Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 58 Pertemuan Antara Alex Dan Intan


__ADS_3

"Memangnya kamu mau kemana, sampai membawa tas sebesar itu?" tanya Alex, pada Intan.


"Em, boleh aku bicara dan bertanya sedikit," Karena Memang Intan masih tak percaya, lama tak ada kabar dan tiba-tiba menghilang bak di telan bumi, namun sekarang, sekarang Alex menampakkan muka tapi dengan penampilan yang berbeda.


"Memangnya apa yang kamu ingin tanyakan," ujar Alex.


"Itu, mengapa kau..." Belum sempat Intan berkata namun sudah di potong oleh Alex.


"Semenjak pertemuan terakhirku dangan Anin, dan saat itulah aku memutuskan pergi ke rumah nenekku, tapi karena Ibu meminta kembali untuk menemaninya dan Ibuku ku juga hanya seorang diri di rumah, jadilah aku pulang ke kota ini lagi, dan seperti yang kamu lihat sekarang," terang Alex.


"Dan untuk penampilanku, anggap saja ini penampilan baruku." Sambung Alex lagi.


Masih dengan sifat yang dulu, dingin dan datar, membuat Intan sedikit kikuk jika sudah berhadapan dengan manusia yang mirip kulkas.


"Apa aku boleh menyimpulkan," ucap Intan dengan hati-hati karena takut salah dalam mengartikan, karena ia masih saja tak mempercayainya begitu saja.


"Eum,"


"Apa ini ada kaitannya dengan Anin," seketika Alex menoleh ke arah lawan bicaranya dan berhenti sejenak, tapi tak begitu lama ia melajukan mobilnya kembali.


"Bisa di bilang begitu, dan bisa di bilang juga tidak."


"Ada kemungkinan jika elu frustasi dan putus asa,"


"Antara iya dan tidak,"


"Ok, berarti aku sudah berasumsi, jika elu memang ada hati dengan Anin, namun sayangnya Niko lah yang jadi pemenangnya."


"Bisa di bilang seperti itu."


"Lantas elu mau bawa gue kemana?" Karena saking penasarannya akan perubahan Alex, hingga Intan pun baru sadar jika dirinya sedang berada di jalan yang ia belum tahu.


"Eh, iya maaf, saya baru inget juga kalau kamu sedang ada acara," ternyata Alex juga melupakan jika Intan sedang terburu-buru dan membawanya berkeliling jalan tanpa bertanya akan tujuan Intan.


"Elu ngebuat perjalanan gue terhambat tau gak, Intan sangat jengkel pada Alex karena bisa-bisanya ia membawanya pergi dengan tujuan entah kemana.


" Saya kan sudah minta maaf," ucap Alex datar.


Ck..ck..

__ADS_1


Intan pun mendengus sebal, harusnya ia sudah berada di dalam bus, tapi gara-gara lelaki satu ini. Membuatnya belum juga berangkat.


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Alex lagi.


"Ke kota M, kerumahnya Niko, karena minggu depan mereka akan melangsungkan pernikahan. Jadi gue di minta Anin buat nemenin."


Ciiiiiiiiiit..


Bugh


"Auh, elu sudah gila ya!"


"Maaf, maaf saya bener-bener gak sengaja hanya saja," ucapan itu pun menggantung setelah dirinya mengerem mendadak, dan sepertinya Alex benar-benar terkejut setelah mendengar Intan menjelaskan perihal kedatangannya ke kota M.


"Terkejut,"


"Eum,"


"Ikhlaskan,berarti Anin bukan jodohmu." Sembari berkata Intan pun berpikir, betapa beruntungnya Anin, karena mendapat cinta dari dua lelaki sekaligus. Karena paras wajahnya yang cantik dan hati yang tak pernah tertutup oleh dendam meski banyak orang yang menyakitinya. Dan Intan tak bisa memungkiri itu, dan lagi pula Intan bukan lah Anin, yang bisa menjaga kehormatannya, meski pekerjaannya bisa di bilang kotor.


