
Sesampainya di rumah sakit.
Alex terus menerus memandangi wajah Anin dari kejauhan. Satu kata yang terucap dalam hatinya.
SAKIT...
Saat melihat perempuan yang teramat di cintai nya begitu rapuh.
Nin, aku sakit saat melihat kamu seperti ini, aku hancur saat dirimu dengan keadaan seperti ini. Aku memang menginginkan kalian berpisah tapi tidak dengan cara seperti ini. Dalam hatinya Alex terus saja merasa tersiksa. Saat wajah perempuan yang di cintai nya kini berubah menjadi pucat dan kehilangan separuh semangat hidupnya.
"Lex, rupanya elu di sini."
"Eum, ada apa,"
"Tidak hanya saja, saat aku masuk elu gak ada di ruangannya,"
"Saya tidak tega memandang Anin dengan dekat, sakit dan hancur saat saya melihat Anin seperti ini." Dengan suara yang serak Alex berkata.
"Hanya kita yang bisa membuatnya tersenyum selain Niko, jadi buang lah rasa sedih mu. Agar Anin tak bertambah hancur dan terpuruk."
Menurut Intan, apa yang di katakan olehnya memang benar. Tak ada lagi yang memberi semangat untuknya jika dirinya ikut merasakan sakit juga, jadi mungkin inilah saatnya ia memberikan perhatian dan kasih sayang untuknya, ini lah waktu untuk bisa terus dekat dan bisa selalu bersama.
Selesai Anin meminum obat yang di berikan suster, kini ia tertidur pulas. Walau sangat terlihat banyak beban yang ia bawa dan terlihat dari wajahnya yang menyimpan sejuta luka.
.
.
.
Di mimpi.
"Sayang, cepatlah sembuh,"
"Kak Niko!"
"Iya sayang, Kakak harap kamu akan selalu bahagia walau tanpa ada dan tidak adanya Kakak."
"Apa maksud Kakak! Apa Kakak ingin membatalkan hari bahagia kita,"
"Sayang, mungkin sampai di sini Kakak menemani kamu, jaga diri baik-baik dan Kakak minta tolong. Tolong jaga Ibu selalu untuk Kakak."
Niko mendekati Anin, dan membelai lembut rambutnya serta mencium mesra keningnya.
Begitu sangat gagah saat Niko mengenakan setelan baju serta celana dengan warna senada yakni putih.
__ADS_1
Huhuhuhu.."Kakak gak boleh tinggalin aku, aku mohon Kak," Di pelukan Niko Anin terus menangis dan memohon dengan sangat.
Hanya Niko, yah Niko. Seseorang yang membuatnya kuat dalam mengatasi segala hal. Apa mampu Anin hidup sendiri tanpa sosoknya, tentu tidak!.
"Tenang lah Kakak akan selalu ada di sini, jadi tak perlu kamu merasa kehilangan."
Lama kelamaan Niko menghilang seperti angin yang datang tiba-tiba lalu pergi dengan tak meninggalkan jejak.
"Kakaaak!" Anin terbangun dengan tangisan yang tersedu-sedu, dengan langkah yang cepat Alex menghampiri setelah mendengar Anin berteriak.
Sedangkan di ICU, di ICU keadaan Niko semakin parah hingga semua anggota dokter berkumpul guna memberi pertolongan semaksimal mungkin. Tapi beberapa detik semua dokter bernafas lega karena detak jantungnya stabil, namun Dokter muda itu tak memerintahkan perawat untuk memindahkan untuk sementara waktu. Sampai kondisinya benar-benar stabil.
"Anin kamu mimpi buruk lagi."
Hiks..hiks.."tolong anterin gue ke kamar Kak Niko."
"Iya, iya saya antar tapi kamu yang tenang ya,"
"Sekarang!" Tak ingin menunda-nunda demi bisa bertemu Niko, jadi. Anin membentak Alex supaya tak banyak bertanya.
Di ruangan ICU, Niko sempat membuka matanya dan memanggil nama Anindiyah, dan dokter pun keluar untuk menyampaikan seperti yang di katakan barusan.
Di luar semua orang berdoa dengan sesekali terdengar suara isak tangis dari semua keluarga Niko yang menungguinya.
