Di Balik Dosa Anindiyah

Di Balik Dosa Anindiyah
BAB 86. Tanda Kepemilikan (21+)


__ADS_3

Pagi yang cerah menyambut ke dua insan yang sedang di mabuk cinta.


Pukul 6:00.


Anin yang masih memejamkan mata, dan masih terbuai oleh mimpinya. Seseorang telah mengguncang bahunya namun masih enggan untuk bangun.


Yah Anin kemarin malam begadang demi bertukar pesan dengan sahabatnya Intan, dan intan di kampung sudah hidup bahagia dengan lelaki yang mau menerima keadaan serta kekurangannya. Saat Anin mendengar kabar jika Intan hamil, Anin pun turut senang dan tentunya bahagia.


Laman-laman terdengar seseorang memanggilnya sayang, dan sedikit membuat tidurnya terganggu hingga dengan perlahan ia membuka mata.


"Ah, kau mengganggu tidurku Alex." Gerutunya pada Alex.


"Maaf sayang, tapi ada hal penting yang ingin aku sampaikan." Mendengar ada sesuatu yang penting akhirnya Anin pun bangun, dan siap untuk mendengarkannya.


"Mengapa kamu bertambah cantik jika bangun tidur," pujinya pada Anin.


"Sudah lah, pagi-pagi jangan menggoda. Jadi apa yang ingin kamu sampaikan," Anin berbicara dengan suara lesu khas orang bangun tidur.


"Pagi ini, mau ke luar kota, apa kamu ingin ikut," ucap Alex.


Sejenak Anin terdiam dan terpaku menatap Alex.


"Pergilah." Seru Anin.


"Apa kamu yakin kalau tak ingin ikut dengan ku," ujar Alex yang menawari Anin untuk ikut bersamanya.


"Jika aku ikut denganmu lalu di sini bagaimana?" tanya Anin dengan memandang wajah lelaki yang berada di hadapannya tersebut.


Sejenak Alex berpikir, jika apa yang di katakan oleh Anin ada benarnya juga.


"Baik lah kalau begitu, kamu hati-hati di rumah! Jika ada apa-apa segera lah menghubungi ku." Alex yang berbicara sambil memegang tangan Anin dengan begitu erat, seakan dirinya tak mau berpisah sedetik pun.


"Ya sudah kalau begitu, aku mau turun dan akan segera mandi, setelah itu membantumu menyiapkan keperluan yang nantinya akan kamu bawa." Ujar Anin sembari turun dari ranjangnya dan berlalu menuju ke kamar mandi.


Tak membutuhkan waktu lama, karena Anin bukan lah wanita yang mandi memakan waktu berjam- jam.

__ADS_1


"Lex, ku kira kamu sudah keluar," tegur Anin, yang masih melihat Alex berada di atas kasur.


"Aku menunggu mu sayang, apa kamu tak ingin memberiku bekal sebelum berangkat nanti," ucapan Alex sontak membuat Anin bingung, bukan kah kalau ia ingin di bawa kan bekal harusnya turun dan menunggunya di dapur.


"Apa kamu sedang bercanda Lex, kalau kamu ingin bekal harusnya menunggu di bawah enggak harus di kamar kan." Ucap Anin.


"Aku ingin cium dari kamu, apa tidak boleh?" tanya Alex pada Anin.


Cup.


"Sudah kan, sekarang keluar lah," Anin menyuruh Alex untuk keluar dari kamarnya, bukannya keluar ia malah berdiri menghampiri Anin, sejangka dua jangka, Anin sudah tak bisa lagi bergerak karena dirinya sudah mentok di tembok.


"Lex, kamu mau apa," Anin berusaha melepaskan badannya yang terkunci oleh himpitan dan badan Alex.


"Ingin sarapan." Dengan tatapan mesumnya ia berkata.


"Kamu tadi kan minta di cium." Ujar Ani dan membuang mukanya, sama sekali tak menoleh pada lawan bicaranya sama sekali.


"Lex, kamu hanya minta cium, kenapa malah sekarang kamu membuka handukku, dasar pembohong." Sungut Anin dengan wajah kesalnya.


Bau aroma lavender dari tubuh Anin, membuat Alex kecanduan. Hingga ia ingin terus menciumi bau yang terdapat di badan Anin.


