
Kini Alex dan Intan sudah hampir separuh perjalanan untuk sampai pada tujuan, namun tiba-tiba saja pikirannya terganggu oleh bayangan Anin.
Sebegitu erat hubungan persahabatan antara Anin dan Intan, sampai-sampai Intan seperti merasakan jika sesuatu sedang terjadi pada diri Anin, namun ia tak tau apa yang sebenarnya terjadi. Rasa gusar yang terlihat jelas di wajahnya, membuat Alex menyimpulkan jika Intan sedang merasakan sesuatu. Dan akhirnya Alex pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa kau ingin berhenti sejenak, untuk sekedar ke kamar mandi?" tanya Alex pada Intan.
"Tidak!"
"Lantas,"
"Entahlah, pikiranku hanya ada Anin."
"Apa maksudmu, jangan bilang kalau kau suka sejenis..." ucapan itu langsung terpotong, karena Intan merasa tak terima. Nyatanya dirinya masih normal.
"Dasar bodoh!" Umpatnya pada Alex.
"Kenapa kau senang sekali mengataiku dengan sebutan bodoh." Alex juga tak terima karena selalu di sebut bodoh.
"Kalau elu pinter mana mungkin elu berpikir sekotor itu,"
"Maaf, saya salah lagi."
"Cih, dasar." umpat Intan pada Alex.
"Memangnya apa yang kau pikirkan tentang Anin," akhirnya Alex pun penasaran dan bertanya, tentang kerisauan Intan pada Anin.
"Entah lah, tapi firasatku mengatakan bahwa ada masalah,"
"Doakan saja semoga baik-baik saja," tukas Alex.
"Oh ya, saya mau berhenti untuk sholat Ashar, apa kau ingin ikut atau menunggu di sini saja," tawar Alex.
"Makasih elu sudah nawarin ke rumah Allah, tapi gue belum bisa, jadi yah. Gue nunggu di sini." Tolak Intan halus.
"Ok baik lah."
Lalu Alex memarkirkan mobilnya yang berada di area masjid yang sudah terdapat tempat parkir lalu ia keluar untuk menjalankan ibadah.
.
.
.
Sedangkan di lain tempat.
Niko dan Anin pun yang tadinya berada di kafe, kini mereka sudah berdiri dan beranjak untuk pulang.
__ADS_1
Dengan mengendarai motor gede milik Niko, Anin melingkarkan tangannya di perut Niko, dan jika dulu Anin yang harus di paksa, kini dengan sukarela melingkarkan tangannya. Dan memeluknya dengan begitu erat, seakan tak membiarkan satu orangpun untuk mengambilnya.
Motor yang mereka kendarai tidak lah terlalu kencang, dengan sesekali melihat pemandangan di sekelilingnya. Dan menghirup udara dalam-dalam lewat celah helem yang mereka kenakan, dan menikmati terpaan angin yang terasa sejuk bagi dua insan yang saling mencintai.
Dan sesekali aku dan Kak Niko bercanda, meninggalkan beban yang tertumpu di hati sejenak, dan meninggalkan serta melupakan tentang keadaanku.
BAHAGIA?
Jelas bahagia jika orang bertanya seperti itu.
Apa ada rasa yang tertinggal.
Ya, ada.
Secarik harapan untuk aku mendapatkan kasih sayang dari mereka, andai memang ada betapa bahagianya aku. Tetapi itu hanyalah harapan semu.
"Kaaaak! awaasss."
BRAK..
DARR..
Sebuah kendaraan yang hilang kendali telah menabrak motor yang mereka tumpangi, suara yang cukup keras dan mereka sama-sama terpental cukup jauh, dan mulai lah semua orang mendekati untuk segera melihat keadaan mereka berdua yang sudah di penuhi oleh darah segar.
Aku masih bisa mendengar sedikit dari suara riuh dari para pejalan, meski mataku tak mampu untuk ku buka, dan setelah itu aku benar-benar terpejam dan tak tau apa-apa lagi.
🍀🍀🍀🍀🍀
"Kakak, kenapa kita berada di sini?" tanyaku padanya, bukan menjawab pertanyaan ku malah ia menunduk di bangku panjang yang terdapat di taman.
Aku mencoba menggoyangkan bahunya berharap Kak Niko mengangkat wajahnya dan segera menjawab pertanyaan ku.
"Sayang, maaf jika Kakak ingkar janji," dengan suara bergetar Kak Niko berkata, aku semakin bingung.
"Apa maksud Kakak!" Aku berteriak cukup kencang kepada lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suamiku.
"Jika Kakak tak berada di sampingmu, tetap lah kuat dan tetaplah menjadi Aninku seperti sekarang, dan jangan pernah berubah," aku semakin tak mengerti apa yang di katakan nya barusan.
