diam gak kamu." Ucap Alex lagi.


Sedangkan Anin, yang melihat mereka berdua pun merasa jengah, gak dengan Niko, mau pun dengan Alex, sama-sama bak kucing dan tikus.


"Mumpung masih hangat lekas lah makan," ujar Alex yang menyuruh Anin, untuk memakan makanan yang di bawanya.


Anin, yang tak tega, bagaimana pun Ibunya dengan susah payah yang telah memasaknya, kini pun dia mengangguk, karena ia juga belum pernah makan makanan yang di masak oleh orang tua selain Ibunya Niko.


Dan Intan pun mengumpat habis-habisan terhadap Anin, karena sedari pagi menjelang ia dengan susah payah membujuk Anin, untuk sarapan tapi tak kunjung makan, sedangkan saat Alex datang dengan membawa makanan langsung gercep makan ati gak tuh si Intan.


Saat Alex, membuka isi rantang tersebut, tercium bau wangi dari dalam rantang, apa lagi yang di bawanya ada sup ayam, dengan lauk perkedel udang krispi dan ayam goreng juga, duh kalian jangan ngiler dan jangan ngebayangin yang saat ini di makan mereka ya. Dan tak lupa sambal sebagai pelengkap.


tak berapa lama semua sudah tertata di meja, dan yang menyiapkan juga Alex, terlihat dingin dan angkuh namun kenapa kalau sedang bersama Anin, serasa bucin ya.


"Eum Intan boleh minta tolong ambilkan piring untuk Anin." Alex menyuruh Intan mengambil piring untuk Anin.


"Tunggu!" ucap Anin.


"Ada apa Nin." Jawab Intan.


"Ambil piringnya tiga kita makan bareng-bareng." Intan yang disuruhnya hanya mengangguk.


Dan kini mereka sedang makan menikmati masakan hasil kreasi dari bu Lita. Tak ada suara hanya ada dentingan sendok yang saling bergesekan dengan piring.


Dan di tengah mereka yang sedang sarapan, Gawai milik Anin, bunyi dan sang empu melirik sekilas kearah layar gawai yang berada di sebelahnya.


"Siapa," seru Alex.


"Kak Niko."


"Oh."


Sadar Alex, Anin hanya pacar bayaran kamu, jadi jangan menaruh pikiran yang aneh-aneh, rutuk Alex pada dirinya sendiri.


Perasaan apa ini, aish kenapa aku tak nyaman saat Anin, menyebut laki-laki lain ya, batinnya lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Warning! di mohon jangan memberikan bom like pada Author🥰🥰.. Jangan lupa dukungan kalian begitu berarti bagi saya Like komen rate dan vote membuat author bertambah semangat dalam menulis😻😻

__ADS_1


__ADS_2