Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 90. Mangga Muda


__ADS_3

Pagi menjelang bersama hadirnya sang mentari yang menyambut para umat manusia.


"Sayang kamu kenapa?" Alex terlihat sangat kuatir dengan keadaan Anin, yang terus muntah, tapi tak ada yang di keluarkan dari perutnya.


Huek..


Huek..


"Sayang kita periksa ya," Alex mengajak Anin periksa namun di tolak.


"Paling juga, aku sedang masuk angin Mas, jadi tidak perlu kuatir," ucap Anin yang menenangkan suaminya agar tidak terlalu kuatir terhadapnya.


"Tapi kamu pucet sayang," Karena Alex melihat wajah Anin yang sedikit pucat dan tentunya lemas.


"Sudah lah sayang, tidak apa-apa aku nya." Anin bersikeras menolak ajakan Alex untuk periksa.


"Mas," panggil Anin.


"Kenapa sayang, apa ada yang kamu mau." Sepertinya ikatan batin antara ke duanya begitu erat, sampai-sampai Alex tahu apa yang akan di katakan oleh Anin.


"Mau mangga muda," ujar Anin.


"Tapi ini masih pagi sayang, enggak baik untuk kesehatan kamu."


"Tapi aku mau makan itu Mas, ayo lah." Anin merajuk layaknya anak kecil.


Dan Alex pun menghela nafas, karena permintaan istrinya yang terbilang nyeleneh.


"Ya sudah aku, belikan dulu ya," lalu Alex berdiri dan hendak keluar, namun di urungkan karena Anin memanggilnya lagi.


"Tunggu."


"Kenapa lagi sayang."


"Aku gak mau beli yang ada di supermarket, Mas,"


"Lalu, kalau gak beli dapat dari mana sayang." Alex kali ini di buat bingung dengan permintaan sang istrinya.


Ingin mangga yang masih muda, tapi beli tidak boleh, sungguh bingung pikir Alex.


"Di tetangga ada pohonnya, aku mau kamu memanjatkan nya untuk aku," dengan suara yang masih lemas Anin meminta kepada suaminya untuk memetik mangga yang tertanam di rumah tetangga, karena menurutnya. Langsung memetik dari pohonnya akan lebih segar, di banding yang ada di supermarket tersebut.


"Tapi.."


"Aku gak mau tahu, pokoknya kamu harus minta mangga tetangga."


Belum selesai Alex berbicara namun sudah di potong oleh Anin.


"Baik lah."


Lalu Alex keluar, hendak melihat mangga yang di bilang oleh istrinya itu.

__ADS_1


Dan ternyata benar, kalau mangga milik tetangganya itu benar-benar lebat.


Sesampainya di depan rumah dari pemilik pohon mangga tersebut, Alex berteriak memanggil sang pemilik.


"Permisi."


Tak berapa lama sang pemilik rumah itu pun keluar.


"Mas Alex, tumben Mas, ada keperluan apa ya?" tanya Pak Heru selaku pemilik pohon dan rumah tersebut.


"Begini Pak, itu istri saya sepertinya ngidam pengen mangga muda, tadi saya menawarkan untuk membeli di supermarket tapi istri saya tidak mau, dan maunya mangga milik Pak Heru." Alex mencoba menjelaskan perihal permintaan sang istri, bukan tak mampu, karena ini kemauan sang istri jadi takut kalau Pak Heru berpikir kalau dirinya tak mampu membeli.


"Oalah begitu to Mas, ceritanya. Ya sudah ambil saja berapa pun yang Mas mau." Dengan di iringi senyuman, Pak Heru mengizinkan Alex untuk mengambil.


Untung saya bisa manjat, coba kalau gak bisa manjat, berabe ini urusannya. Dalam hati Alex bersyukur karena dirinya bisa memanjat pohon.


Dan tak berselang lama, lima buah mangga muda sudah di ambil, dan tak lupa dirinya berterimakasih pada pemiliknya.


"Sayang, ini mangga muda yang kamu mau," Tapi Anin tak menyahuti panggilannya, dan Alex mencoba mendekatinya, dan.


"Tadi minta mangga muda, eh sekarang tidur, huff." Alex menghela nafas dalam-dalam, setelah itu dirinya masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih karena merasa badannya teramat lengket akibat memanjat pohon mangga tadi.


