
Sebulan sudah, semenjak Alex menyatakan cinta kepada Anin, dan ingin menikahinya, Alex tak ada kabar.
Ada rasa yang tertinggal, kosong jiwanya hampa hatinya. Ingin sekali Anin mengatakan 'Iya' pada laki-laki yang selalu setia pada nya. Menemaninya di saat suka mau pun duka, dia. Orang kedua setelah Niko.
Namun nyalinya terlalu ciut, untuk bisa mengungkap kan perasaanya. Jika bisa maka ia akan membalas cinta nya dan mengatakan kalau 'aku juga mencintaimu' ia juga butuh cinta, dan laki-laki yang bisa melindunginya, dan memberi seluruh cinta nya pada Anin, boleh kah seperti itu. Tentu saja! tapi keraguan dan rasa kotor telah merasuk kedalam jiwanya, sehingga Anin enggan untuk mengakui, mengakui jika Anin juga sudah bisa membuka pintu hatinya untuk Alex.
Jika ada kesempatan maka Anin akan mengakui tentang perasaannya tap, tapi akan kah di saat itu juga Alex akan menerimanya? Jika tau akan kenyataan bahwa Anin bukan lah sosok yang pantas di perjuangan?
Kalut, sedih, kecewa, dan marah. Menjadi satu, karena ingin membantu ah, lebih tepatnya bertanggung jawab akan dirinya sebagai anak. Atas paksaan bukan, itu kemauannya sendiri, jadi? siapa yang harus di salahkan dengan ini semua jawabnya tentu tak ada.
Keesokan paginya.
"Nin, elu kenapa? Apa elu lagi sakit." Intan sedari sore hingga pagi menjelang tak melihat sahabatnya keluar kamar, takut akan kenapa napa hingga dirinya langsung memasuki kamar tanpa mengetuk, dan ternyata pintu juga tak di kunci. Melihat temannya yang meringkuk di bawah selimut, memperlihatkan jika Anin sedang tak baik-baik saja.
Lalu Intan dengan sigap menyibak kan selimut nya dan terlihat badannya menggigil, lalu tangannya mengarah ke keningnya dan.
"Ya ampun Nin, elu demam tinggi. Bentar gue ambilin kompresan bentar ya." Intan meninggalkan kan Anin, untuk mengambil baskom serta watslaf atau.(kain untuk menyeka).
Dan tak berapa lama Intan pun sudah memberi pertolongan pertama, dan dirinya bergegas keluar lagi. Kali ini dirinya menuju ke dapur untuk membuat kan bubur sebelum obat penurun panas di berikan.
Sepertinya gue akan ngasih kabar ke Alex. Gumam Intan dalam hati.
Tuuut.
["Halo Lex, elu sibuk gak?"] tanya Intan.
["Gak terlalu, memangnya ada apa,"] ucap Alex penasaran.
["Elu bisa gak kesini Anin demam, jika ia tak kebanyakan mikir itu tidak akan terjadi,"] ujar Intan.
["Apa akan di terima kedatangan saya, kalau saya ke sana."] Alex menjelaskan.
["Apa maksud kamu!"] Intan yang tak tahu akar permasalahan antara Anin dan Alex, jadi bertanya-tanya. Bukan kah jika dirinya memberi kabar padanya, dengan sigap ia akan langsung datang. Karena kuatir. Terus apa ini? Mengapa Alex berbicara seperti itu. Dalam batinnya Intan menerka kalau mereka sedang ada masalah.
["Anin pernah bilang kalau tidak menampakkan muka lagi, apa itu belum cukup! Mengapa saya ngomong seperti itu."] Intan yang mendengar penuturan dari Alex, diam sejenak.
["Lex, gue yakin bukan maksud Anin berkata seperti itu, mungkin saja dirinya ingin kamu melupakannya karena suatu alasan, dan gue pernah denger dari mulut Anin, jika dirinya mulai bisa membuka hatinya lagi buat elu, tapi ia juga berkata kalau Anin tak bisa menjalaninya sama elu, yang pastinya gue gak tau karena Anin belum siap jika dirinya berkata jujur sama gue."] Setelah Intan menjelaskan semuanya, Alex dengan segera mematikan teleponnya dan dengan segera ia keluar dari ruang kerjanya untuk melihat keadaan Anin tentunya.
