Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 71. Alam Sedang Mempermainkannya Lagi


__ADS_3

Kini mereka bertiga sudah berada di jalan, untuk menuju ke kota M.


Tatapan Anin mengarah ke jendela menikmati pemandangan di luar sana, sedang kan Intan tertidur dengan di iringi dengkuran, sedang kan Alex, Alex bergelut dengan pikirannya sendiri. Teringat dengan kata yang di ucapkan oleh Anin sore tadi.


Bahwa memaksa tak akan membuat kita 'bahagia' apa iya dirinya sudah memaksakan kehendaknya? Demi kepentingan urusan hatinya.


Semangat yang semula menggebu kini perlahan hilang sedikit demi sedikit.


Apa aku salah memperjuangkan cintaku, apa aku memperjuangkan kamu Nin. Alex begitu frustasi, karena merasa cinta yang di tunggu tak pernah mendapat anggapan.


Beberapa jam kemudian.


Perjalanan yang melelahkan, selama dalam perjalanan mereka bak orang yang saling tak mengenal satu sama lain. Hingga mereka sampai pada tujuannya, yakni rumah Bu Indah.


Saat mereka bertiga turun namun di hadang oleh seseorang.


"Apa kalian ingin ke rumah ini," ucap orang itu.


"Iya Bu, orang nya ada kan," jawab Anin.


"Mereka sekarang ada di rumah sakit saiful Aqnan, sudah satu minggu yang lalu Bu Indah di rawat karena ada masalah dengan jantungnya."


Deg.


Seakan dunia runtuh seketika, dan menerpa seluruh badan Anin, saat dirinya mendengar jika Ibunya mempunyai penyakit yang seperti yang sudah di jelaskan oleh tetangganya itu.


"Baik Bu, terimakasih."


Setelah Anin mengucapkan terimakasih pada orang itu, lalu dirinya buru-buru naik ke mobil. Dan rupanya Intan mau pun Alex sudah paham tanpa harus di jelaskan.


Alex menggenggam tangan Anin dengan begitu erat, sementara hanya itu yang bisa membuatnya tenang.


"Kamu adalah wanita kuat, jadi sebisanya kamu harus berusaha tenang." Masih dengan tangan yang menggenggam sambil berucap.


"Makasih ya Lex." Dengan senyuman yan di paksakan dirinya tak bisa berbohong kalau saat ini Anin lagi-lagi di hadapkan dengan masalah yang berat.


Di rumah sakit.


"Ibu yang kuat ya, dan Ibu harus bertahan agar segera sembuh." Edi masih setia menunggu Ibunya yang terbaring lemah dan tak berdaya.


"Ibu mau pulang."


"Bu, Ibu harus tetap di rawat di sini ya,"


"Kalau pun Ibu di rawat, uang darimana untuk membayar tagihan rumah sakit ini."


Edi terdiam, apa yang di katakan oleh Ibunya adalah benar, butuh biaya banyak. Apalagi Ibunya harus segera di operasi jika masih ingin Ibunya bertahan 'hidup' itu kata dokter yang menanganinya. Kini dirinya benar-benar bingung dan uang, uang dari mana ia harus dapatkan.


"Ibu tak perlu berpikir tentang biaya ya, itu semua urusan Edi, yang Edi mau cukup untuk menurut."

__ADS_1


...----------------...


Selang berapa jam sampai lah mereka bertiga di rumah sakit, dan meraka juga sudah menanyakan rawat inap yang di tempati oleh Bu Indah.


Setelah menemukan kamar sesuai petunjuk perawat, ragu tapi ingin. Itu lah yang ada di hati Anin.


"Nin." Intan menyakinkan Anin, agar ia segera masuk untuk melihat keadaan orang yang berada di dalamnya.


Kriiet.


Dengan perlahan Anin membuka pintu.


"Bang," tegur Anin pada Edi.


"Anin, Alhamdulillah akhirnya kamu mau datang juga."


"Eum." Datar namun tak bisa di pungkiri jika dirinya merasa lemah saat orang-orang yang ia sayangi terbaring sakit.


"Bagaimana keadaannya," dengan suara lirih nya ia bertanya tentang keadaan Ibunya.