"Sungguh aku tak mengerti," air mata ini sudah mengambil ancang-ancang dan siap untuk menghujani pipiku, namun ku mencoba untuk tak meloloskannya.
Ada rasa sesak jika calon suamiku akan benar-benar pergi meninggalkan aku seorang.
"Kakak, sayang dan selalu sayang sama kamu, karena cuma kamu yang berada di sini di hati ini, dan hanya satu nama yang terukir di hati Kakak! Yaitu kamu. Jadi jangan pernah berpikir kalau Kakak akan meninggalkan kamu."
"Lantas apa ini, kenapa Kakak ingkar, bukankah itu tandanya kalau Kakak akan pergi dari hidupku, dan lalu dengan seenaknya Kakak, memberi aku luka.
" Meski Kakak meninggalkan mu tapi tidak dengan cinta ini, atas nama cinta Kakak akan membawanya sampai mati, kita hanya berbeda alam. Jadi hiduplah secara mandiri tanpa Kakak."
__ADS_1
"Tidak! Huhuhu, Kakak gak boleh tinggalin aku, aku mau ikut. Huhuhu."
Tuhan jika ini mimpi segera bangunkan aku, tetapi jika ini semua nyata adanya mampukah aku bertahan tanpa sosok lelaki yang teramat aku cintai.
"Tidak sayang ini belum saatnya kita bersatu, mungkin di kehidupan selanjutnya kita akan bersama,"
"Enggak Kak, aku gak mau bangun supaya bisa sama-sama Kakak."
Huhuhu.. Anin terus saja menangis dan benar-benar tak mau kehilangan sosok pelindungnya itu.
"Kak Nikoo!" Setelah tersadar Anin berteriak memanggil Niko. Dan Intan menghampiri serta memeluknya untuk menguatkannya.
Melihat Anin yang menangis sesekali memanggil nama Niko, Alex berinisiatif untuk memanggil Dokter.
"Ntan dimana Kak Niko, gue mau ketemu,"
Hiks..hiks.."Mana Kak Niko jawab aku!"
Intan pun tak kuat menahan tangis, karena tak tega melihat keadaan sahabatnya yang kini hatinya hancur serta terbaring lemah.
"Kamu di periksa Dokter dulu, biar bisa bertemu dengan Niko," Intan mencoba memberi pengertian pada Anin.
"Enggak! mana Kak Niko ku, Huhuhu, mana Ntan."
Auh.. Anin dengan paksa melepas selang infus dengan paksa, karena ia ingin sekali melihat sosok lelaki yang selama ini menjadi super hero bagi Anin.
"Dokter! Tolong segera periksa teman saya." Intan yang bingung akhirnya memanggil Dokter.
Dengan langkah kaki yang sedikit berlari, Dokter itupun memeriksa dan menyuntikkan obat bius pada Anin, meski sebelumya ia berusaha berontak.
"Saya baru saja memberikan obat bius pada pasien, usahakan jangan ada yang membuatnya tertekan terlebih dulu, karena pasien masih syok berat. Ya sudah saya tinggal dulu ya, permisi."
"Baik Dok terimakasih." ucap Alex pada Dokter.
"Lex, kenapa harus Anin yang harus merasakan seperti ini, jika dia tau bahwa Niko di ruangan ICU, berjuang untuk hidup, betapa hancur hatinya. Gue gak sanggup Lex, gue gak sanggup kalau harus melihat Anin syok dan hancur."
Intan terus saja meraung, menangisi sahabatnya, begitu berat beban Anin, tetapi sekarang bertambah lagi beban yang silir menghampirinya.
"Kamu yang tenang ya, jika kamu bersedih kasian Anin." Alex pun berusaha menenangkan Intan walau sejujurnya Alex merasa terpukul atas semua yang terjadi.
Tak berapa lama datanglah Bu Indah, dengan wajah yang sembab iya berusaha kuat, meski hatinya rapuh. Kalah melihat anak lelaki satu-satunya harus menanggung kesakitan yang amat luar biasa.
"Nak Intan bagaimana keadaan Anin?"
"Anin, Anin baru saja sadar dan memanggil Niko Tante, tapi Dokter terpaksa menyuntikkan obat bius lagi karena sempat mencabut infus, dan berusaha berontak demi ingin bertemu dengan Niko."
"Semoga Anin kuat, dan Tante mohon doanya supaya Niko bisa bangun lagi."
__ADS_1
Sambil memeluk erat tubuh Bu Susi, Intan mencoba menguatkan, meski dirinya pun sebetulnya tak mampu untuk menjadi kuat.
"Niko berjuang di sana sendirian, Tante gak mau kehilangan Niko Ntan, Ibu gak sanggup Ibu gak kuat." Bu Susi tak mampu membendung tangisnya, di dalam pelukan Intan ia menangis sejadi-jadinya.