Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 82. Mengingat mu Membuatku Sakit


__ADS_3

Setelah pulang dari mengunjungi Ibunya, Anin sudah di sibukkan dengan pekerjaan di Cafe, atau bisa di bilang resto, karena di tempatnya bekerja menyediakan menu makanan juga, tetapi ada yang kurang untuk memberi warna di kehidupannya. Intan, intan adalah sosok sahabat sekaligus saudara baginya. Tapi sudah lebih dari dua minggu ia di minta pulang untuk melangsungkan pernikahannya dengan lelaki pilihan Ibunya. Jadi sekarang kini hanya sendiri untuk melalui hari-harinya.


DI RESTORAN.


Anin yang berkutat dengan pekerjaannya di dapur, tiba-tiba seseorang temannya memanggil.


"Nin, tolongin aku ya," kata temannya, dan sepertinya dia sedang menahan sesuatu karena sedang memegang perutnya.


"Apaan memangnya," timpal Anin.


"Tolong ini berikan ke meja yang di pojok sana ya, aku udah gak tahan kebelet soalnya." Temannya meminta Anin untuk mengantarkan minuman beserta seporsi makanan kepada pelanggan.


"Baik lah, segera lah ke kamar mandi, biar gue yang nganter." Ucap Anin.


"Makasih." Setelah mengucap kan terimakasih karena telah membantunya temannya pun langsung berlari agar segera sampai ke kamar mandi.


Lalu Anin mengambil nampan yang berisikan pesanan tersebut, dan dengan segera mengantarkan pada orang yang di maksud temannya itu.


Sesaat detak jantungnya berjalan tak beraturan mana kala, melihat seseorang yang pernah di kenalnya. Ingin kembali ke dapur sepertinya tidak mungkin, dan jika langkahnya terus maju, itu membuat nya teringat akan kejadian demi kejadian saat dirinya dengan pria yang membelinya dengan harga yang lumayan fantastik bertemu.


Dalam hati Anin berharap, semoga orang itu sudah lupa padanya, dan tentunya tak akan mengingat sekecil apapun tentang perkenalan mereka.


Semoga pria itu lupa padaku. Gumam Anin di hatinya.


"Silahkan." Dengan wajah yang menunduk Anin meletakkan makanan tersebut.


"Eum, taruh saja di situ." Ujar pria itu.


"Tunggu!" teriak lelaki tersebut.


Bau parfum ini, sepertinya tidak asing. Batin lelaki itu.


"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu lagi." Ucap Anin ramah, namun masih dengan wajah yang menunduk.


"Angkat kepalamu." Karena ingin memastikan kalau dugaannya tidak salah, karena saat Anin meletakkan makanan di mejanya, dirinya merasa aneh dengan gelagat tersebut, di tambah bau parfum membuatnya semakin yakin jika wanita itu, yang pernah di belinya.


"Memangnya anda siapa menyuruh dengan seenaknya." Anin sangat kesal dengan pria tersebut, bagaimana bisa menyuruh orang dan menuruti perkataannya serta kemauannya.


Laki-laki tersebut berdiri dan menghampirinya, Anin sedikit was-was dengan apa yang akan di lakukan oleh si pria tersebut. Masih dengan wajah yang menunduk.

__ADS_1


"Kamu mau apa," ujar dia yang mundur beberapa langkah.


"Saya hanya memastikan saja," ucap enteng dari si lelaki tersebut.


Tak banyak pengunjung yang mampir, mungkin karena hari pun sudah malam, tapi ada sebagian juga yang masih menikmati sajian yang tersedia di resto, dan tentunya tak banyak juga yang memperhatikan mereka.


"Memangnya saya mengenal anda!" dengan suara yang sedikit meninggi Anin berucap.


"Jika kamu tak mengenal saya tak masalah, tapi saya mengenal aroma bau ini, bau ini mengingatkan saya pada teman ranjang saya."


"Ada apa ini." Tiba-tiba Alex datang, melihat Anin sedikit ketakutan membuat bergegas untuk menghampiri.


"Siapa kamu! berani-beraninya mengganggu tunangan saya," Alex menekan kata 'tunangan' berharap lelaki tersebut pergi dan tidak mengganggu Anin lagi.


"Lex aku tidak apa-apa." Melihat Alex mengeraskan rahangnya, membuat Anin takut jika terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


"Saya hanya memastikan, jika dia adalah wanitaku." Lelaki itu berkata dengan gamblang, mengatakan kalau Anin adalah wanitanya.