"Bisa kita bicara di luar, Ibu baru saja tidur." Tak ingin mengganggu Ibunya yang sedang tidur, Edi lantas mengajak Anin untuk berbicara di luar.


"Eum." Anin pun mengiyakan, dan akhirnya mereka berdua keluar.


"Lek, Ntan, gue titip bentar ya."


"Ok, tenang saja." Sahut Intan.


"Sepertinya begitu, tapi biar lah. Itu kesempatan bagi keduanya untuk saling berdekatan antara saudara."


"Iya kamu benar juga."


Sedangkan di kantin.


"Elu udah makan Bang." Namun yang di tanya hanya diam.


"Ya sudah segera lah makan, dan pesan lah yang Abang ingin makan."


Anin tau, jika diam nya Abangnya bertanda jika dirinya belum makan, jadi Anin pun dengan cekatan langsung meminta Edi untuk segera pesan makanan.


"Mas ini pesanannya, ada yang mau di pesan lagi," tanya pelayan yang berada di kantin.


"Oh, iya Mbak dua es jeruk ya."


"Baik silahkan di tunggu." Dengan sekejap pelayan itu sudah pergi untuk menyiapkan minuman yang di pesan oleh Anin.


"Cepat lah makan, jangan di pelototi." Ucap Anin. Dan dengan segera Edi melahap soto yang berada di mangkok tersebut.


Uhuk.

__ADS_1


Uhuk.


"Apa elu gak bisa pelan kalau makan, lagian gak ada yang minta." Ujar Anin.


"Maaf."


"Elu uda berapa hari sih kagak makan sampai terburu-buru gitu,"


Anin merasa ada yang aneh saat Abangnya makan, terlihat seperti orang yang berhari-hari tak makan.


"Apa elu bakal ketawain gue, kalau gue jujur."


"Lebih baik jujur kan, gue bukan tipe orang yang suka mencemooh, jadi jangan samain gue ke orang-orang."


"Sebenarnya..." Ucapan yang menggantung, terasa sangat berat saat Edi ingin melanjutkan.


Anin mengangguk, tanda bahwa dia siap untuk mendengarkannya.


"Gue dua hari kagak makan."


Batin Anin terluka, sakit dan sekaligus bahagia. Di satu sisi Anin bahagia Edi merasakan apa yang pernah di rasakan oleh Anin, tapi di sisi lain


hatinya terluka saat mendengar kalau Abang nya sudah dua hari tak makan.


"Habiskan dulu, baru lah ngomong."


Seperkian detik Edi telah menyelesaikan makannya, dirinya sengaja tak ikut makan karena tadi jalan sudah makan dengan teman-temannya. Dan akhirnya Edi pun menjelaskan secara detail akan penyakit Ibunya, dan terlihat Anin sesekali menghela nafas beratnya.


"Jadi Ibu perlu di operasi."


Anin tercekat kala mendengar penuturan yang terakhir, dan Abangnya juga menjelaskan kalau operasinya memakan biaya kisaran 40juta. Sedang kan dirinya hanya mempunyai uang 15juta, itu pun terpotong untuk nanti di berikan pada Abangnya sebagai biaya hidup selama di rumah sakit.


"Yang Abang perlu lakuin cukup dengan merawat Ibu, urusan biaya operasi biar gue yang akan mikir."


"Apa gue gak terlalu merepotkan elu."


"Anggap saja itu semua sebagai bakti gue ke Ibu."


"Oh ya, gue di sini dua hari, setelah itu gue akan balik ke kota S, untuk mencari tambahan uang buat operasi Ibu."


"Maaf,"


"Untuk apa."


"Untuk semuanya,"


"Sudah lah, gue udah ngelupain kejadian yang teramat suram itu, dan jangan ingatkan gue lagi soal masa lalu itu. Karena sama saja elu membuka luka lama yang berangsur sembuh di hati gue."


"Maaf."

__ADS_1


"Sudah lah ayo kembali, kasian temen-temen gue."


Setelah mengatakan itu, lekas Anin membayar makanan dan minuman tersebut, lalu dirinya berjalan mendahului Abangnya.


__ADS_2