Tuuut..tuutt.
__ADS_1
"Ish kebiasaan banget main matiin tanpa pamit." kesal Intan.
Tak berapa lama kemudian.
Jadi juga ini bubur.
"Nin, makan dulu ya. Ini udah gue bikinin bubur buat elu," ucap Intan.
"Ntan, maaf ya gue udah sering bikin elu repot sama gue." Anin berkata dengan suara lirih.
"Elu ngomong apa sih, elu sama sekali gak ngerepotin gue kok. Udah seharusnya gue sebagai sahabat dan saudara harus bersikap seperti ini kan." Dengan menampilkan deretan giginya Intan berucap.
"Makasih ya, elu selalu ada buat gue."
Ssttt.
"Udah jangan ngomong lagi, lebih baik sekarang elu makan nih gue suapin ya." Intan menyodorkan sendok tepat di bibir pucat milik Anin, namun Anin menggeleng dan menolak suapan dari Intan.
"Nanti saja, gue masih belum lapar." Tolak Anin.
Tok.
Tok.
Tok.
Ceklek.
Deg.
Dada Anin bergemuruh tatkala siapa yang datang.
Tak berani menatap wajah pucat itu, wajah pucat itu hanya menunduk, sedangkan tatapan lelaki itu terus menjurus kepadanya dan tak berkedip.
"Ya udah, gue tinggal jemur baju dulu, kalian baik-baik lah di sini, dan jangan menimbulkan masalah di pagi hari." Seru Intan pada mereka berdua.
"A-alex,"
"Kenapa kamu terkejut, mengapa saya bisa sampai di sini, hum." Ucap Alex.
__ADS_1
"Sedikit, bukan kah ini kerjaan Intan." jawab Anin.
"Mengapa kamu harus berpura-pura padahal, padahal, Ah sudah lah." Alex tak melanjutkan ucapannya.
"Biar saya suapi dan kamu tak ada hak untuk menolak." Sanggah Alex lagi.
"Jika kamu kesini hanya untuk memaksa, lebih baik keluar lah." Ucap Anin dan sedikit pun tak mau melihat wajahnya dan memalingkannya saat dirinya berujar.
"Dasar kepala batu, dan ingat saya tidak akan meninggalkan kamu lagi," ucap Alex.
"Terserah." Anin pasrah dan tak menimpali lagi, karena kepalanya sungguh teramat sakit, dan berdenyut hebat.
Dan harapannya sekarang, jika ia akan di cabut nyawanya sekalipun dirinya akan menerima dengan senang hati. Karena hidup penuh dengan penderitaan bukan lah keinginannya.
"Anin, buka mulut mu, dengan begitu bisa segera minum obat nya, aku harap kamu gak akan menjadi seorang yang keras kepala demi ego mu untuk saat ini."
Anin lekas membuka mulut tanpa ada perdebatan lagi, suapan demi suapan terus berlanjut hingga menyisakan mangkoknya saja, dan dengan telaten Alex merawat Anin, setah menyuapinya kini ia membuka bungkus obat untuk di berikan pada Anin.
"Sekarang tidur lah, dengan begitu nanti akan terasa agak mendingan." Ucap Alex.
Begitu cepat mata Anin terpejam, masih dengan kesetiaannya Alex menunggu di sebelahnya dan mengelus lembut pucuk kepalanya.
Kali ini kamu tidak akan bisa menyangkal Nin, bahwa kamu juga sudah mulai jatuh cinta pada saya, saya harap setelah ini kamu tidak akan menolak ku lagi, untuk yang kesekian kalinya.
"Nin, apapun yang terjadi saya selalu mencintai kamu, dan akan membahagiakan kamu sepenuh hati saya. Karena hanya kamu wanita yang akan menemani saya hingga kita menua."
Drttt..
Drttt...
Alex yang duduk sambil menatap wajah yang penuh luka di hati itu, tiba-tiba di kaget kan oleh getaran gawai milik Anin, merasa penasaran Alex memberanikan diri untuk melihat.
Deg.. Sekelebat rasa benci itu datang kepada orang yang menelepon.
Drrt..
Drtt..
Lagi, untuk yang kesekian kalinya. Orang itu menghubungi.
__ADS_1