Sekitar lima menit kemudian Alex sudah selesai mandi, semerbak bau sabun khas orang sehabis mandi, membangun kan perempuan yang tertidur dengan pulas, namun terusik oleh bau yang begitu menenangkan jiwa.


"Sayang uda bangun," Alex melirik sekilas dan Anin nampaknya sudah duduk di tepi ranjangnya.


"Iya, bau kamu. Makanya ke bangun." Ucap Anin.


"Kok aku sih." Jawab Alex bingung.


"Apa kau sengaja menggodaku, sayang."


"Siapa yang menggoda mu." Sungut Anin yang tak terima jika dirinya di katakan menggoda nya.


Kenapa salah lagi, apa Anin hamil? Makanya sensitif, biar lah nanti ku tanyakan pada Ibu. Untuk memastikan. Batin Alex bertanya-mungkin kah Anin sedang mengandung buah hatinya, karena menurutnya sikapnya berbalik. Dan sekarang lebih sensitif terhadap semua bau.


"Ah, gak jadi sayang. Aku mau turun saja." Ujar Alex yang sedang merasa sedikit takut karena Anin menatapnya dengan tajam.


"Ya sudah sana buruan keluar." teriak Anin pada suaminya.


"Iya sayang ini udah mau keluar kok."


Hii..


"Atut, mak singa lagi marah." Ujarnya pada diri sendiri.


Setelah suaminya keluar kini hanya ada Anin yang berada di kamar.


"Kenapa ini perut rasanya gak enak banget ya, keluar cari yang pedes-pedes sepertinya enak." Ujarnya pada diri sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Anin sekarang sudah di luar, dan ternyata suaminya tadi tidak pamit padanya, dan Anin pun tak menghiraukannya. Karena yang ada di otaknya sekarang ada rujak ulek.


Bukan kah itu Anin ya, tapi sepertinya Anin memang. Fadli yang kebetulan sehabis dari pom tak sengaja melihat Anin yang berada di warung rujak.


"Beli rujak, tumben? Apa saya samperin ya." Antara ingin menemuinya dan tidak, Fadli masih harus berpikir.


Dan setelah memikirkan, akhirnya Fadli memilih untuk menemuinya, karena lama juga dirinya tak bertemu dengan perempuan itu.


"Nin," sapa Fadli.


"Kamu Fadli kan." Kata Anin sembari menunggu pesannya yang sudah di nanti-nantikan.


"Iya," timpal Fadli.


"Tumben beli rujak, seperti orang yang sedang hamil muda saja." Ujarnya lagi.


Anin diam, dan sedang memikirkan sesuatu tentang ucapan yang di lontarkan oleh Fadli barusan.


"Masa sih." Anin masih tak yakin kalau memang benar dirinya sedang hamil.


"Mbak ini pesannya, wah rupanya Mas nya lagi nyusul Mbak nya kesini ya? Benar-benar pasangan yang romantis, dan Masnya begitu sangat sayang sama istrinya ya."


Uhuk.


Uhuk.


"Minum dulu Nin,"


"Makasih."


Melihat Anin yang tersedak Fadli langsung mengambilkan minuman untuk Anin.


"Gak papa kan kamu," ucap Fadli yang melihat wajah Anin terlihat memerah akibat tersedak karena ucapan ibu-ibu barusan yang mengantarkan pesannya Anin, dan mengira bahwa mereka adalah sepasang suami istri.


"Gak papa kok." Ucap Anin.


"Gimana kabar kamu, lama kita tak saling bertemu ya." Ucap Fadli antusias.


"Iya, hampir dua tahun, gimana kabar kamu juga."


Fadli terdiam, saat dirinya di tolak Anin, ia memutuskan untuk kembali ke kota asalnya, untuk sementara.


"Seperti yang kamu lihat,"


"Ah syukurlah kalau begitu." Tak terasa hingga rujak itu pun habis tak tersisa, akibat percakapan antara dua orang yang sudah lama tak bertemu.


"Ya sudah kalau begitu, aku pamit dulu ya," Anin berpamitan pada Fadli untuk pulang karena hari pun semakin panas.


"Naik apa kamu tadi," Fadli hanya memastikan kalau Anin membawa kendaraan.


"Aku bawa mobil."

__ADS_1


"Oh, ya sudah hati-hati. Salam buat Alex."


"Pasti."


__ADS_2