Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 39. BUTUH SANDARAN


__ADS_3

Setelah keluar dari hotel, dan posisinya saat ini berada di jalan dengan hati yang berbunga-bunga tanpa kehilangan sesuatu yang sangat berharga, kini Anin tertawa jahat karena Lagi-lagi ia berhasil dengan memporoti pria dewasa.


Saat Anin sudah berada di dalam kos nampak dari jauh terlihat Intan sedang duduk di teras depan kamar.


"Kayaknya ada yang lagi bahagia nih dari bau-baunya."


"Mana ada,"


"Tuh senyum-senyum sendiri."


"Ah perasaan lu aja kali."


"Di kira gue bisa di kibulin apa, terlihat noh dari wajah lu lagi berbinar-binar."


"Lu mah cocoknya jadi dukun tau,"


"Dukun apaan."


"Dukun cabul."


Hahaha.


"Eh kebangetan lu ya."


"Lagian lu tau aja kalau orang lagi seneng."


"Nah bener kan apa kata gue."


"Udah ya gue mau masuk kamar dulu, mau berkelana di pulau kapuk Bye."


"Iya, jangan lupa makan gratis gue."


"Beres."


Setelah berbincang-bincang dengan Intan, Anin pun pamit masuk ke dalam kamar untuk beristirahat karena ia benar-benar lelah.


🍀🍀🍀🍀


Sedang kan di lain tempat.


Dua tahun sudah kita tak bertemu, namun mengapa kamu selalu mengusik hati dan pikiranku, dan dua tahun sudah aku tak bisa melupakan kamu, Anin apa kamu masih ingat dengan ku. Dalam batin Alex merutuki nasibnya, yang tak bisa lepas dari jerat perempuan itu.


Alex!"


Sebuah teriakan yang membuat ia terkejut hingga membuat ia salah dalam menjawab.

__ADS_1


"Apa sih kamu mulut cabe."


"Huh, kamu bilang apa barusan,"


Setelah menoleh ternyata perempuan tak tahu malu itu yang datang.


"Aku harap aku tak salah dengar, cabe maksudmu,"


"Eh anu, saya pengen bakso dicabein, iya bakso di kasih cabe yang banyak, saking pinginnya sampai salah sebut," Alex mencoba mengelak bahwa perempuan itu sudah salah dalam mendengar.


"Oh kirain."


"Lantas kamu mau apa kesini,"


"Apa ada yang salah jika aku berada di sini,"


"Dan seharusnya kamu meminta pelayan, bukannya menemui saya di sini." Jawaban yang di berikan Alex membuat perempuan itu langsung memonyongkan bibirnya, dan jawaban ini bukan lah sesuai ekspetasinya.


"Apa ada yang kurang dari aku sehingga kamu selalu menghindar terus,"


"Kamu cantik dan kamu begitu sempurna,"


"Lantas,"


"Karena saya memang tak menyukai mu, dan sudah ada satu nama di hati saya tentunya bukan kamu juga"


"Apa aku harus menjelaskan semua padamu! jika kamu kesini hanya untuk menarik perhatian saya, maaf silahkan keluar dari tempat ini."


Jawaban yang cukup menohok membuat perempuan itu seketika keluar dari ruangan di mana Alex berada, dengan menghentakkan kakinya dengan menutup pintu secara kasar.


Brakk..


"Dasar perempuan gila! masuk tanpa permisi keluar pun tanpa pamit" umpat Alex karena terkejut dengan suara pintu yang di tutup dengan cara di banting.


Sedangkan di mobil perempuan itu tak hentinya mengumpat.


"Aku harus segera menemukan siapa yang sudah merebut hatinya Alex, bisa-bisanya aku kalah lagi, apa sih sebetulnya yang kurang dari aku, kaya ia cantik ia berpendidikan juga ia tapi mengapa begitu sulit untuk mengejar cinta mereka"


"Gak, gak aku gak boleh kalah dari perempuan itu, jika apa yang di katakan Alex benar betapa rendahnya selera dia" ucapnya lagi.