Tepat Anin baru datang, tak lama kemudian keluarlah lelaki dengan pakaian serba putih hendak menghampiri salah satu dari mereka.
"Saya Dok," dengan cekatan Anin menyahuti.
"Baik mari ikut saya masuk." ucap Dokter.
"Kenapa saya tidak di panggil Dok, saya Ibunya." Dengan sesekali menyeka air mata, Bu Susi mengajukan protes kepada Dokter tersebut.
"Sabar ya Bu, mungkin ada hal lain yang ingin di sampaikan oleh saudara Niko." Dokter pun sedikit memberi pengertian terhadap Bu Susi.
Keadaannya lumayan membaik, namu tetap saja membuat Anin takut. Jika mimpinya akan menjadi sebuah isyarat, jika kisah cinta yang di jalaninya harus kandas dengan sebuah perpisahan yang menyakitkan.
"A-an-nin,"
Suut..
"Kakak jangan bicara dulu ya, apa yang Kakak rasakan, hem."
"Aku berharap Kakak baik-baik saja."
"Sa-sayang." Dengan suara yang teramat berat Niko memanggil, dan menyeka air mata yang membasahi pipinya.
__ADS_1
"Ja-jangan me-nangis."
"Ini tangisan bahagia Kak, jadi Kakak gak perlu kuatir."
Tangisan Anin sepertinya tak mau berhenti dan terus saja keluar. Tapi Anin tak bisa memungkiri jika dirinya bahagia saat melihat Niko sudah sadar.
"I-ibu,"
"Bentar ya Kak Aku panggi Ibu dulu."
"Biar saya saya Mbak Anin." Dokter muda itu menawarkan diri untuk memanggil Ibu dari Niko, karena jika Anin yang memanggil, kasihan pikir Dokter itu, karena semenjak sadar kakinya mengalami cedera yang cukup serius jadi, Anin menggunakan kursi roda.
"Bu Susi, Silahkan masuk."
"Makasih Dok."
Berjalan dengan mengusap air matanya, beliau mencoba kuat.
"Niko kamu sudah sadar nak." Lalu tangan keriput milik perempuan yang sudah melahirkannya, perlahan membelai lembut pucuk kepalanya, dan mendaratkan ciuman bahagia kepadanya.
"I-bu."
"Sudah sayang, kamu jangan bicara lagi ya."
"Eum, Mbak Anin, dan Bu Susi. Pasien baru saja sadar jadi biarkan beristirahat ya." Dokter muda pun meminta Anin dan Bu Indah untuk keluar, namun siapa sangka, tangan milik Niko mencengkram erat tangan milik Anin. Mungkin itu sebagai isyarat jika Anin tak boleh meninggalkannya.
"Dok," panggil Anin.
"Ya sudah Mbak Anin boleh menemaninya untuk beberapa jam, karena takutnya akan mengganggu pasien." Jelas Dokter muda itu.
"Ya sudah Anin di sini dulu ya, temani Niko." ucap Bu Susi, sembari berjalan ke arah keluar kamar.
Kini di dalam ruangan hanya ada mereka berdua Anin dan Niko.
"Tidurlah kak."
Niko yang sudah menukar posisi, dan sekarang menghadap Anin. Tangannya dengan perlahan mengusap lembut pipi dari sang pemilik, hingga tanpa sadar Niko menangis.
"Sa-sa-sayang ti-tidur."
Anin tau apa yang di ucapkan dari bibir Niko.
Niko menggenggam erat tangan Anin, seakan tak merelakan dirinya meninggalkannya, tangan yang berada di genggaman Niko, perlahan di letakkan di dadanya.
Karena kantuk yang melanda, Anin pun tertidur dan meletakkan kepalanya tepat di bawah dagu Niko.
__ADS_1
Berulang kali Niko menciumi pucuk kepalanya dan sesekali membelai rambutnya. Dengan air mata yang terus menerus membasahi pipinya kini mata tajam miliknya mulai terpejam dengan, dan begitu erat menyatukan jemarinya.dengan milik Niko, dan berkata 'aku mencintaimu' dan setelahnya hanya ada pemandangan bibir yang tersenyum bahagia.