"Eum, ya sudah saya akan mengantarkan kamu untuk menuju ke sana, karena kebetulan saya ada acara di sana juga jadi saya bisa menumpangi mu secara gratis."


"Eum tidak, saya tetap mengantarkan kamu, berhentilah dan jangan berceloteh lagi, paham!"


Kini mereka berdua sedang menuju ke kota M. Dengan mengendarai mobil milik Alex. Entahlah Alex yang katanya ada urusan, itu semua hanya akal-akalan dia saja atau benar adanya, Intan sudah tak memikirkannya. Buktinya dirinya bisa tidur dengan suara dengkuran halus.


Sedangkan di dalam hati Alex, ada perasaan sedih bercampur bahagia.


Bahagia akhirnya Anin mendapat kebahagiaan dan sebentar lagi akan berbahagia, dan ia bersedih ternyata cintanya hanya bertepuk sebelah tangan, mencintai tanpa memiliki itu sakit. Namun sekuat hati Alex mencoba Ikhlas, jika dirinya suatu saat berjodoh pasti di pertemukan karena Alex yakin suatu saat dirinya pasti akan memilikinya meski harus dengan keadaan yang berbeda.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Sedangkan di tempat lain.


"Sayang coba gaun yang ini." Niko pun memberikan gaun pilihannya untuk di coba oleh Anin, dengan segera Anin mengambilnya dan berjalan menuju ke ruang ganti.


Tak berapa lama Anin keluar dan berniat untuk menunjukkan gaun yang ia pakai, atas pilihannya itu.


Mata Niko bagai tersihir oleh penampilan Anin yang begitu cantik meski tanpa polesan.


"Kak," panggil Anin, karena karena sedari tadi lelaki yang ada di depannya sama sekali tak merespon dan hanya melongo menatap keindahan yang berada di depan matanya.


"Eh, iya, ada apa sayang," setelah tersadar dari lamunan Niko buru-buru menimpali.


"Mas sepertinya yang ini bagus, untuk mbaknya," ucap pegawai itu.


"Iya bagaimana menurut Kakak," Lantas Anin pun setuju dengan usul pegawai itu.


"Pas, dan sangat cantik," puji Niko.


Akhirnya pilihan di jatuhkan gaun berwarna putih, dan setelan jas yang senada untuk di pakai oleh Niko.


Sempurna serta gagah itu lah yang keluar dari mulut Anin, saat Niko memakainya.


Setelah keluar dari butik, kini mereka berdua berada di CAFE. untuk sekedar melepas dahaga.


"Sayang Kakak udah gak sabar untuk segera mengucap janji suci," Senyuman manis yang ia perlihatkan membuat Anin tersipu malu, dan sukses membuat wajah semerah kepiting rebus.


"Iya Kak aku juga." Namun dari manik matanya terlihat sebuah kegusaran yang di tangkap Niko, saat dirinya memandangi wajah calon istrinya itu.


"Apa kamu gak suka dengan ini semua," entah keberanian dari mana Niko tiba-tiba saja berkata seperti itu.


"Apa maksud Kakak!" dengan nada yang kesal Anin mencoba tak memperlihatkan kegusaran yang memang sedari tadi membuatnya tak nyaman, dan dirinya menyangkal akan hal itu meski itu tuduhan yang sebenarnya.


"Karena tak ada raut kebahagiaan yang terlihat di wajahmu," ucap Niko, karena memang dirinya merasa bahwa sikap dinginnya semakin menjadi.


"Kakak salah paham, aku sangat bahagia Kak, tapi..." Perkataan yang terhenti, lalu Anin menunduk.


"Ya sudah, Kakak tidak akan bertanya lagi, dan aku tau jawaban apa yang akan kamu berikan pada kakak, Kakak juga meminta maaf karena sudah membuat kamu bertambah sedih."


Aku akan memberi kebahagiaan serta kasih sayang untuk kamu sayang, jadi aku tak akan membiarkan kamu bersedih, dan menangisi orang-orang yang tak menganggap kamu ada.

__ADS_1


Dalam batin Niko berjanji akan memberikan apa yang tak ia dapatkan dari keluarganya.


__ADS_2