"Ahhhh. Alex apa yang kamu lakukan." Anin sudah tidak tahan dengan ulah Alex yang terus saja menciumi tubuhnya, dan meninggalkan tanda kepemilikan di tubuh mulus milik Anin.


Lihat saja, kamu mengerjai ku Lex, maka aku akan membuat perhitungan dengan mu, lihat apa yang akan aku lakukan. Kini giliran Anin yang membuat tanda kepemilikan di anggota tubuh Alex, karena Ani kesal karena pagi-pagi dirinya di jadikan menu sarapan oleh Alex.


Alex yang mendapatkan sentuhan serta gigitan kenikmatan akhirnya terus menerus mendesah karena ulah Anin.


Alex yang sudah tidak tahan akhirnya pun menggendong Anin lalu di bawanya ke atas kasur. dengan cepat Alex meluncurkan aksinya dan pusaka itu telah masuk di tempat yang memang seharusnya berada.


Kamar yang semula dingin oleh AC, kini tak mempan lagi, karena AC tersebut mengalahkan panasnya surga dunia..


Acara bercocok taman pun usai, dan Alex ambruk di tubuh Anin yang sudah di penuhi oleh tanda kepemilikan.


"Makasih sayang, ingat kamu di rumah jangan nakal ya."

__ADS_1


"Sebagai penutup." Imbuh nya lagi.


Karena Alex masih bermain-main di gunung kembar milik Anin, dan memberikan gigitan-gigitan kecil di buah dada milik Anin tersebut. Membuat Anin terlihat orang yang sedang asma, karena nafasnya naik turun.


Satu jam sudah mereka berperang di atas tempat tidur hingga peluh membasahi tubuh mereka.


"Sayang ingat kamu hati-hati ya di rumah,"


"Udah berapa kali kamu ngomong, kamu kira aku anak kecil apa!" Anin tidak terima karena Alex terus saja memperingatinya, untuk berhati-hati.


"Ya sudah aku berangkat dulu ya." Pamit Alex pada Anin. Sejujurnya Alex tak tega jika membiarkan do kota ini sendirian, tapi mendengar kata-kata Anin, akhirnya ia mau tak mau harus bisa meninggalkannya.


Maaf Nin, dulu aku pernah berjanji jika aku tak akan menyentuhmu sampai kita sah di depan penghulu. Nyatanya iman ku tak sekuat nabi Adam, iman ku goyah dan aku tergoda dengan bujuk rayu setan. Maaf, setelah ini pulang dari luar kota secepatnya aku akan menikahi mu di tambah usiaku sudah tak muda lagi.


Di dalam mobil ia terus terngiang-ngiang akan dirinya yang tak kuat menahan nafsu, dirinya pria normal, pria dewasa, jadi rasa ingin pun hinggap dan masuk memenuhi isi kepalanya.


Sebelum berangkat Alex pergi ke proyek terlebih dulu, tapi ada yang aneh menurutnya.


Kenapa semua menatap saya seperti itu, dalam hati ia bertanya-tanya.


Namun sejenak aku melupakan perihal orang-orang yang menatap diriku dengan senyuman dan sebuah gelengan, sepertinya tak ada yang aneh dari diriku, lantas mengapa semua orang menatapku?.


Tak lama berjalan ia melihat temannya yang bernama Rudi, dan ini kesempatan untuk Alex bertanya perihal orang-orang tadi.


"Rud," tegur Alex.


"Baru dateng kamu?" tanya Rudi pada Alex, namun tatapan itu membuat Alex tak nyaman.


"Iya, mengapa kamu menatap ku seperti itu," ujar Alex.


"Tidak! Kemarin malam kamu habis jajan ya," ucap Rudi.


"Apa maksud kamu," Alex yang tak terima di bilang jajan oleh Rudi, dan itu membuatnya sedikit marah.


"Jaka kamu tak jajan, mana lah mungkin lehermu di penuhi oleh stempel, bukannya kamu masih bertahan menjadi bujang lapuk." Alex tak menghiraukan Rudi yang terus saja mengejeknya, untuk memastikan apa yang di katakan Rudi adalah benar, lantas Alex pun mengarahkan kamera yang ada di gawai nya lalu di arahkan tepat di lehernya.

__ADS_1


Akh..Sial, ini kerjaan Anin, bisa-bisa leherku penuh dengan tanda seperti ini. Yang mereka tahu kan saya masih bujang, pantesan semua orang pada lihatin. Gumam Alex di hatinya.


__ADS_2