Akh sial.


.


.

__ADS_1


.


.


Senja telah berganti malam, dan semilir angin yang berhembus seakan ikut serta dalam kegelisahan seorang Anindiyah, yang berada di taman.


Malam yang dingin akibat terpaan angin yang menusuk hingga ke tulangnya sepenggal harapan ia titipkan kepada angin, seperti debu yang di bawa ikut serta kemana angin itu pergi.


"Tuhan apa aku kuat dengan jalan hidup ini"


"Apa aku sanggup melewati ini semua"


"Luka yang sudah kering dan menutup kini menganga lagi, perih yang ku obati secara perlahan kini terasa lagi, sakit yang aku tahan kini bertambah sakit lagi"


"Apa aku boleh egois dengan melupakan sosok orang yang telah mendatangkan aku ke dunia ini"


"Jika di depanku terdapat dua pilihan, boleh kah aku menjadi seorang anak yatim piatu" dengan tangis yang tak bisa ia bendung kini banjir sudah membasahi pipinya.


Ia melupakan segala isi hatinya di taman ini.


karena sore tadi ia di hubungi olek Edi yang pernah di panggil nya Abang, dulu sebelum ia terusir dan sebisa ia menghormatinya, nyatanya semua sama.


"Tuhan terlalu berat beban yang engkau letakkan di bahuku" tak ada tempat untuk berkeluh kesah lagi, ingin rasanya ia menangis dan bercerita pada lelaki yang selama ini menemaninya di saat suka maupun duka.


Niko, Niko meminta agar Anin tak menghubunginya jika bukan ia sendiri yang menghubungi, entah apa yang terjadi karena ini kali pertamanya lelaki itu meminta hal seperti itu, dan sudah berhari-hari ia tak mendapat kabar darinya juga.


Di tengah isakannya terdengar suara lelaki.


"Jika menangis membuat sedikit masalahmu berkurang maka menangis lah, jika beban yang kamu bawa terlalu berat maka berbagilah denganku agar terasa ringan, jika pun kamu membutuhkan bahu aku siap memberikan bahu ku pada mu, untuk menjadi tempat bersandar mu."


Entah ini sebuah takdir atau hanya kebetulan saja, dua tahun tak pernah bertemu dan lelaki ini terus saja berdoa agar nanti saat ia pulang akan di pertemukan dengan gadis yang selalu mengusik pikirannya. Dan benar saja Tuhan mejabah di setiap doa yang ia panjatkan, akhirnya selama dua tahun lamanya lelaki ini bertemu saat ia berjalan-jalan untuk menghilangkan rasa suntuknya, dan memilih taman sebagai penghilang penat, namun siapa sangka dirinya malah di pertemukan oleh gadis impiannya.


Saat ia mengangkat kepalanya dan melihat siapa dari pemilik suara itu, betapa terkejutnya Anin, setelah menatap lekat-lekat wajah pria yang berada di hadapannya sambil menyodorkan sapu tangan kepadanya.


"Kamu bisa berbagi kesah kepada saya, dan saya juga siap untuk mendengarkan di setiap kata yang kamu keluarkan." Ucap lelaki itu lagi.


Anin, yang masih tertegun akan kedatangan pria tersebut dengan tiba-tiba menawarkan bahu padanya, dua tahun tak bertemu dengan sosok lelaki yang sekarang bersamanya, nyatanya sikapnya sama dan tak ada yang berubah.


"Terimakasih." Anin pun mengambil sapu tangan pemberian lelaki tersebut.


Dan lelaki itu pun ikut duduk di sebelah Anin.


"Bahuku sudah siap untuk menjadikan sandaran mu, aku tau kamu perempuan kuat! namun sekuat kuatnya seseorang pasti akan merasakan sakit juga bukan."


Rasa sesak sudah tak bisa ia tahan jadilah Anin menangis sesenggukan di bahu lelaki yang bersamanya.

__ADS_1


"Jika sudah tak keluar air matamu, berbagi cerita lah pada saya." Ujar lelaki itu lagi.


__ADS_2