"Nin, apa kamu mengenal lelaki itu, angkat lah kepalamu dan jangan menunduk. Jika kamu seperti itu seakan-akan kamu terlihat seperti seseorang yang takut terpergok dan apa maksud orang ini dengan berkata jika kamu wanitanya."


Akhirnya dengan perlahan, dan sedikit ragu Anin mengangkat kepalanya.


"Sayang bisa di jelaskan," Alex ingin marah, tapi di sisi lain ia tak ingin melihat Anin sedih, jadi sebisa mungkin dirinya menahan emosinya, serta ingin penjelasan langsung dari Anin.


"Iya aku mengenalnya, tapi kami tidak terlalu akrab." Jawab Anin.


"Benarkan Yuda," lalu Anin ganti menatap lelaki tersebut, dan berharap setelah kejadian itu dirinya maupun Yuda tak saling mengenal, tapi sekarang apa? Dirinya malah membeberkan kalau saling mengenal, dan itu membuat Anin marah.


"Iya, saya hanya menyapa saja, jika kalian ingin pergi, pergilah. Karena tak ada lagi yang kami bahas, dan untuk ucapan barusan maaf, Anin mirip pacar saya. Jadi kadang menyebutnya dengan kata wanitaku dengan tanpa sadar." Lelaki tersebut berbicara pada Alex, namun sorot mata yang tajam memperlihatkan kalau Lelaki itu menaruh kebencian, dan membuat alasan baginya tak terlalu sulit. Apalagi dengan lelaki rendahan seperti Alex.


"Kalau begitu kami permisi." Pamit Alex.


Dan lelaki itu mempersilahkan dengan senyuman yang sedikit di paksakan.


"Sayang, aku tunggu di mobil." Pungkas Alex.


Dan Anin pun segera berganti pakaian.


Di saat Anin ingin ke kamar mandi, tapi tiba-tiba tangan kekar itu meremas pundak Anin, dengan begitu keras hingga membuat Anin merintih kesakitan.

__ADS_1


"Auh, sakit." Dengan wajah yang menahan sakit, Anin berusaha tenang.


"Akhirnya saya mendapatkan kamu kucing manis." Dengan senyuman yang menyingrai Yuda berkata.


"Lepaskan aku, bukan kah kita sudah tidak ada urusan lagi! Dan bukan kah aku dulu pernah bilang untuk kita tidak saling mengenal juga." Anin mengulang kata demi kata yang dulu pernah ia katakan.


"Itu dulu, dan untuk sekarang itu beda." Senyuman itu membuat Anin bertambah takut.


Habis sudah kesabaran ku, dan sepertinya pria ini perlu di kasih pelajaran agar tak seenaknya padaku. Anin sudah menyiapkan taktik untuk melawan lawannya. Agar dirinya bisa lepas dari terkaman lelaki tersebut.


"Apa mau mu?" Anin bertanya, dan saat ini iya masih harus sabar.


"Aku menginginkan mu, kucing kecil yang manis." dangan memegang dagu Anin lantas Yuda pun berkata.


PLAK.


SREK..


DAGH.


"Auh, sakit sialan." Yuda meringis kesakitan, saat dirinya di tampar dan Anin juga menendang pusaka yang selama ini di bangga-banggakan.


"Maka jangan menganggap aku lemah." Setelah itu dirinya berlari.


"Oh, s*hit." Umpat Yuda yang masih merasakan ngilu serta panas akibat tendangan serta tamparan yang di layang kan oleh perempuan yang di anggap lemah, nyatanya pikirannya salah.


Sesampainya di parkiran. Alex langsung melayangkan pertanyaan mengapa dirinya lama sekali kalau hanya ganti baju.


"Kenapa bisa lama, apa ruang gantinya pindah temat," ucap Alex.


"Tadi perutku tiba-tiba sakit, akhirnya aku memutuskan untuk ke toilet." Jawab Anin bohong.


"Kenapa bisa sakit," Alex sedikit kuatir kepada Anin.


"Nyatanya bisa, dan haruskah kamu sedekat ini dan mau memeriksa," tatapan sinis membuat Alex sedikit canggung, pasalnya kini tangannya sudah hampir menyingkap baju Anin.


"Apa tidak boleh, kalau hanya melihat. Aku hanya ingin memberikan minyak ini ke perutmu supaya tidak terlalu sakit." Sanggah Alex.


"Aku bisa sendiri, jadi. Jalankan mobilnya." Titah Anin pada Alex.

__ADS_1


__ADS_2